Sejarah Lari Kecil dalam Thawaf dan Sai

0
904

BincangSyariah.Com – Dalam rangkaian ibadah haji atau umrah, ada sebuah kesunahan yang disebut dengan roml. Roml adalah berjalan dengan cara lari kecil.

Roml pertama kali disyariatkan ketika Rasul dan para sahabat mendatangi Makkah dalam keadaan letih akibat perjalanan yang panas dari daerah Yastrib (Madinah). Mereka istirahat di sebelah hajar aswad. Kemudian orang-orang musyrik berkata “Datang pada kalian, sekelompok kaum yang lemah dan letih akibat panasnya perjalanan.”

Mengetahui perkataan mereka, Nabi memerintah para sahabat untuk melakukan roml (lari kecil) tiga kali putaran dan berjalan di antara dua rukun, agar mereka (musyrikin) melihat akan kuatnya para sahabat. Pada akhirnya kaum musyrikin berkata: “Merekalah yang disangka lemah akibat panas perjalanan. Ternyata mereka orang-orang yang kuat” (HR. Muslim).

Dalam kitab Faidh al-Bari ala Shahih al-Bukhari disebutkan bahwa Ibnu Abbas bercerita:

قَالَ إِنَّمَا سَعَى النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – بِالْبَيْتِ وَبَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ لِيُرِىَ الْمُشْرِكِينَ قُوَّتَهُ

“Berjalan cepatnya Nabi saw. di Baitulharam serta antara shafa dan marwah itu agar orang-orang musyrik melihat kekuatan Nabi saw” 

Dari kisah di atas, mayoritas ulama memutuskan kesunahan lari-lari kecil dalam tiga putaran pertama dalam thawaf (thawaf yang setelahnya dilanjutkan dengan sai) dan pada tengah perjalanan antara shafa dan marwah dalam setiap hitungan. Semua itu dalam rangka mengulas kisah Nabi, sehingga dalam hati teringat nikmat Allah atas kemuliaan serta martabat Islam dan umatnya. (Baca: Tata Cara dan Bacaan Doa Thawaf Lengkap Arab, Latin dan Artinya)

Selanjutnya, kesunahan lari-lari kecil diperuntukkan bagi mereka para lelaki yang berjalan maupun berkendaraan. Pelaksana lari-lari kecil dalam keadaan penuhnya tempat dan berdesakan, maka dianjurkan dalam hati niat berjalan dengan cara roml andaikan tidak adanya udzur. Dalam Raudhah al-Thalibin disampaikan:

Baca Juga :  Hukum Azan Sambil Duduk

ومتى تعذر الرمل استحب أن يتحرك فى مشيه ويرى من نفسه أنه لو أمكنه الرمل لرمل

“Ketika terdapat udzur melakukan roml, maka disunahkan bergerak-gerak dalam berjalan serta hati niat melakukan roml andaikan mampu.“

Dalam melaksanakan thawaf dengan menaiki sesuatu semisal kursi roda atau dipikul maka kesunahan roml baginya dibebankan kepada orang lain yang medorong atau memikulnya. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam kitab Raudhah al-Thalibin:

وإن طاف راكبا أو محمولا فقولان أظهرهما يرمل به الحامل ويحرك الدابة

“Apabila thawaf dengan menaiki kendaraan atau dipikul (didorong) maka ada dua pendapat. Menurut pendapat yang kuat, orang yang memikul (mendorong) berjalan dengan cara lari-lari kecil dan menggerakan kendaraanya (bagi penaik kendaraan).”  

Ketentuan roml dalam ibadah thawaf sebagaimana di atas, berlaku dalam ibadah sai sebagaimana disebutkan dalam Hawasyi al-Syarwani

أنه يأتى فيه تفصيل طواف الحامل والمحمول

“Dalam sai (tata cara sai) sesuai perincian dalam thawaf bagi orang yang memikul dan dipikul.“ 

Dan dari pemaparan di atas, sai dengan menaiki eskalator masih tetap dianjurkan melakukan lari-lari kecil. Wallahu A’lam. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here