Memahami Syarat-syarat Wudhu

0
12886

BincangSyariah.Com – Wudhu memiliki syarat-syarat yang musti terpenuhi. Yang mana jika tidak terpenuhi, maka akan mempengaruhi ke-sah-an wudhu tersebut.

Salim bin Samir Al-Hadrami merangkum dalam Safinatun Najah. Ada sepuluh syarat– syarat wudhu, sebagaimana berikut.

شروط الوضوء عشرة: الإسلام، التمييز، والنقاء عن الحيض والنفاس، وعما يمنع وصول الماء إلى البشرة، وأن يكون على العضو ما يغير الماء الطهور، ودخول الوقت والموالات لدئم الحدث

Pertama, Islam. Sehingga secara syariat wudhu orang yang bukan islam tidak sah. Sebab non-muslim tidak dibebani kewajiban melakukan shalat dan lain-lainnya yang mengharuskan ia suci dari hadas.

Kedua, Tamyiz (cukup umur dan ber’akal). Saat seorang anak mencapai umur tamyiz ia mulai dibebani dengan kewajiban-kewajiban seperti shalat dan lainya, sehingga otomatis wudhu yang merupakan salah satu media bersuci menjadi hal yang wajib dilakukan anak yang menginjak umur tamyiz. Umur tamyiz menurut mayoritas ulama’ adalah 7 tahun

Ketiga, Suci dari haidh dan nifas yang merupakan hadas besar. Tidak sah bersuci dengan tetapnya hadats tersebut. Ini selagi wanita tersebut dalam keadaan haid atau nifas.

Keempat, Lepas dari segala hal dan sesuatu yang bisa menghalangi sampai air ke kulit. Seperti memakai kuteks dan lainnya.

Lima, Tidak ada sesuatu di salah satu anggota wudhu` yang dapat merubah keaslian atau kemutlakan air. Jika anggota wudhu melekat sesuatu yang najis hendaknya dihilangkan terlebih dahulu.

Enam, Mengetahui bahwa hukum wudhu` tersebut adalah wajib. Sebab wudhu merupakan syarat sah bagi ibadah yang menuntut kesucian dari hadas-hadas kecil.

Tujuh, Tidak boleh beri`tiqad (berkeyakinan) bahwa salah satu dari fardhu–fardhu wudhu` hukumnya sunnah (tidak wajib).

Delapan, Kesucian air wudhu. Air yang dugunakan untuk wudhu mesti suci mensucikan dan air yang boleh digunakan baik milik pribadi atau umum. Bukan air Ghashab. (Kriteria Air Mutlak yang Dianjurkan Digunakan untuk Bersuci)

Baca Juga :  Hukum Makan dan Minum saat Tawaf

Sembilan, Masuk waktu sholat. masuk waktu shalat yang dikerjakan bagi yang selalu berhadas. Oleh karena itu, disyaratkan baginya melakukan wudhu setelah masuk waktu shalat. Bagi yang tidak punya penyakit beser (daimul hadats), maka baginya diperbolehkan wudhu sebelum azan berkumandang. Misalnya, ketika jam 11 siang sudah wudhu dan belum batal sampai azan Zuhur berkumandang, maka orang itu tidak perlu wudhu lagi

Sepuluh, Muwalat atau terus menerus maksudnya basuhan antara anggota wudhu tidak boleh terlalu lama, atau minimal sebelum kering basuhan sebelumnya. Dua syarat terakhir ini khusus untuk da`im al-hadats atau orang yang selalu hadas seperti beser dan istihadoh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here