Lupa Tasyahud Awal Saat Salat, Apa yang Harus Dilakukan?

3
19182

BincangSyariah.Com – Sebagai rukun Islam yang kedua, salat merupakan pondasi penting dalam agama Islam. Salat adalah amalan pertama yang akan dipertanyakan tanggung jawabnya pada hari kiamat. Sebagaimana Nabi Muhammad Saw. bersabda:

إن أول ما يحاسب به العبد يوم القيامة من عمله صلاته، فإن صلحت فقد أفلح وأنجح، وإن فسدت فقد خاب وخسر، فإن انتقص من فريضتهً قال الرب: انظروا هل لعبدي من تطوع، فيكمل بها ما انتقص من الفريضة؟ ثم يكون سائر عمله على ذلك” رواه الترمذي

 “Amalan hamba yang pertama kali dihisap pada hari kiamat adalah Salat. Kalau salatnya baik maka beruntunglah ia. Jika salatnya tidak baik maka merugikan ia. Jika Salat Fardu telah dihisap, Tuhan akan berkata, “periksalah apakah hamba ini punya amalan sunah? Sehingga amalan Sunnahnya itu bisa menyempurnakan Salat fardunya?,” Setelah itu baru amalan-amalan lain mulai dihisap” (HR. Tirmidzi).

Karena sangat pentingnya salat, Nabi Muhammad Saw. Seringkali menjelaskan kepada bara sahabatnya bgaimana cara Salat yang baik dan benar itu. Tak hanya melalui penjelasan secara lisan, beliau juga tak segan mempraktekkannya dan menyuruh para sahabat mengikuti persis seperti yang beliau lakukan. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan lainnya ini:

“صلوا كما رأيتموني أصلي”

“Salatlah sebagaimana kalian melihatku salat” (HR Bukhari).

Namun, meskipun kita sudah berusaha melakukan salat sebaik mungkin, Terkadang kita tak dapat menghindari dari lupa melakukan salah satu gerakan salat. Bahkan Rasul pun tak luput dari sifat lupa ini. Dalam sebuah riwayat Nabi SAW menyatakan, terkadang aku lupa supaya menjadi pelajaran bagi kalian (HR Malik)

Salah satu kealpaan dalam salat yang sering terjadi adalah lupa melakukan tasyahud awal. Kealpaan melakukan tasyahud awal juga pernah dialami Nabi Saw. Saat itu beliau salat Dzuhur dan lupa melakukan tasyahud awal. Lalu di akhir shalat beliau melakukan sujud sahwi sebelum salam. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat berikut ini:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فِي صَلَاةِ الظُّهْرِ وَعَلَيْهِ جُلُوسٌ فَلَمَّا أَتَمَّ صَلَاتَهُ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ فَكَبَّرَ فِي كُلِّ سَجْدَةٍ وَهُوَ جَالِسٌ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ وَسَجَدَهُمَا النَّاسُ مَعَهُ مَكَانَ مَا نَسِيَ مِنْ الْجُلُوسِ

Baca Juga :  Lupa Melakukan Takbir Zawaid saat Salat Id, Haruskah Sujud Sahwi?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melaksanakan shalat Zhuhur namun tidak melakukan duduk (tasyahud awal). Setelah beliau menyempurnakan shalatnya, beliau sujud dua kali, dan beliau bertakbir pada setiap akan sujud dalam posisi duduk sebelum. Beliau lakukan seperti ini sebelum salam. Maka orang-orang mengikuti sujud bersama beliau sebagai ganti yang terlupa dari duduk (tasyahud awal).” (Mutafaqu alaihi)

Tasyahud awal merupakan salah satu bagian dari sunah ab’adh, suatu sunah yang apabila tidak dikerjakan, baik sengaja ataupun lupa, itu disunahkan menambalnya dengan sujud sahwi, yaitu sujud yang dilakukan setelah selesai membaca tasyahud akhir dan sebelum salam. Bila hal tersebut terjadi, ada beberapa hal yang bisa dilakukan berdasarkan penjelasan Syekh Ibnu Qasim dalam Fathul Qarib dan Syekh Ibrahim al-Bajuri dalam Hasyiah Fathil Qarib sebagaimana berikut:

