Khutbah Jumat dalam Keadaan Duduk di Kursi Roda, Apakah Boleh?

0
711

BincangSyariah.Com – Ketika kita tidak mampu melaksanakan shalat fardhu dalam keadaan berdiri, maka kita boleh melaksanakannya dalam keadaan duduk di atas kursi roda atau di lantai. Namun bagaimana jika khatib tidak mampu berdiri ketika menyampaikan khutbah Jumat, apakah boleh dia menyampaikan dalam keadaan duduk di kursi roda?

Menurut Imam Syafii dan ulama Syafiiyah, dua khutbah Jumat disyaratkan untuk dilakukan dalam keadaan berdiri. Dua khutbah Jumat tidak sah jika dilakukan dalam keadaan duduk, atau keadaan lainnya selain berdiri. Tentu kewajiban berdiri ini dilakukan jika khatib mampu untuk berdiri. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dalam kitab al-Majmu berikut;

قال الشافعي والأصحاب : يشترط لصحة الخطبتين القيام فيهما مع القدرة ، والجلوس بينهما مع القدرة

“Imam Syafii dan ulama Syafiiyah berkata, ‘Keabsahan dua khutbah disyaratkan untuk berdiri jika mampu. Juga disyaratkan duduk di antara dua khutbah jika mampu.”

Adapun jika khatib tidak mampu berdiri, maka sebaiknya dia mencari pengganti yang bisa berdiri. Jika tidak ada, atau dia adalah orang paling pantas untuk menyampaikan khutbah Jumat di antara orang-orang yang ada, maka dia boleh menyampaikan khutbah dalam keadaan duduk, baik di atas mimbar atau di atas kursi roda.

Dalam kitab al-Majmu, Imam Nawawi menyebutkan sebagai berikut;

فإن عجز عن القيام استحب له أن يستخلف ، فإن خطب قاعدا أو مضطجعا للعجز جاز بلا خلاف كالصلاة

“Jika khatib tidak mampu berdiri, maka dianjurkan baginya untuk mencari pengganti. Jika dia khutbah dalam keadaan duduk atau tidur miring karena tidak mampu, maka hukumnya boleh sebagaimana dalam shalat.”

Selain itu, yang perlu diperhatikan oleh khatib yang menyampaikan khutbah Jumat dalam keadaan duduk adalah saat jeda di antara dua khutbah. Karena dia sudah duduk, maka di antara dua khutbah dia wajib diam sejenak supaya ada pemisah antara dua khutbah dan dia tidak boleh menggantinya dengan tidur miring.

Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dalam kitab al-Majmu berikut;

قال أصحابنا : فإن خطب قاعدا للعجز فصل بينهما بسكتة ولا يجوز أن يضطجع ، والمشهور الذي قطع به الجمهور أن هذه السكتة واجبة ليحصل الفصل

“Ulama Syafiiyah berkata, ‘Jika khatib menyampaikan khutbah dalam keadaan duduk karena tidak mampu, maka dia harus memisahkan di antara dua khutbah dengan diam sejenak dan tidak boleh tidur miring. Pendapat yang masyhur yang ditegaskan oleh kebanyakan ulama adalah bahwa diam sejenak ini hukumnya wajib supaya ada pemisah.”

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here