Lailatulqadar di Mata Nabi dan Tuntunan untuk Meraihnya

0
693

BincangSyariah.Com – Jika Ramadan memiliki nilai istimewa di mata Rasulullah SAW dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya, maka malam Lailatulqadar adalah malam yang memiliki nilai istimewa di mata Rasulullah SAW di antara malam-malam lainnya di bulan Ramadan. keistimewaan lailatulqadar terletak pada nilai keutamaannya yang melebihi seribu bulan. Oleh karena itu banyak dari kalangan muslim yang menyebut lailatulqadar dengan malam seribu bulan.

Malam lailatulqadar memiliki keistimewaan tersendiri di mata Rasulullah SAW karena sebab kemunculannya dilatarbelakangi oleh rasa cemburu dalam kebaikan dari beberapa sahabat Rasulullah SAW kepada kisah seorang lelaki dari Bani Israil yang melakukan perjuangan fii sabilillah selama seribu bulan, maka Rasulullah SAW berdoa agar para sahabatnya diberikan kesempatan yang sama, maka Allah SWT mengabulkan doa Rasul-Nya dengan mengkaruniakan malam lailatulqadar di setiap bulan Ramadan, yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Riwayat ini sebagaimana termaktub pada salah satu asbabunnuzul dari ayat ke dua dan ketiga dari surat Al-Qadar.

Menurut sebagian riwayat, lailatulqadar memiliki nilai istimewa di mata Rasulullah SAW dikarenakan pada malam itulah Al-Qur’an yang menjadi petunjuk umat manusia secara keseluruhan diturunkan secara keseluruhan dari lauh mahfudz ke baitulizzah.

Sedangkan dalam penamaannya dengan lailatulqadar terdapat beberapa pendapat, di antaranya, pertama, salah satu makna dari kata Al-Qadar adalah kemuliaan (al-Adzhomah), maka karena kemuliaannya, malam tersebut dinamakan lailatulqadar. Kedua, di antara makna al-Qadar adalah ketentuan (al-hukm), maka, karena beberapa pendapat yang mengatakan bahwa pada malam tersebutlah ditentukan semua nasib mahluk yang ada, disebutlah ia dengan lailatulqadar. Kemudian, menurut pendapat yang ketiga, malam tersebut dinamakan dengan lailatulqadar karena salah satu makna al-qadar adalah kesempitan (al-dhayyiqu), dan karena pada malam tersebut para malaikat turun dari langit ke bumi dan bumi tampak sesak oleh para malaikat, maka dinamakanlah malam tersebut dengan lailatulqadar. Dari ketiga pendapat yang disebutkan, pendapat pertama dan kedualah yang paling sesuai dengan penamaan malam tersebut dengan lailatulqadar.

Baca Juga :  Macam-macam Puasa yang Diharamkan

Lebih lanjut, karena kemuliaan malam tersebut di mata Rasulullah SAW dan para sahabat beliau, maka, pasti seluruh kaum muslimin sangat mengidam-idamkan untuk bisa meraihnya. Dan yang perlu menjadi catatan, bahwasannya banyak yang meriwayatkan bahwa malam tersebut berada pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan.

hanya saja, keterangan tentang pada malam ke berapa dari Ramadan, malam tersebut berada tidaklah bisa dipastikan. Karena sebagian riwayat ada yang menyebutkan bahwa malam tersebut berada di malam ke duapuluh satu, ada juga yang meriwayatkan bahwa malam tersebut berada di malam ke duapuluh tiga, dan ada juga yang menyebutkan bahwa malam tersebut berada di malam ke duapuluh tujuh.

Di antara hikmah dari ketidakpastian keterangan tentang keberadaan malam lailatulqadar di salah satu malam-malam terakhir bulan Ramadan, yaitu kaum muslimin akan terus giat melakukan kebaikan serta ibadah-ibadah sunnah pada setiap malamnya khususnya di hari-hari akhir bulan Ramadan.

sebagaimana kita ketahui selama ini, bahwasannya sebagian kaum muslimin hanya bersemangat mengisi bulan-bulan Ramadan dengan serangkaian ibadah, baik sunnah maupun wajib, di awal-awal bulan Ramadan saja. Semoga dengan ketidakpastian keberadaan lailatulqadar di salah satu malam terakhir bulan Ramadan, akan memacu semangat kaum muslimin untuk terus konsisten meningkatkan kebaikan dan ibadah mereka dari awal Ramadan hingga akhirnya. Yang akan memberi pengaruh positif pada aktifitas mereka di bulan-bulan lainnya.

Dan, di antara upaya yang diajarkan Rasulullah SAW untuk menggapai malam lailatulqadar adalah dengan memperbanyak ibadah dan berdzikir kepada Allah SWT di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. dan media untuk merealisasikannya adalah dengan beritikaf di masjid, dan memperbanyak dzikir kepada Allah SWT, serta memperbanyak intensitas penghambaan kepada Allah SWT, baik dengan salat sunnah atau ibadah lainnya yang dapat membawa jiwa kepada titik penghambaan seutuhnya hanya kepada Allah SWT. Wallahu ‘Alam Bis Showab



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here