Bagi seseorang yang salat sendiri (atau saat menjadi imam) itu lupa melakukan tasyahud awal, maka ia tidak diperkenankan kembali untuk melakukannya setelah ia dalam posisi melakukan bagian fardlu, berdiri tegak i’tidal misalnya. Sehingga, barang siapa meninggalkan tasyahud awal, kemudian ia ingat setelah dalam posisi berdiri tegak, maka tidak diperkenankan kembali ke posisi tasyahud. Sebagaimana Hadis riwayat Ibnu Khuzaimah berikut ini:

فَلَمَّا اعْتَدَلَ مَضَى وَلَمْ يَرْجِعْ

Maka di saat beliau sudah berdiri tegak, beliau tetap melanjutkan, dan tidak kembali duduk lagi (HR. Ibnu Khuzaimah)

Juga dalam Hadis riwayat Ahmad berikut ini:

أَمَّنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الظُّهْرِ أَوْ الْعَصْرِ فَقَامَ فَقُلْنَا سُبْحَانَ اللَّهِ فَقَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَأَشَارَ بِيَدِهِ يَعْنِي قُومُوا فَقُمْنَا

Rasulullah s.a.w. mengimami kami shalat zuhur atau ashar, lalu beliau berdiri (padahal seharusnya tahiyat awal), lalu kami katakan: “Subhanalloh.” Beliaupun mengatakan: “Subhanalloh.” Beliau berisyarat dengan tangannya, yaitu: “berdirilah”. Maka kamipun berdiri. (HR. Ahmad)

Syekh Ibrahim al-Bajuri menyebutkan pendapat Ibnu Hajar dalam Hasyiyah-nya, Jika ia tetap kembali ke posisi tasyahud ketika sudah berdiri tegak i’tidal, dan tahu bahwa itu haram, maka salatnya batal. Namun, jika dalam keadaan lupa, atau tidak tahu akan keharamannya, maka salatnya tidak batal namun harus langsung berdiri ketika sudah ingat.

Baca Juga :  Disunahkan Berjalan Kaki Ketika Hendak Salat Id

Namun jika ia belum dalam posisi melakukan fardhu atau berdiri i’tidal, maka boleh baginya duduk kembali. Hal ini senada dengan pejelasan Muhammad Syam al-Haq dalam kitabnya Aunul Ma’bud Syarah Sunan Abu Daud. Jika seseorang ingat sebelum sempurna berdiri tegak maka ia boleh kembali mengerjakan tasyahud awal. Namun jika setelah sempurna berdiri maka jangan duduk dan disunnahkan melakukan sujud sahwi sebelum salam. Sebagaimana dalam Hadis berikut:

إِذَا قَامَ الْإِمَامُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ، فَإِنْ ذَكَرَ قَبْلَ أَنْ يَسْتَوِيَ قَائِمًا فَلْيَجْلِسْ، فَإِنِ اسْتَوَى قَائِمًا فَلَا يَجْلِسْ، وَيَسْجُدْ سَجْدَتَيِ السَّهْو

“Apabila imam bangkit setelah rakaat kedua dan dia teringat sebelum  sempurna berdiri maka hendaknya dia duduk kembali, dan jika sudah berdiri sempurna maka jangan duduk dan lakukanlah sujud sahwi (sebelum salam).” (HR. Abu Daud)

Sedangkan bagi seorang makmum jika ia langsung berdiri karena lupa, maka wajib kembali ke posisi tasyahud untuk mengikuti imam, sekalipun ia sudah dalam posisi melakukan bagian fardhu (berdiri ‘i’tidal).

Namun jika ia melakukannya dengan sengaja menurut al-Zarkasi ada dua pandangan. Pertama, ia dibolehkan untuk melanjutkan gerakan salatnya dan berniat mufaraqah (memisahkan diri) dengan niat di dalam hati, “Saya memisahkan diri dari salatnya imam.” Kedua, disunnahkan kembali tasyahud mengikuti imam namun karena kesengajaannya ia telah kehilangan fadhilah (keutamaan) berjamaah.

