Lupa Niat Puasa tapi Sahur, Apakah Puasa Kita Sah?

12
12316

BincangSyariah.Com – Niat merupakan suatu hal yang krusial dalam melaksanakan hal apa pun. Terlebih hal itu adalah ibadah. Niat menjadi sangat penting dalam membedakan antara adat kebiasaan dengan ibadah. Misalnya menahan makan dan minum menurut adatnya biasa disebut diet, namun ketika sudah diniati maka ia akan bernilai ibadah yakni puasa.

Niat untuk puasa fardlu harus dilakukan di malam hari mulai dari tenggelamnya matahari sampai sebelum terbitnya fajar. Sebagaimana hadis Nabi Saw.

عَنْ حَفْصَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ رَضِيَ اللَهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ رَوَاهُ الْخَمْسَةُ

Hadis riwayat Hafshah bahwasannya Nabi saw. bersabda “Barang siapa yang tidak berniat puasa di malam hari sebelum terbitnya fajar, maka tidak ada puasa baginya.”(HR. Abu Daud, at Tirmidzi, an Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad).

Dalam hadis tersebut, sangat jelas bahwa orang yang tidak niat puasa fardlu di malam harinya, maka puasanya tidak sah. Namun, bagaimana jika ada seseorang yang lupa niat di malam harinya, tetapi dia makan sahur, apakah dengan makan sahur tersebut sudah mewakili niatnya yang tak terbersitkan di dalam hati?

Al Alim al Allamah Asy Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari, murid imam ahli fikih Ibnu Hajar al Haitami di dalam kitab Fathul Mu’in telah membahas permasalahan ini. Beliau mengatakan

ولايجزئ عنها التسحر وان قصد به التقوى على الصوم ولا الامتناع من تناول مفطر خوف الفجر ما لم يخطر بباله الصوم بالصفات التي يجب التعرض لها في النية

Makan sahur tidak cukup sebagai pengganti niat, meskipun ia makan sahur bermaksud agar kuat melaksanakan puasa. Dan mencegah dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa karena khawatir akan terbitnya fajar juga tidak mencukupi sebagai pengganti niat selama tidak terbersit (di dalam hatinya) niat puasa dengan sifat-sifat yang wajib disinggung di dalam niat.

Artinya, berdasarkan keterangan tersebut, maka sangat jelas bahwa makan sahur belum mewakili niat puasa yang harus diniatkan oleh orang yang akan berpuasa. Sehingga, puasa yang dilakukan oleh orang yang lupa niat puasa di malam harinya tidak sah, dan harus di-qadha di hari lain jika ia berpuasa di bulan Ramadhan.

Baca Juga :  Tiga Amalan Sunah Pada Hari Arafah

Meskipun puasanya tidak sah, bukan berarti ia boleh makan dan minum sepuasnya atau melakukan hal-hal yang membatalkan puasa selama satu hari itu. Ia tetap harus menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa selama satu hari itu karena untuk menghormati waktu yang banyak orang melaksanakan puasa di dalamnya. Meskipun puasanya tidak dianggap tetapi ia tetap mendapatkan pahala. Sebagaimana keterangan yang dijelaskan juga di dalam kitab Fathul Mu’in berikut ini:

(و) يجب (امساك) عن مفطر (فيه) اى رمضان فقط دون نحو نذر وقضاء (ان افطر بغير عذر) من مرض أو سفر (أو بغائط) كمن أكل ظانا بقاء الليل أو نسي تنبيت النية أو أفطر صوم الشك وبان من رمضان لحرمة الوقت وليس الممسك في صوم شرعي لكنه يثاب عليه

Namun demikian, terdapat pendapat yang menganggap sahnya orang yang sudah sahur walaupun lupa atau tidak sempat niat puasa yang biasa dilakukan setelah shalat tarawih, sebagaimana pendapat yang disampaikan Syekh Ibrahim al-Bajuri berikut:

ولو أكل أو شرب خوفا من الجوع أو العطش نهارا أو امتنع من الأكل أو الشرب أو الجماع خوف طلوع الفجر  فإن خطر بباله الصوم بالصفات التي يشترط التعرض لها كفى ذلك في النية لتضمنه قصد الصوم وهو حقيقة النية.

Bila seseorang makan dan minum (dengan tujuan sahur) karena takut esok siang merasakan lapar dan haus, atau menahan diri tidak makan, minum, dan jimak karena takut sudah terbit fajar sadik (yang menjadi tanda sudah wajib puasa), sambil di dalam hatinya terbesit bahwa besok dia akan melakukan puasa sebagaimana mestinya, maka ini juga sudah mewakili niat puasa, dan inilah hakikat niat.

Artinya, bila kita makan atau minum dengan tujuan agar besok mendapatkan energi untuk berpuasa, itu sama saja mewakili niat, dan puasanya tetap sah.

Baca Juga :  Ini Niat Qada Puasa Ramadan

Wallahu a’lam.

12 KOMENTAR

  1. Bagaimana mungkin ada orang yang berpikir kalau lupa niat sahur maka tidak sah? Apakah yang dimaksud itu bacaannya? Menurut saya bacaan niat yang terlupakan secara tidak sengaja, tapi ada niatan dari hati orang tersebut untuk berpuasa, maka sah2 saja. Sama halnya bacaan niat sholat yang katanya harus dibaca bersamaan dengan takbir, nonsense itu bisa dilakukan, walaupun membaca niatnya dalam hati sekalipun. Adapun dengan niatan hatinya untuk sholat (misal subuh) sebelum dia takbir pun, sudah cukup sah sholatnya.
    Ingat Islam tidak memperberat umatnya dengan aturan yang tidak mungkin bisa dilakukan, Islam justru mempermudah umatnya dalam urusan hidup.

    • Bukan berarti Islam tidak memperberat umatnya lantas kita berbuat seenak aturan kita, dalam Islam semua sempurna dr yg ketat sampai yg ruhsoh ada aturannya maka yg kita perlu garis bawahi adalah melalukan perbuatan sesuai dg aturan bari itu mataps.

  2. Bagaiamana jika di waktu sahur atau lewat tengah malam terbesit dalam hati kalo “hari ini” mau puasa?apakah sama saja dengan redaksi “esok hari”.terkadang krn kebiasaan tahunya kalo lewat tengah malam adalah pergantian hari.jadi mikirnya nanti subuh itu ya hari ini. Apakah dengan niat di hati “saya hari ini mau puasa wajib” niatnya sudah sah?

  3. Bagimana dengan lupa berniat tapi sudah azan…Tapi saat malam dan sahur sudah ada niat dalam hati’hari ini puasa”tapi sata lupa untuk berniat tak sengaja..Apa itu sah

  4. Bagimana dengan lupa berniat tapi sudah azan…Tapi saat malam dan Isahur sudah ada niat dalam hati’hari ini puasa”tapi sata lupa untuk berniat tak sengaja..Apa itu sah

  5. Kalau lupa tidak niat bagaimana??
    Tapi bukankah allah tau yang ada di dlam hati kita…
    Kita sudah bangun untuk makan sahur. Untuk apa kalau kita memang berniat tdk puasa kan nggak mungkin bangun dan makan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here