Lima Hal yang Membatalkan Wudhu

18
141457

BincangSyariah.Com – Abu Abdillah Muhammad bin Qasim Al-Ghazi menjelaskan dalam Fathul Qarib bahwa hal-hal yang membatalkan wudhu atau penyebab hadas kecil ada lima. Dengan terjadinya salah satu yang lima ini maka wudhu seseorang menjadi batal dan dia tidak bisa melakukan ibadah yang mewajibkan suci dari hadas kecil kecuali setelah berwudhu lagi, seperti melaksanakan shalat, memegang Alquran, dan lain sebagainya. Kelima hal yang membatalkan wudhu itu sebagaimana berikut:

Pertama, apabila keluar sesuatu dari salah satu kemaluan orang yang memiliki wudhu. Baik yang keluar itu adalah sesuatu yang biasa keluar seperti kencing dan tai, atau jarang keluar seperti darah dan kerikil. Baik yang najis seperti contoh-contoh tadi, atau yang keluar itu barang yang suci seperti ulat atau kremi.

Ketetapan tersebut sebagaimana dijelaskan dalam sebiah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (لا يقبل صلاة أحدكم إذا أحدث حتى يتوضأ) قال رجل من حضرموت، “ما الحدث يا أبا هريرة؟,” قال “الفساء والضراط”.

Dari Abi Hurairah RA, Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Tidaklah diterima shalat salah seorang di antara kalian jika dia berhadas sampai wudhu kembali.” Lalu seorang lelaki Hadhramaut bertanya, “Apa itu berhadas?” Abu Hurairah menjawab, “Kentut yang bersuara atau tidak bersuara.”

Kedua, batal wudhu sebab tidur. Kecuali tidur orang mutamakkin maq’adahu yaitu tidur dalam keadaan duduk rapat bagian punggung dan pantatnya dengan tempat ia duduk, karena dalam posisi tersebut tidak dikhawatirkan keluar kentut sewaktu tidur.

Mushthafa Dib al-Bugha  dalam At-Tahdzib Fi Adillati Matn Al-Ghayah Wa At-Taqrib menjelaskan mutqin atau mutamakkin maq’adahu adalah orang yang tidur dalam keadaan duduk sekiranya tidak terjatuh walaupun ia tidak duduk bersandar.

Baca Juga :  Alasan Puasa Sunah Diharamkan pada Hari Tasyriq

Ketentuan Ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan Imam Abu Daud berikut:

عن على رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم، “وكاء الساه العينان، فمن نام فليتوضأ.”

Dari Sahabat Ali RA., berkata, “Dua mata adalah penahan pintu dubur (kemaluan) maka barang siapa tidur berwudhulah.”

Al-Bugha menjelaskan mata dikatakan sebagai penahan pintu dubur karena pada saat dalam keadan sadar seseorang masih bisa menahan dan merasakan apa yang ingin keluar dari kemaluannya. Sedangkan jika tertidur terlepaslah penahan itu. Karena itu jika seseorang bisa tidur dalam keadaan mutqin, wudhunya tidak batal.

Ketiga adalah hilangnya kesadaran, maksudnya akalnya terkalahkan sebab mabuk, sakit, gila, epilepsi atau selainnya. Orang yang hilang akalnya walaupun sebentar maka wudhunya batal.

Menurut Imama Nawawi dalam al-Maj’mu’,  hilang akal sebab mabuk, pingsan dan gila lebih berat dari pada tidur, karena kesadarannya jauh lebih hilang daripada orang yang sekedar tertidur sebab mereka tidak aka terbangun meski kita peringatkan. Karena itu mayoritas ulama bersepakat orang yang pingsan, mabuk dan gila batal wudhunya.

Keempat adalah persentuhan kulit laki-laki dengan kulit perempuan lain yang bukan mahram yang telah mencapai batas syahwat  dan tidak ada penghalang antara dua kulit tersebut seperti kain. Seandainya terdapat penghalang di antara keduanya maka wudhu tidak batal.

Menurut Al-Ghazi menjelaskan, yang dimaksud dengan mahram adalah wanita yang haram dinikah karena ikatan nasab, radaah (saudara sepersusuan) atau ikatan pernikahan.

Kelima, menyentuh kemaluan orang lain atau dirinya sendiri atau menyentuh tempat pelipis dubur dengan telapak tangan atau telapak jarinya. Ketetapan tersebut berdasarkan hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidziy dan An-Nasa’iy berikut:

Baca Juga :  Ibrahim Al-Bajuri, Syekh al-Azhar Pasca Penjajahan Prancis

عن بسرة بنت صفوان رضي الله عنه قال: من مس فرجه فلا يصلى حتى يتوضأ.

Dari Basrah binti Shafwan, Nabi Muhammad Saw, bersabda, “Barang siapa menyentuh kemaluannya maka jangan shalat sampai ia wudhu.”

Al-Ghazi dalam Fathul Qarib memberi catatan, jika menyentuh dengan bagian dalam tangan yaitu bagian luar dan pinggir tangan, ujung jemari dan bagian di antara jemari, maka hal ini tidak sampai membatalkan wudlu’ sebab menyentuh dengan bagian-bagian tersebut. Wallahu a’lam.

18 KOMENTAR

  1. Assalamualiakum…
    Mau nanyak …klo wanita ato pria yg sah jadi suami istri bila sudah berwudhu dan bersentuhan kulit apa wudhu menjadi batal,mohon pencerahannya….mksh
    Wassalamu’alaikum…

  2. Assalammualaikum
    Kalau suami istri bersentuhan kulit tanpa sengaja atau tersenggol apakah juga membatalkan wudhu
    Mohon pencerahannya
    Wassalam

  3. setahu ku suami istri jika bersentuhan tanpa syahwat tidak batal wudhunya. . karena seingat ku ada hadist yang berbunyi secara garis besarnya rasulullah setiap mau pergi shalat selalu mencium kening salah satu istrinya kemudian pergi dan shalat tanpa mengambil wudhu kembali… wallahu a’lam..

  4. maf sy krja ngurus jompo, setiap sy mo sholat kake slalu ajj mnta pipis otomatis sy tunda sholat bntu kake megangin pispot, prtanyaa sy apa btal wudhu sy krna melihat kmaluan kake tp sy g nyntuh krna sy cmn megang pispot..

  5. […] Perkara yang membatlkan wudhu yang ketiga adalah menyentuh kemaluan anak adam (manusia) atau tempat terpotongnya, meskipun milik mayit atau anak kecil. Dikecualikan dari kemaluan anak adam adalah kemaluan hewan karena kemaluan hewan tidak dihasrati. Karenanya, boleh melihat kemaluan hewan asalkan tidak dilihat sambil bersyahwat. Jika dilihat sambil bersyahwat, maka hukumnya haram. Ini sudah jelas. (Lima Hal yang Membatalkan Wudhu) […]

  6. Apakah wudhu batal jika di senthu anak kecil Laki²..??
    Apakah Sholat batal jika sedang sholat di sentuh oleh anak kecil perempuan..??

  7. Jika setelah berwudhu, lalu masih berbicara, misalnya sebelum berangkat kerja wudhu, sampai di tempat kerja disekolah masih memberikan apel dan menyuruh siswa membersihkan lingkungan sekolah dan bercakap dgn sesama guru apakah bal wudhu?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here