Lima keadaan Ini Makruh Berzikir

0
480

BincangSyariah.Com – Pada dasarnya berzikir sunah dilakukan setiap waktu. Berzikir tidak dibatasi waktu dan tempat. Allah senang terhadap hambanya yang senang berzikir. Allah berfirman

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ

Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. (QS. An-Nisa; 103)

Kecuali pada beberapa keadaan ulama memakruhkan zikir. Imam Nawawi dalam kitab al-Azkar menyebutkan, setidaknya terdapat lima kondisi seseorang makruh berzikir. Di antaranya

Pertama, ketika sedang buang hajat. Nabi ketika sedang membuat hajat enggan menjawab salam sebagaimana dalam riwayat Imam Nasa’i. Itu menunjukkan berbicara, berzikir atau mendoakan seseorang saat sedang buang hajat termasuk perkara yang tidak beliau sukai.

Kedua, ketika sedang berhubungan intim. Menurut ulama, menyebut nama Allah pada kondisi ini dianggap tidak pantas. Namun dibolehkan jika berzikir dalam hati.

Ketiga, ketika khutbah bagi yang mendengarkan suara khutbah imam. Rasulullah dalam sebuah riwayat Bukhari Muslim melarang melakukan hal-hal yang dapat memalingkan perhatian dari khutbah.

Keempat, ketika sedang mendirikan shalat. Dalam shalat, seseorang dilarang berucap kecuali bacaan shalat. Sehingga makruh jika berzikir dalam shalat.

Kelima, saat sedang mengantuk. Sebab dalam keadaan ini seseorang akan sulit untuk memusatkan perhatiannya kepada Allah. Lebih baik tidak usah memaksakan berzikir jika sudah sangat mengantuk.

Baca Juga :  Batas Minimal Jumlah Jamaah Shalat Jumat Menurut 4 Mazhab


BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here