Kenapa Puasa di Hari Tasyriq Diharamkan?

1
1386

BincangSyariah.Com – Idul Adha adalah salah satu hari raya umat Islam yang jatuh setiap tanggal 10 Dzul Hijjah. Dalam merayakannya, umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan salat dua rakaat berjamaah dan tidak diperkenankan berpuasa pada hari ini.

Larangan tersebut sebagaimana terdapat dalam hadis riwayat Abu Said Al Khudri yang mengatakan,

نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الْفِطْرِ وَالنَّحْرِ. رواه البخاري ومسلم

“Nabi saw. melarang berpuasa pada hari (raya) Fitri dan Kurban (Idul Adha). (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Selain dilarang berpuasa pada hari Idul Adha tanggal 10 Dzul Hijjah, umat Islam juga dilarang berpuasa tiga hari setelahnya. Yakni tanggal 11, 12 dan 13 Dzul Hijjah. Tiga hari tersebut dinamakan dengan hari-hari Tasyriq (ayyamut tasyriq).

Ada beberapa pendapat terkait penyebutan nama ayyamut tasyriq. Ada yang mengatakan bahwa pada hari-hari tersebut merupakan hari di mana daging-daging kurban tercekik (tasyriq/disembelih). Atau karena hewan sembelihan tidak boleh disembelih sampai terbit (tasyriq)nya matahari. Dan ada yang mengatakan bahwa salat Idul Adha itu dilaksanakan ketika terbit (tasyriq)nya matahari.

Adapun pelarangan puasa pada hari-hari Tasyriq adalah berdasarkan hadis riwayat Ka’b bin Malik

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – بَعَثَهُ وَأَوْسَ بْنَ الْحَدَثَانِ أَيَّامَ التَّشْرِيقِ فَنَادَى: أَنَّهُ لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلاَّ مُؤْمِنٌ . وَأَيَّامُ مِنًى أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ.

Bahwasanya Rasulullah saw. mengutus Ka’ab dan Aus bin Al Hadasan pada hari-hari Tasyriq. Lalu beliau memanggil (seraya mengatakan) bahwa tidak ada yang dapat masuk surga kecuali orang mukmin, dan hari-hari Mina (hari Tasyriq) adalah hari-hari untuk makan dan minum.” (HR. Muslim).

Selain itu, terdapat hadis riwayat Amru bin Ash yang mengatakan,

Baca Juga :  Syarat-syarat Sujud Tilawah

فهذه الأيام التي كان رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يأمرنا بإفطارها وينهانا عن صيامها ” قال مالك: وهي أيام التشريق .

Maka, pada hari-hari ini Rasulullah saw. memerintahkan kami untuk berbuka (makan) dan melarang kami untuk berpuasa. (HR. Abu Daud). Dan Imam Malik memberikan penjelasan bahwa yang dimaksud adalah hari-hari Tasyriq.

Hadis-hadis tersebut sangat jelas menggambarkan bahwa pada hari raya Idul Adha dan tiga hari setelahnya yang disebut juga dengan hari Tasyriq adalah hari dilarang berpuasa. Karena pada hari-hari tersebut masih disunnahkannya untuk menyembelih hewan kurban, dan otomatis umat Islam seluruhnya, baik yang kaya dan miskin akan menyantap hewan kurban tersebut.

Namun, ada yang berpendapat bahwa di hari-hari Tasyriq itu boleh berpuasa bagi orang yang sedang beribadah haji tamattu’ (mendahulukan umrah daripada haji) dan haji qiran (menggabungkan ibadah umrah dan haji) yang tidak menemukan hadyu (hewan sembelihan untuk membayar dam) maka bagi mereka boleh melaksanakan puasa untuk mengganti hewan hadyu yang tidak ia dapatkan di hari-hari Tasyriq.
Hal ini berdasarkan hadis riwayat Aisyah dan Ibnu Umar ra. yang mengatakan

لَمْ يُرَخَّصْ فِي أَيَّامِ اَلتَّشْرِيقِ أَنْ يُصَمْنَ إِلَّا لِمَنْ لَمْ يَجِدِ اَلْهَدْيَ. رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ .

Tidak ada rukhsah pada hari-hari Tasyriq untuk berpuasa kecuali bagi orang yang tidak mendapatkan hadyu (bagi orang-orang yang sedang melaksanakan ibadah haji tamattu atau qiran). (HR. Al Bukhari). Wa Allahu a’lam bis shawab.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here