Masih Pakai Henna, Apakah Boleh Langsung Shalat?

4
834

BincangSyariah.Com – Saat ini banyak kalangan perempuan yang melukis dan memperindah tangannya dengan memakai henna. Tidak hanya perempuan yang hendak menikah atau sudah bersuami, namun perempuan remaja, terutama di kalangan santri putri, banyak yang memakai henna ini. Lantas ketika perempuan masih pakai henna, apakah dia boleh langsung shalat?

Mengenai masalah ini, perlu ditinjau dan diperhatikan terlebih dahulu apakah perempuan yang masih pakai henna tersebut sudah punya wudhu atau tidak. Jika perempuan yang masih pakai henna tersebut sudah punya wudhu atau suci dari hadas besar dan kecil, maka dia boleh langsung shalat, tanpa menghapus hennanya terlebih dahulu. (Baca: Hukum Wudhu Wanita yang Memakai Kutek)

Adapun hukum hennanya sendiri, lazimnya ia berbahan daun pacar dan cara pemakainnya ditempelkan pada kuku. Ia tidak ada campuran bahan najis atau haram sehingga meskipun dibawa shalat, maka shalatnya tetap sah asalkan sudah punya wudhu.

Namun jika belum punya wudhu, maka dia tidak boleh langsung shalat, melainkan dia harus melakukan wudhu terlebih dahulu. Hal ini karena shalat tidak sah kecuali dia sudah suci dari hadas kecil dengan cara berwudhu, dan juga suci dari hadas besar dengan cara mandi besar.

Adapun mengenai keabsahan wudhu perempuan yang memakai henna, maka selama henna tidak menghalangi sampainya air pada anggota wudhu, maka wudhunya dinilai sah. Namun jika menghalangi, maka tidak sah. Ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu berikut;

إذَا كَانَ عَلَى بَعْضِ أَعْضَائِهِ شَمْعٌ أَوْ عَجِينٌ أَوْ حِنَّاءٌ وَأَشْبَاهُ ذَلِكَ فَمَنَعَ وُصُولَ الْمَاءِ إلَى شَيْءٍ مِنْ الْعُضْوِ لَمْ تَصِحَّ طَهَارَتُهُ سَوَاءٌ أَكَثُرَ ذَلِكَ أَمْ قَلَّ وَلَوْ بَقِيَ عَلَى الْيَدِ وَغَيْرِهَا أَثَرُ الْحِنَّاءِ وَلَوْنُهُ دُونَ عَيْنِهِ أَوْ أَثَرُ دُهْنٍ مَائِعٍ بِحَيْثُ يَمَسُّ الْمَاءُ بَشَرَةَ الْعُضْوِ وَيَجْرِي عَلَيْهَا لَكِنْ لَا يَثْبُتُ صَحَّتْ طَهَارَتُهُ

Baca Juga :  Klasifikasi Niat Puasa

Jika pada anggota tubuh seseorang terdapat minyak, tepung, henna, atau lainnya dan mencegahnya sampainya air pada anggota tubuh tersebut, maka bersucinya tidak sah, baik hal itu banyak atau sedikit. Jika yang tersisa pada tangan dan lainnya hanya bekas dan warna henna, bukan bendanya, atau bekas minya yang cair, dan air menyerap pada kulit dan mengalir di atasnya, maka bersucinya dinilai sah.

4 KOMENTAR

  1. […] Terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama mengenai hukum memakai henna bagi perempuan ketika sedang berhaji atau sedang melakukan ihram haji. Menurut ulama Hanabilah, boleh bagi orang yang berhaji, baik laki-laki maupun perempuan, memakai henna di seluruh badan selain kepala. Adapun memakai henna di kepala, maka tidak boleh karena dianggap bisa menutup kepala, sementara menutup kepala ketika ihram haji tidak boleh. (Baca: Masih Pakai Henna, Apakah Boleh Langsung Shalat?) […]

  2. […] Terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama mengenai hukum memakai henna bagi perempuan ketika sedang berhaji atau sedang melakukan ihram haji. Menurut ulama Hanabilah, boleh bagi orang yang berhaji, baik laki-laki maupun perempuan, memakai henna di seluruh badan selain kepala. Adapun memakai henna di kepala, maka tidak boleh karena dianggap bisa menutup kepala, sementara menutup kepala ketika ihram haji tidak boleh. (Baca: Masih Pakai Henna, Apakah Boleh Langsung Shalat?) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here