Makan dan Minum dalam Keadaan Lupa saat Puasa

0
5521

BincangSyariah.Com – Puasa secara syara adalah menahan diri dari mengerjakan hal-hal yang dapat membatalkan puasa dengan niat tertentu. Salah satu hal yang membatalkan puasa adalah makan dan minum.

Namun terkadang di antara umat Islam ada yang tidak sadar lupa makan atau minum dengan santainya, padahal sudah berniat puasa. Lantas bagaimanakah hukum makan dan minum dalam keadaan lupa saat puasa? Berikut penjelasannya.

Allah Swt. sangatlah murah terhadap hamba-Nya. Dia tidak pernah menyulitkan, bahkan senantiasa memudahkan hamba-hamba-Nya dalam urusan ibadah.

Salah satu kemurahan yang Allah Swt. berikan kepada hamba yang lupa saat puasa adalah dengan menoleransinya, yakni puasanya tidak batal dan ia tidak perlu mengganti, serta tidak ada kafarat baginya.

Makanan dan minuman yang ia telan ketika puasa dengan tidak sengaja tersebut merupakan bonus dari Allah Swt. Toh sifat lupa juga pemberian dari Allah Swt. Tetapi setelah ia ingat, ia harus meneruskan kembali puasanya.

Hal tersebut berdasarkan hadis Nabi Saw. dari Abu Hurairah yang telah meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda

مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

“Siapa lupa di saat berpuasa makan atau minum maka hendaknya ia sempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah lah yang memberikan ia makan dan minum.” (Muttafaqun Alaih).

Sedangkan Imam al Hakim juga memiliki riwayat yang sama dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda

مَنْ أفْطَرَ فِيْ رَمَضَانَ نَاسِيًا فَلاَ قَضَاءَ عَلَيْهِ وَلاَ كَفَارَةَ .

“Siapa yang berbuka di bulan Ramadhan karena lupa, maka tidak ada qadha dan kafarat baginya.”

Meskipun di dalam hadis sudah dijelaskan hukum puasanya bagi orang yang lupa makan dan minum tidak membatalkan puasa dan tidak ada qadha serta kafarat, namun di kalangan madzhab empat terjadi perbedaan ijtihad atas teks hadis tersebut sebagaimana yang termaktub dalam kitab Ibanatul Ahkam (juz. 2, h. 305 Darul Fikr Beirut) karya Hasan Sulaiman An Nuri dan Alawi Abbas al Maliki.

Baca Juga :  Anjuran Melakukan Takziyah

Menurut imam As Syafi’i dan Abu Hanifah, Bagi orang yang lupa makan, minum atau jimak di saat berpuasa, maka puasanya tidak batal dan tidak ada tanggungan apapun untuknya.

Sedangkan menurut imam Ahmad, bagi orang yang lupa jimak di siang hari puasa maka baginya wajib meng-qadha puasa dan membayar kafarat, tetapi bagi orang yang lupa makan dan minum tidak ada denda apa pun baginya.

Sementara menurut imam Malik, bagi orang yang lupa makan, minum atau melakukan hal-hal yang membatalkan puasa lainnya, maka ia wajib meng-qadha puasanya, tanpa perlu membayar kafarat karena puasanya tetap tidak sah.

Hal ini di-qiyas-kan oleh imam Malik dengan shalat, misalnya seseorang meninggalkan satu rakaat shalatnya karena lupa, maka hal itu dapat merusak shalat. Begitu pula dengan puasa, karena rukun puasa adalah meninggalkan hal-hal yang dapat membatalkan, maka jika dilanggar meskipun lupa dapat merusak keabsahan puasanya.

Demikianlah hukum bagi yang makan dan minum karena lupa saat berpuasa adalah boleh, yakni tidak membatalkan puasanya meskipun makanan atau minuman yang ia minum banyak. Dan tidak wajib baginya untuk meng-qadha dan membayar kafarat.

Ini karena Islam agama yang toleran terhadap umatnya serta tidak memberatkan. Tetapi dengan catatan lupa yang dialami orang yang berpuasa tersebut bukan modus atau pura-pura.

Wa Allahu A’lam bis Shawab.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here