Lima Hal Perbedaan Laki-Laki dan Perempuan dalam Shalat

1
8045

BincangSyariah.Com – Shalat merupakan salah satu komponen rukun Islam yang harus dipenuhi bagi setiap Muslim. Baik laki-laki maupun perempuan harus memenuhi syarat dan rukunnya agar shalat yang mereka lakukan sah dan legal secara fikih. Namun, di dalam al-Fiqh al Manhaji Ala Madzhab al Imam al Syafii karya Dr. Mustafa al Khan dan Dr Mustafa al Bagha disebutkan terdapat 5 hal pembeda antara laki-laki dan perempuan yang sunnah dilakukan di dalam shalat. Berikut ulasannya.

Pertama, bagi perempuan disunahkan dalam melaksanakan sujud untuk mengumpulkan sebagian anggota dengan anggota lainnya, yakni dengan cara mengumpulkan kedua siku-sikunya kepada lambungnya dan menempelkan perutnya dengan kedua pahanya, berbeda dengan laki-laki yang disunahkan menjauhkan siku-sikunya dari lambungnya dan mengangkat perutnya (agar tidak menyentuh) dari kedua pahanya.

Hal ini didasarkan dari Hadis riwayat imam Al-Baihaqi (2/232) bahwasannya Rasulullah saw. melewati dua perempuan yang sedang melaksanakan shalat, beliau pun mengatakan: “Jika kalian berdua sujud kemudian menempelkan sebagian anggota tubuh kepada bumi, maka sesungguhnya (sujudnya) perempuan tidaklah demikian, yang seperti laki-laki.” Maka dalam hadis tersebut dikatakan oleh Nabi Saw. secara gamblang bahwa tata cara sujud  antara laki-laki dan perempuan adalah berbeda. Jika laki-laki merenggangkan anggota tubuhnya sedangkan perempuan mengumpulkan atau menghimpit anggota badan dengan sebagian anggota badan lainnya.

Kedua, bagi perempuan hendaknya melirihkan suaranya ketika melaksanakan shalat di sisi seorang laki-laki lain (yang bukan mahramnya). Maka hendaknya perempuan tersebut tidak mengeraskan suaranya di dalam shalat yang disunahkan mengeraskan bacaannya (seperti shalat Maghrib, Isya dan Subuh).  Hal ini berdasarkan Q.S. Al Ahzab ayat 32 “Maka janganlah kamu tunduk (melemah lembutkan suara) dalam berbicara, sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya.” Berbeda halnya dengan laki-laki yang tetap disunahkan mengeraskan suaranya pada tempat-tempat yang disunahkan mengeraskan suara.

Baca Juga :  Shalat Sambil Menggendong Anak, Bagaimana Hukumnya?

Ketiga, apabila terdapat sesuatu yang berkenaan dengan diri perempuan di tengah melaksanakan shalat, (misalnya imamnya lupa terhadap suatu gerakan shalat) dan ia ingin memberitahukan jama’ah lainnya atas apa yang terjadi, maka ia hendaknya bertepuk tangan dengan cara memukulkan (telapak) tangan sebelah kanan pada punggung tangan kiri.

Adapun bagi laki-laki, maka jika terjadi sesuatu hal terhadap dirinya di tengah shalat disunahkan membaca tasbih dengan suara keras, namun tidak dengan niat mengingatkan atau memberi tahu. Karena di dalam kitab syarah fathul qarib karya imam Abu Qasim al Gahzi disebutkan bahwa hendaknya bagi laki-laki tersebut ketika mengucapkan tasbih dengan niat berdzikir saja, atau boleh niat dzikir sekaligus memberitahu (imamnya yang salah) atau sekedar mengucapkan tanpa berniat apa-apa, maka tidak batal shalatnya.

Namun jika ia mengucapkan tasbih dengan niat memberitahu saja maka batal shalatnya. Keterangan ini didasari oleh hadis riwayat imam al Bukhari (no. 652)  dan imam Muslim (no. 421) dari sahabat Sahl bin Sa’d ra. Bahwasannya Rasulullah Saw. bersabda “Barang siapa yang tertimpa sesuatu di dalam shalatnya, maka hendaknya ia mengucapkan tasbih, maka sungguh jika ia membaca tasbih, maka imam diingatkan olehnya, sedangkan tepuk tangan khusus untuk perempuan.”

Keempat, aurat perempuan di dalam shalat adalah seluruh badannya kecuali wajah dan telapak tangannya, sebagaimana dijelaskan dalam Q.S. An-Nur ayat 31 “Dan Janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali apa yang tampak padanya.” Dan menurut pendapat yang masyhur sebagaimana yang dikutip oleh imam Ibnu Katsir di dalam tafsir al Qur’an al Adzimnya (juz 3/ hal 283) dikatakan bahwa yang dimaksud dengan perhiasan dan apa yang tampak padanya adalah wajah dan kedua telapak tangan.

Baca Juga :  Perhatikan Lima Prinsip Ini Agar Shalat Tanpa Mukena Tetap Sah

Keterangan aurat perempuan ini juga berdasarkan hadis riwayat Abu Daud nomer 640 Dari Ummi Salamah ra. Bahwasanya ia pernah bertanya kepada Nabi Saw. “Apakah sah shalatnya perempuan dengan memakai baju panjang dan penutup kepala tanpa menggunakan sarung? Beliau menjawab” “Jika baju panjang itu luas dan dapat menutupi kedua punggung telapak kakinya (maka sah shalat perempuan tersebut).”

Adapun aurat laki-laki di dalam shalat adalah anggota tubuh antara pusar dan lutut. Jika ia shalat dan anggota tubuh antara pusar dan lututnya saja yang tertutup, maka shalatnya sah. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan secara marfu’ dari imam Ad-Daru Quthni (1/231) dan imam al Baihaqi (2/229) “Apa yang terdapat di atas kedua lutut adalah termasuk aurat, dan apa yang terdapat di bawah pusar adalah termasuk aurat.”

Kelima, bagi perempuan tidak disunahkan mengumandangkan adzan, tetapi hanya disunahkan melantunkan iqamah saja. Namun jika ia mengumandangkan adzan dengan suara yang pelan, maka tidaklah makruh baginya. Hal ini dianggap sebagai bagian dari dzikir yang diharapkan pahala atasnya. Adapun jika ia mengumandangkannya dengan suara yang lantang (keras) maka berhukum makruh. Dan akan berubah menjadi haram jika sampai menimbulkan fitnah. Sedangkan bagi laki-laki disunahkan mengumandangkan adzan setiap akan melaksanakan shalat. Demikianlah kelima perbedaan yang harus diperhatikan dan dipahami bagi setiap laki- laki muslim dan perempuan muslimah.  Wa Allahu a’lam bis shawab.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here