Macam-macam Puasa yang Diharamkan

3
30510

BincangSyariah.Com – Ramadan adalah bulan diwajibkannya bagi umat muslim untuk menjalankan puasa. Tetapi di bulan selain Ramaan terdapat waktu-waktu yang justru diharamkan untuk melaksanakan puasa. Kapan dan apa sajakah puasa yang diharamkan itu? Imam Zakariya al Anshari di dalam kitab Attahrir telah menjelaskan macam-macam puasa yang diharamkan.

Pertama, puasa dua hari raya (Idulfitri dan Iduladha). Abi Sa’id al Khudri ra. berkata: “Bahwasannya Rasulullah saw. melarang puasa di dua hari, hari (idul) fitri, dan hari kurban.” Muttafaqun ‘Alaih.

Kedua, puasa di hari-hari tasyrik (11,12,13 Dzulhijjah). Meskipun ia termasuk orang yang  melaksanakan haji tamatu. Karena imam Muslim meriwayatkan suatu hadis Nabi Saw., “hari-hari tasyrik adalah hari hari makan, minum dan mengingat Allah.”

Ketiga, puasanya wanita haid dan nifas. Sebagaimana kesepakatan ulama’ atas keharaman puasa bagi mereka.

Keempat, puasa di hari syak (diragukan). Yakni tanggal 30 Sya’ban, jika orang-orang telah membicarakan melihat hilal, baik belum ada salah satu orang yang menyaksikannya atau sudah ada yang menyaksikannya dari sejumlah anak-anak kecil, hamba sahaya atau orang fasiq.

Ammar berkata,“siapa yang puasa di hari yang diragukan, maka sungguh ia telah mengingkari Abul Qasim (Nabi Saw.). hadis ini diriwayatkan oleh imam Al Tirmidzi dan lainnya, serta mereka menganggap benar atas keharaman puasa di hari itu.

Namun keharaman puasa di hari yang diragukan ini jika tidak ada sebabnya. Jika ada sebabnya, seperti ia masih memiliki tanggungan puasa, atau bertepatan di hari yang biasanya ia lakukan berpuasa, maka tidak haram baginya melakukan puasa. Bahkan bisa wajib (puasa nazar atau qadha) atau sunah (Senin-Kamis), seperti halnya illat shalat di waktu-waktu yang dimakruhkan (yakni boleh shalat qadha di waktu yang dilarang).

Baca Juga :  Menjadi Imam, Ini Sembilan Syarat Sahnya

Kelima, puasa separuh dari bulan Sya’ban. Karena terdapat hadis Nabi Saw. yang melarangnya. Rasulullah saw. bersabda, “jika masih separuh dari bulan Sya’ban, maka janganlah berpuasa.” (HR. Al Tirmidzi, dan beliau menilai ini hadis yang hasan shahih).

Namun pelarangan puasa di separuh yang kedua dari bulan Sya’ban ini mengecualikan bagi orang yang telah menyambungnya dengan berpuasa di hari-hari sebelumnya, atau puasanya karena ada sebab, seperti puasa qadha atau bertepatan di hari yang ia sudah biasa melaksanakannya. Jika begitu, baginya tidak haram, bahkan bisa wajib atau sunah puasa di hari tersebut.

Wa Allahu A’lam bis Shawab.

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here