Macam-macam Thawaf dan Hukumnya

0
6313

BincangSyariah.Com – Thawaf berarti mengelilingi, maksudnya mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran, dimulai dan diakhiri pada arah sejajar Hajar Aswad, dimana posisi Ka’bah harus berada di sebelah kiri orang yang thawaf (muthawwif).

Sulaiman Fahad dalam Nihayatul Mathaf menjelaskan bahwa melaksanakan thawaf merupakan bukti keimanan seorang hamba kepada Rabb-nya dalam melaksanakan syariat-syairat yang diperintahkan sebagaimana firman Allah dalam QS. AL-Hajj; 26. Adapun hikmah disyariatkan thawaf adalah untuk mengingat kebesaran Allah Swt dan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Sebagaimana dikatakan dalam sebuah hadis riwayat Aisyah:

عن عائشة رضي الله عنها قالت قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إنما جعل الطواف بالبيت وبين الصفا والمروة ورمي الجمار لإقامة ذكر الله

Dari Sayyidah Aisyah Ra, Rasulullah Saw berkata, “Sesungguhnya mengelilingi ka’bah, (lari-lari kecil) antara shafa dan marwa dan melempar jumrah didirikan untuk mengingat Allah.” (HR. Abu Dawud)

Ada empat jenis thawaf yang dilakukan jamaah haji, sebagai berikut;

Pertama. Thawaf Qudum yaitu thawaf yang dilakukan oleh jamaah haji ketika pertama kali datang ke Makkah sebagai penghormatan terhadap Baitullah. Kecuali Imam Malik, hukum melaksanakan thawaf qudum adalah sunnah menurut mayoritas ulama, karena ia seperti shalat tahiyatul masjid yang sunah dikerjakan saat pertama memasuki masjid.

Kedua. Thawaf Ifadah yaitu thawaf rukun haji yang dilakukan pada hari tasyrik. Ini disebut juga thawaf haji yang wajib dilakukan semua jamaah haji.

Ketiga. Thawaf Sunah yaitu thawaf yang bisa dilakukan kapan saja tergantung kemauan jamaah haji. Thawaf sunnah ini sangat dianjurkan dilakukan untuk mendapatkan keutamaan haji dan umrah.

Keempat. Thawaf Wada’ yaitu thawaf yang dilakukan sebelum jamaah haji meninggalkan Makkah sebagai bentuk penghormatan terakhir sebelum pulang. Terdapat dua pendapat mengenai hukum melaksanakan thawaf wada’. Mayoritas ulama berpendapat thawaf ini wajib dan denda bagi yang meninggalkan kecuali bagi perempuan yang haid. Berdasarkan hadis riwayat Ibnu Abbas berikut

عن ابن عباس رضي الله عنهما أنه قال:أمر الناس أن يكون آخر عهدهم بالبيت إلا أنه خفف عن الحائض

Dari Ibnu Abbas, berkata, “Sesungguhnya beliau memerintahkan orang-orang agar terakhir kali amalannya adalah (thawaf) di baitullah, kecuali beliau memberikan keringanan terhadap perempuan haid.” (HR. Bukhari& Muslim)

Sebaliknya Imam Malik dan salah satu pendapat Imam Syafi’i, berpendapat bahwa berdasarkan hadis ini menunjukkan kesunnahan thawaf wada. Sebab jika wajib tidak mungkin Rasulullah memberikan keringanan kepada perempuan yang haid. Wallahu’alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here