Hukum Khatib Mengacungkan Tangan Ketika Khutbah Jumat, Apakah Boleh?

0
1424

BincangSyariah.Com – Umumnya ketika khatib Jumat menyampaikan khutbah, tangannya memegang tongkat, tidak mengacungkan tangannya. Namun di sebagian masjid, pernah dijumpai seorang khatib yang mengacung-ngacungkan tangannya, menunjuk-nunjuk ke kiri dan ke kanan, seperti layaknya berpidato di lapangan. Sebenarnya, bagaimana hukum mengacungkan tangan ketika khutbah Jumat, apakah boleh?

Pada saat khatib menyampaikan khutbah Jumat, selain memperhatikan rukun, syarat dan sunnah-sunnah khutbah, dia juga harus memperhatikan hal-hal yang makruh dilakukan. Hal ini karena kesempurnaan shalat Jumat juga tergantung pada kesempurnaan khutbah Jumat karena  khutbah termasuk bagian penting dalam shalat Jumat. (Baca: Bersin Ketika Mendengarkan Khutbah Jumat, Apakah Dianjurkan Membaca Hamdalah?)

Di antara perkara yang makruh dilakukan khatib ketika menyampaikan khutbah Jumat adalah dia tidak perlu mengacung-ngacungkan tangan, menunjuk-nunjuk ke kiri dan kanan seperti layaknya berpidato di lapangan. Dia harus menyampaikan khutbah Jumat dengan tenang, santun dan damai. Menurut para ulama, menyampaikan khutbah sambil mengacungkan tangan, menunjuk-nunjuk ke kiri dan ke kanan hukumnya makruh, sebaiknya dihindari.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Raudhatut Thalibin berikut;

ويكره للخطيب أن يشير بيده

Dan dimakruhkan bagi khatib menunjuk-nunjuk dengan tangannya.

Dalam kitab Al-Adab fi Al-Din, Imam Al-Ghazali menyebutkan sekitar dua belas adab dan etika khatib ketika menyampaikan khutbah, di antaranya adalah dia tidak boleh menunjuk-nunjuk dengan tangannya. Untuk lengkapnya, beliau berkata sebagai berikut;

أداب الخطيب: يأتى المسجد وعليه السكينة والوقار، ويبدأ بالتحية ويجلس وعليه الهيبة، و يمتنع عن التخاطب، وينتظر الوقت، ثم يخطو إلى المنبر و عليه الوقار، كأنه يحب أن يعرض ما يقول على الجبار، ثم يصعد للخشوع، ويقف على المرقاة بالخشوع ويرتقي بالذكر، ويلتفت إلى مستمعيه باجتماع الفكر، ثم يشيرإليهم بالسلام ليستمعوا منه الكلام، ثم يجلس للأذان فزعا من الديان، ثم يخطب بالتواضع، ولا يشير بالأصابع، ويعتقد ما يقول لينتفع به، ثم يشير اليهم بالدعاء، وينزل إذا أخذ المؤذن في الإقامة، ولا يكبر حتى يسكتوا، ثم يفتتح الصلاة، ويرتل ما يقرأ.

Baca Juga :  Hukum Menerjemahkan Khutbah Jumat dengan Bahasa Isyarat

Adab-adab seorang khatib adalah berangkat ke masjid dengan hati dan pikiran tenang, terlebih dahulu shalat sunnah dan duduk dengan khidmat, tidak berbincang-bincang dan menunggu waktu, kemudian melangkah ke mimbar dengan rasa terhormat seolah-olah senang mengatakan sesuatu yang akan disampaikan kepada Yang Maha Perkasa, kemudian naik dan berdiri di tangga dengan khusyuk sambil berdzikir, berputar untuk melayangkan pandangan kepada para pendengarnya dengan penuh konsentrasi kemudian menyampaikan salam kepada pendengar agar mereka mendengarkan, kemudian duduk untuk mendengarkan adzan dengan penuh rasa takut kepada Yang Maha Kuasa, kemudian berkhutbah dengan penuh tawadhu’, tidak menunjuk-nunjuk dengan jari-jari, merasa yakin bahwa yang disampaikan bermanfaat, kemudian memberi isyarat kepada makmun agar berdoa, turun dari mimbar jika muadzin sudah bersiap-siap iqamat, tidak bertakbir sebelum jamaah tenang, kemudian mulai shalat dan membaca ayat-ayat Al-Quran dengan tartil.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here