Tapi jika imam yang lupa tasyahud awal, maka makmum wajib mengikuti gerakan imam dan tidak boleh menyelisihi gerakannya. Jika ia tetap melakukannya dengan sengaja sedangkan ia tahu akan keharamannya maka salatnya batal. Sebab adalah kewajiban makmum untuk mengikuti gerakan imam. Sebagaimana dicontohkan dalam hadis berikut ini;

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فِي صَلَاةِ الظُّهْرِ وَعَلَيْهِ جُلُوسٌ فَلَمَّا أَتَمَّ صَلَاتَهُ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ فَكَبَّرَ فِي كُلِّ سَجْدَةٍ وَهُوَ جَالِسٌ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ وَسَجَدَهُمَا النَّاسُ مَعَهُ مَكَانَ مَا نَسِيَ مِنْ الْجُلُوسِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melaksanakan shalat Zhuhur namun tidak melakukan duduk (tasyahud awal). Setelah beliau menyempurnakan shalatnya, beliau sujud dua kali, dan beliau bertakbir pada setiap akan sujud dalam posisi duduk sebelum. Beliau lakukan seperti ini sebelum salam. Maka orang-orang mengikuti sujud bersama beliau sebagai ganti yang terlupa dari duduk (tasyahud awal).” (Mutafaqu alaihi).

Baca Juga :  Penyebab dan Tata-Cara Sujud Sahwi

Namun jika imam menyalahi gerakan yang dianjurkan, seperti kembali setelah dalam posisi melakukan bagian fardhu yaitu berdiri i’tidal maka makmum tidak diwajibkan mengikuti kesalahannya. Apalagi jika sang imam tahu akan keharaman melakukan itu tapi ia tetap melakukannya dengan sengaja. Maka salat imam batal dan lebih baik niat mufaraqah dari salatnya imam.

Sebagaimana dikatakan sebelumnya, bahwa Nabi Saw. melakukan sujud sahwi karena lupa melakukan tasyahud awal. Tapi bagaimana jika teringat setelah salat? Apa boleh melakukannya setelah salam? Berdasarkan hadis berikut ini sujud sahwi boleh dilakukan setelah salam. Karena Nabi juga pernah melakukannya:

عَنْ زِيَادِ بْنِ عِلَاقَةَ قَالَ صَلَّى بِنَا الْمُغِيرَةُ بْنُ شُعْبَةَ فَلَمَّا صَلَّى رَكْعَتَيْنِ قَامَ وَلَمْ يَجْلِسْ فَسَبَّحَ بِهِ مَنْ خَلْفَهُ فَأَشَارَ إِلَيْهِمْ أَنْ قُومُوا فَلَمَّا فَرَغَ مِنْ صَلَاتِهِ سَلَّمَ وَسَجَدَ سَجْدَتَيْ السَّهْوِ وَسَلَّمَ وَقَالَ هَكَذَا صَنَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Ziyad bin Ilaqah, ia berkata; ” [Al Mughirah bin Syu’bah] salat bersama kami, setelah salat dua rakaat ia langsung bangun dan tidak duduk. Maka orang-orang pun mengucapkan tasbih (untuk mengingatkannya), namun ia memberikan isyarat kepada mereka agar berdiri. Ketika selesai shalat, ia mengucapkan salam dan sujud sahwi dengan dua kali sujud, setelah itu ia salam. Kemudian ia berkata; “Demikianlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya.”

Sebenarnya ulama berbeda pendapat, apakah sebaiknya sujud sahwi dilakukan sebelum salam atau sesudah salam. Tapi menurut Mayoritas ulama bermazhab syafi’i dalam kitab Al-Bayaan fi Madzhab al-Imam asy-Syafi’i berpendapat bahwa sujud sahwi dilakukan sebelum salam, baik karena sebab pengurangan atau penambahan gerakan salat. Namun jika ia teringat setelah salam maka boleh baginya melakukan sujud sahwi setelah salam. Wallahu’alam.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

3 KOMENTAR

  1. Bagaimana kalau imam sudah berdiri, namun belum membaca alfatihah. Apakah boleh, kembali duduk tasyahud?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here