Ketika Mandi Wajib, Apakah Lubang Hidung Wajib Dibasuh?

0
45

BincangSyariah.Com – Terdapat seseorang yang bertanya mengenai hukum membasuh lubang hidung saat mandi wajib. Pasalnya ketika mandi wajib, terkadang dia membasuh dan membersihkan lubang hidungnya dengan air, namun terkadang tidak. Sebenarnya, bagaimana hukum membasuh dan membersihkan lubang hidung ketika mandi wajib, apakah wajib? (Baca: Kentut di Tengah Atau Setelah Mandi Junub, Apakah Mandi Harus Diulang?)

Dalam kitab-kitab fiqih disebutkan bahwa ada dua rukun yang wajib dipenuhi ketika seseorang mandi wajib. Pertama, niat menghilangkan hadas besar dan kedua meratakan air ke seluruh tubuh bagian luar (dzahirul badan), tak terkecuali rambut dan bulu-bulunya, tebal maupun tipis.

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Safinatun Najah berikut;

فروض الغسل اثنان النية وتعميم البدن بالماء

Fardu atau rukunnya mandi ada dua, yakni niat dan meratakan air ke seluruh tubuh.

Menurut Syaikh Abu Bakr Syatha, kewajiban meratakan air ke seluruh tubuh bagian luar ini disebabkan karena hadas mengenai seluruh tubuh. Sehingga jika ada bagian tubuh yang tidak terkena air, maka hadas di bagian tubuh itu tidak hilang. Syaikh Abu Bakar Syatha dalam kitab I’anatut Thalibin berkata sebagai berikut;

وإنما وجب تعميمه لما صح من قوله صلى الله عليه وسلم أما أنا فيكفيني أن أصب على رأسي ثلاثا ثم أفيض بعد ذلك على سائر جسدي ولأن الحدث عم جميع البدن فوجب تعميمه بالغسل

Kewajiban meratkan air ke seluruh tubuh berdasarkan hadis shahih, Nabi Saw bersabda; Adapun aku, cukup bagiku menuangkan air sebanyak 3 kali di atas kepalaku, kemudian aku menuangkannya setelah itu ke seluruh tubuhku. Juga karena hadas itu mengenai seluruh tubuh secara merata sehingga wajib diratakan dengan air melalui basuhan.

Baca Juga :  Mengangkat Tangan ketika Berdoa

Adapun tubuh bagian dalam, seperti lubang hidung, mulut, dan mata bagian dalam, maka hukumnya tidak wajib dibasuh dengan air. Oleh karena itu, jika lubang hidung tidak dibasuh dan dibersihkan saat mandi wajib, baik sengaja maupun karena lupa, maka hal itu tidak masalah dan mandinya tetap dinilai sah.

Ini sebagaimana telah disebutkan dalam kitab Hasyiah Al-Bujairimi berikut;

قَوْلُهُ (لَا تَجِبُ مَضْمَضَةٌ إلَخْ) أَيْ لِأَنَّ مَحَلَّهُمَا لَيْسَ مِنْ الظَّاهِرِ وَإِنْ انْكَشَفَ بَاطِنُ الْفَمِ وَالْأَنْفِ بِقَطْعِ سَاتِرِهِمَا

Redaksi ‘tidak wajib berkumur dan seterusnya’ maksudnya adalah karena tempat keduanya (mulut dan lubang hidung) bukan termasuk tubuh bagian luar meski bagian dalam mulut dan hidung terbuka karena organ penutupnya terputus.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here