Apakah Kotoran di Bawah Kuku Membuat Wudhu Tidak Sah?

0
206

BincangSyariah.Com – Salah satu syarat sahnya wudhu adalah tidak boleh ada sesuatu (benda) yang menjadi penghalang antara air dan anggota wudhu yang dibasuh. Jadi, air harus sampai ke pori-pori kulit yang wajib dibasuh saat berwudhu. Oleh karena itu, ketika ada benda apapun yg melekat di salah satu anggota wudhu kemudian menghalangi air sampai ke kulit yang wajib dibasuh, maka wudhu nya dihukumi tidak sah. Lantas bagaimana dengan kotoran di bawah kuku, mengingat hal itu sering terjadi?

Berbicara perihal kotoran yang ada di bawah kuku, dalam kitab Fath al-Mu’in Syarh Qurrat al-‘Ain karya Zainuddin al-Malibari disebutkan perbedaan pendapat ulama mengenai hal tersebut :

Pertama, mayoritas ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa kotoran yang ada di bawah kuku dianggap dapat menghalangi air sampai ke kulit sehingga dapat mengakibatkan wudhu menjadi tidak sah.

Kedua, kotoran di bawah kuku bukanlah termasuk penghalang sahnya wudhu, sebab hal itu sering terjadi pada kebanyakan orang (‘umum al-balwā) serta sulit menghilangkannya setiap akan berwudhu. Namun jika kotoran yang ada di bawah kuku merupakan kotoran yang jarang melekat pada kuku seperti adonan roti dan lain sebagainya, maka hukumnya tetap wajib dihilangkan. Pendapat ini disampaikan oleh Imam Ghazali, Zarkasyi dan yang lainnya.

Ketiga, Imam al-Baghawi berpendapat bahwa manakala kotoran di bawah kuku tersebut berasal dari badan seperti keringat yang mucul dari kulit lalu melekat di bawah kuku, maka hal ini tidak berpengaruh kepada keabsahan wudhu. Sementara jika kotoran tersebut berasal dari faktor eksternal seperti debu dan lain-lain maka hal itu dapat mencegah keabsahan wudhu, baik  menempel di bawah kuku  ataupun anggota wudhu yang lain.

Baca Juga :  Dalil Tayamum Sebagai Pengganti Bersuci dari Wudhu dan Mandi Wajib

Nah, seluruh pendapat di atas tersebut sama-sama bisa diamalkan, sebab berasal dari ulama Syafi’iyah yang dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, kita bisa memilih pendapat mana yang akan diikuti sesuai dengan kemantapan hati. Fastafti qalbak, tanyalah hati kecilmu ingin memilih pendapat yang mana. Adapun penjelasan perbedaan pendapat itu bisa dilihat di sini:

وكذا يشترط على ما جزم به كثيرون أن لا يكون وسخ تحت ظفر يمنع وصول الماء لما تحته خلافا لجمع منهم الغزالي والزركشي وغيرهما وأطالوا في ترجيحه وصرحوا بالمسامحة عما تحتها من الوسخ دون نحو العجين. وأشار الأذرعي وغيره إلى ضعف مقالتهم .وقد صرح في التتمة وغيرها بما في الروضة وغيرها من عدم المسامحة بشيء مما تحتها حيث منع وصول الماء بمحله .وأفتى البغوي في وسخ حصل من غبار بأنه يمنع صحة الوضوء بخلاف ما نشأ من بدنه وهو العرق المتجمد وجزم به في الأنوار

Artinya:

Demikian juga disyaratkan (dalam keabsahan wudhu) seperti yang ditegaskan oleh mayoritas ulama bahwa tidak diperbolehkan terdapat kotoran di bawah kuku yang dapat menghalangi sampainya air pada bagian kulit di bawah kuku. Namun, hukum yang berbeda disampaikan oleh sekelompok ulama di antaranya Imam al-Ghazali, Imam az-Zarkasyi dan imam-imam lainnya. Mereka memberi penjelasan yang panjang dalam memilih pendapat ini dan menegaskan bahwa kotoran yang terdapat di bawah kuku adalah hal yang dimaafkan (dima’fu) dalam keabsahan wudhu kecuali kotoran tersebut berupa kotoran-kotoran sejenis adonan roti.

Sedangkan Imam al-Adzra’i mengisyaratkan lemahnya pendapat mereka (Imam Ghazali dkk) dan menjelaskan dalam kitab at-Tatimmah dan kitab lainnya dengan berpijak pada penjelasan dalam kitab ar-Rawdhah dan kitab lainnya bahwa kotoran di bawah kuku tidak dapat dimaafkan, manakala kotoran tersebut mencegah air sampai pada kulit di bawah kuku. Sedangkan Imam al-Baghawi berfatwa bahwa  kotoran yang berasal dari debu dapat mencegah sahnya wudhu, berbeda hukumnya ketika kotoran berasal (muncul) dari badan seseorang seperti keringat yang mengeras (lalu menjadi kotoran)”. (Zainuddin al-Malibari, Fath al-Mu’in, hal 5)

Baca Juga :  Janji Allah terhadap Orang yang Melaksanakan Salat Duha

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here