BincangSyariah.Com – Secara bahasa, kata “bersuci” sering sekali disepadankan dengan kata “Thaharah” yang terdapat dalam bahasa Arab. Thaharah / bersuci, menurut ahli bahasa bermakna bersih dari kotoran, baik kotoran tersebut dapat dilihat oleh mata, seperti kotoran manusia, dll, ataupun kotoran yang tidak kasat mata, seperti sifat dengki, iri hati, dll.

Sedangkan, ahli Fiqih menafsirkan kata “ Thaharah” kepada beberapa tafsiran yang berbeda. Setidaknya, ada 3 sudut pandang penafsiran yang berbeda yang digunakan ahli Fiqih dalam menafsirkan kata Thaharah ini.

Pertama, melihat thaharah dari sudut pandang perbuatan. Kedua, dari sudut pandang hasil dari sebuah perbuatan. Ketiga, dari sudut pandang perbuatan dan hasil dari perbuatan tersebut.

Imam al-Qadhi Husain mendefenisikan Thaharah dari sudut pandang hasil dari sebuah perbuatan/pekerjaan. Thaharah yaitu hilang/terangkat sesuatu dari hadas dan najis yang dapat mencegah/membatalkan shalat, atau ibadah-ibadah lain yang butuh pada kesucian badan.

Dari sudut pandang yang sama, Imam Nawawi mendefenisikan thaharah sebagai berikut : Thaharah ialah hilang atau terangkatnya hadas atau Najis.

Sedangkan Imam Ibnu Hajar memberikan defenisi Thaharah melalui sudut pandang sebuah perbuatan/pekerjaan. Beliau mengatakan bahwa Thaharah adalah memperbuat sesuatu yang dapat menghasilkan hukum boleh (seperti boleh shalat, memegang al-Quran, dll).

Referensi : kitab Hasyiah al-Bajuri, karya Ibrahim al-Bajuri.

Baca Juga :  Jumlah Basuhan Saat Berwudhu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here