Manfaat dan Keutamaan Berdoa

3
4074

BincangSyariah.Com – Berdoa kepada Allah merupakan salah satu amal ibadah. Sebagai hamba Allah, kita dituntut untuk selalu berdoa dalam setiap hal yang kita kerjakan. Kita diperintah untuk mengawali suatu pekerjaan dengan berdoa terlebih dulu, dan mengakhirinya juga dengan berdoa.

Ketika dalam keadaan senang atau keadaan sulit, berdoa tetap harus terus dilakukan dalam setiap saat. Dalam sebuah hadis riwayat al-Tirmidzi, Nabi Saw bersabda:

مَنْ سَـرَّهُ أَنْ يَسْتَجِيْبَ الله لَهُ عِنْدَ الشَّدَائِدِ فَلْيُكْثِرْ مِنَ الدُّعَاءِ فِى الرَّخَاءِ

“Barang siapa yang senang dikabulkan Allah ketika dalam kesusahan maka hendaknya ia memperbanyak do’a dalam waktu senang”

Dalam hadis lain riwayat al-Tirmidzi dan Ibnu Hibban, Nabi Saw bersabda:

لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللهِ مِنَ الدُّعَاءِ فِى الرَّخَاءِ

Tiada sesuatu yang lebih mulia bagi Allah melebihi do’a di waktu senang”

Selain itu, Allah akan mengabulkan setiap permohonan orang yang berdoa kepada-Nya. Ada tiga cara Allah mengabulkan doa dan ketiganya baik bagi kondisi orang yang berdoa, baik dia mengerti atau tidak. Dalam sebuah hadis riwayat al-Imam Ahmad, Nabi Saw bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُوْ بِدَعْـوَةٍ لَيْسَ فِيْهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيْعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ الله إِحْـدَى ثَلاَثٍ : إِمَّا أَنْ يُعَجَّلَ لَهُ بِدَعْـوَتِهِ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِـرَهَا لَهُ فِى الْلآخِرَةِ وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّـوْءِ مِثْلِهَا , قَالُوْا : إِذًا نُكْثِرُ , قَالَ : ألله أَكْثَرُ

Tiada seorang muslim yang berdo’a yang di dalamnya tidak ada dosa dan tidak ada pemutusan kerabat kecuali Allah memberinya salah satu di antara tiga hal; 1)segera memberikan permintaannya, 2) menyimpan untuknya di akhirat, dan 3) ada kalanya memalingkan keburukan darinya yang sepadan do’a itu.  Para sahabat bertanya: ‘Kalau begitu kami memperbanyak berdo’a.’ Nabi Saw bersabda: Allah lebih banyak (memberikan kebaikan).”

Dalam hadis ini, Nabi Saw menyebutkan tiga kebaikan yang akan diberikan Allah bagi orang yang berdoa; permohonannya dikabulkan, akan diberikan di akhirat, atau doa tersebut dapat menghalangi turunnya bencana dan keburukan yang akan menimpanya.

Baca Juga :  Adakah Pahala Saat Mendengarkan Rekaman Al-Qur’an?

Sayyid Muhammad al-Maliki dalam kitabnya Ma Dza Fi Sya’ban menjelaskan, doa dapat menolak dan mengatasi bencana, menghalangi turunnya bencana dan menghilangkannya, atau meringankan bencana jika terlanjur turun.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bagaimana doa dapat menolak, meringankan atau menghilangkan bencana:

Pertama, doa lebih kuat dari bencana. Dalam kondisi ini doa bisa menolak bencana.

Kedua, doa lebih lemah dari bencana dan bencana lebih kuat dari doa.  Dengan kondisi demikian, seorang hamba akhirnya tertimpa bencana tetapi doa masih bisa meringankan bencana tersebut meski lemah.

Ketiga, doa dan bencana seimbang sehingga satu sama lain saling menolak. Kendati demikian terkadang pengaruh doa terlambat. Hal ini terjadi karena status doa lebih lemah daripada bencana oleh sebab-sebab tertentu, bisa karena doanya tidak disukai Allah, atau karena sebab kelemahan hati dan ketiadaan konsentrasi menghadap kepada Allah ketika  berdoa.

Dalam keadaan seperti ini doa laksana busur yang sangat lembek sehingga  anak panah yang meluncur darinya pun lemah. Dalam kitab al-Mustadrak al-Imam Hakim dari Abu Hurairah dari Nabi Saw bersabda:

أُدْعُوا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوْقِنُوْنَ بِاْلإِجَابَةِ . وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ لاَ يَسْتَجِيْبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ

“Berdo’alah kalian kepada Allah seraya meyakini pasti dikabulkan. Dan ketahuilah bahwa Allah tidak menerima do’a dari orang yang hatinya lalai dan lupa.”

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here