Larangan Puasa pada Pertengahan Kedua Bulan Sya’ban

0
1884

BincangSyariah.Com – Syaikh Ibrahim al-Bajuri dalam kitabnya Hasyiyah al-Bajuri menghimpun hari-hari yang diharamkan berpuasa. Menurut beliau, sedikitnya ada lima hari yang diharamkan berpuasa dan dua di antaranya berada di bulan Sya’ban. Dua hari di bulan Sya’ban tersebut kiranya sangat penting untuk dijelaskan supaya diketahui bersama.

Pertama: Al-Nisyf al-Tsani min Sya’ban (pertengahan kedua bulan Sya’ban). Maksud dari al-Nisyf al-Tsani min Sya’ban ini adalah setelah Nisyfu Sya’ban, dimulai dari tanggal 15 ke belakang. Larangan ini oleh Syaikh al-Bajuri didasarkan pada hadis yang ada di al-Sunan al-Tirmidzi, Abu Daud, Musnad Ahmad, dari Thariq bin al-‘Ala bin Abdirrahman dari ayahnya dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Saw bersabda:

إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانَ فَلَا تَصُوْمُوْا

Jika Sya’ban sudah sampai pertengahan, janganlah kalian berpuasa

Namun keharaman berpuasa di pertengahan kedua bulan Sya’ban ini harus memenuhi ketentuan-ketentuan berikut: pertama, sebelum al-Nisyf al-Tsani min Sya’ban tidak berpuasa, namun langsung mulai berpuasa pada hari pertengahan kedua bulan Sya’ban. Bila seperti ini maka tidak diperbolehkan berpuasa.

Akan tetapi jika sebelum masuk al-Nisyf al-Tsani min Sya’ban berpuasa walaupun hanya sehari sebelumnya, maka diperbolehkan melanjutkan berpuasa sampai al-Nisyf al-Tsani min Sya’ban dan seterusnya, bahkan sampai masuk bulan Ramadhan.

Kedua, puasa yang dilakukan sebelum al-Nisyf al-Tsani min Sya’ban dan kemudian puasanya dilanjutkan pada hari-hari setelahnya, maka puasanya tidak boleh batal di salah satu hari dari pertengahan kedua bulan Sya’ban tersebut. Apabila batal, maka haram melanjutkan puasa di hari-hari berikutnya. Misalnya; A berpuasa dari tanggal 14 bulan Sya’ban sampai tanggal 20, kemudian pada tanggal 21 tidak berpuasa, maka dia haram berpuasa pada tanggal 22 dan seterusnya.

Baca Juga :  Keutamaan Malam Nisfu Sya'ban

Ketiga, bukan karena melakukan puasa wajib. Apabila puasa wajib, seperti meng-qodho’ puasa Ramadhan, maka diperbolehkan berpuasa di al-Nisyf al-Tsani min Sya’ban.

Keempat, berpuasa pada hari syak (hari yang meragukan). Hari Syak merupakan tanggal 30 Sya’ban dan ada keraguan sebab awal bulan Ramadhan yang belum terlihat hilalnya. Maka keraguan tentang terlihatnya hilal itulah yang dinamakan dengan hari syak.

Keharaman berpuasa di hari syak ini berdasarkan hadis riwayat al-Nasa’i dari ‘Ammar bin Yasir, dia berkata;

مَنْ صَامَ الْيَوْمَ الَّذِي يُشَكُّ فِيهِ فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Barangsiapa berpuasa pada hari yang meragukan, maka ia berarti telah mendurhakai Abul Qosim, yaitu Nabi Saw.”.

Meski begitu berpuasa pada hari meragukan ini dibolehkan jika untuk meng-qadha puasa Ramadhan atau bertepatan dengan kebiasaan puasanya seperti puasa Senin-Kamis atau puasa Daud.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here