Melihat Lawan Jenis dengan Syahwat, Apakah Kita Harus Wudu?

0
588

BincangSyariah.Com – Syahwat merupakan tabiat alami dalam diri manusia. Dalam kondisi tertentu, syahwat ini bangkit, seperti melihat hal-hal sensual, baik langsung maupun melalui media sosial atau lainnya. Ketika seseorang melihat dengan syahwat, apakah harus wudu?

Melihat dengan syahwat tidak membatalkan wudu. Namun ketika ada seseorang melihat sesuatu dengan syahwat, baik langsung maupun melalui media sosial atau lainnya, maka dia disunahkan untuk melakukan wudu, meskipun dia dalam keadaan punya wudu. Dia disunahkan untuk memperbarui wudunya, meskipun wudu yang pertama tidak batal.

Syaikh Zainudin al-Malibari menyebutkan dalam kitab Fathul Mu’in bahwa melihat dengan syahwat termasuk perkara yang menyebabkan seseorang disunahkan melakukan wudu. Beliau berkata;

نعم يندب الوضوء من مس نحو العانة وباطن الألية والانثيين وشعر نبت فوق ذكر وأصل فخذ ولمس صغيرة وأمرد وأبرص ويهودى ومن نحو فصد ونظر بشهوة ولو الا محرم وتلفظ بمعصية وغضب وحمل ميت ومسه وقص ظفر وشارب وحلق رأسه

“Iya, disunahkan melakukan wudu sebab menyentuh rambut kemaluan perempuan, menyentuh bagian dalam pantat, menyentuh 2 pelir, menyentuh rambut yang tumbuh di atas kemaluan laki-laki, menyentuh pangkal paha, menyentuh anak perempuan yang masih kecil, menyentuh amrod atau cowok ganteng, menyentuh orang yang terkena penyakit lepra, menyentuh orang Yahudi, setelah berbekam, melihat dengan syahwat meski pada mahramnya, mengatakan perkara maksiat, marah, membawa jenazah, menyentu jenazah, memotong kuku, memotong kumis, mencukur rambut kepala.”

Melihat dengan syahwat termasuk perbuatan dosa dan maksiat, meskipun tidak membatalkan wudu. Oleh karena itu, ketika seseorang melihat dengan syahwat, dia disunahkan wudu agar dosa dan maksiatnya diampuni oleh Allah. Karena salah satu fungsi wudu adalah menghapuskan dosa dan maksiat. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Nabi saw bersabda;

Baca Juga :  Hukum Lupa Tidak Membaca Surah Ketika Salat

مَا مِنْكُمْ رَجُلٌ يُقَرِّبُ وَضُوءَهُ فَيَتَمَضْمَضُ، وَيَسْتَنْشِقُ فَيَنْتَثِرُ إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا وَجْهِهِ، وَفِيهِ وَخَيَاشِيمِهِ، ثُمَّ إِذَا غَسَلَ وَجْهَهُ كَمَا أَمَرَهُ اللهُ، إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا وَجْهِهِ مِنْ أَطْرَافِ لِحْيَتِهِ مَعَ الْمَاءِ، ثُمَّ يَغْسِلُ يَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ، إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا يَدَيْهِ مِنْ أَنَامِلِهِ مَعَ الْمَاءِ، ثُمَّ يَمْسَحُ رَأْسَهُ، إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا رَأْسِهِ مِنْ أَطْرَافِ شَعْرِهِ مَعَ الْمَاءِ، ثُمَّ يَغْسِلُ قَدَمَيْهِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ، إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا رِجْلَيْهِ مِنْ أَنَامِلِهِ مَعَ الْمَاءِ

“Tidak ada seorang pun di antara kalian yang mendekatkan air wudu kemudian dia berkumur, memasukkan air ke hidungnya dan mengeluarkannya kecuali akan berjatuhan kesalahan-kesalahan wajahnya, kesalahan-kesalahan mulutnya dan kesalahan-kesalahan hidungnya. Jika dia mencuci wajahnya sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah, kesalahan-kesalahan wajahnya akan berjatuhan bersama tetesan air dari ujung jenggotnya. Kemudian mencuci kedua tangannya sampai siku, kecuali kesalahan-kesalahan tangannya akan berjatuhan bersama air lewat jari-jemarinya. Kemudian jika ia mengusap kepala, maka kesalahan-kesalahan kepalanya akan berjatuhan melalui ujung rambutnya bersama air. Lalu jika dia mencuci kakinya sampai mata kaki, maka kesalahan kedua kakinya akan berjatuhan melalui jari-jari kakinya bersama tetesan air.”



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here