Kenapa Kita Dilarang Istinja dengan Tangan Kanan?

0
629

BincangSyariah.Com – Istinja atau membersihkan tempat keluarnya kotoran usai membuang hajat merupakan aktivitas bersuci yang penting untuk dibahas. Dalam istinja terdapat beberapa ketentuan dan tata cara yang perlu diperhatikan. Salah satu adab dalam beristinja adalah tidak dianjurkan memakai tangan kanan. Dalam sebuah hadis dikatakan,

عن عبداﷲ بن ابي قتادۃ عن ابيه قال قال رسول اﷲ صلی اﷲ عليه وسلم اذا شرب احدكم فلا يتنس في الاناء واذا اتی الخلاء فلا يمس ذكره بيمينه ولا يتمسح بيمينه

Diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Abi Qatadah dari bapaknya, dia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu minum maka janganlah menghembuskan nafasnya di wadah tempat minum, dan apabila salah seorang di antara kamu mendatangi tempat buang hajat maka jangan menyentuh kemaluan dengan tangan kanannya dan jangan pula membasuhnya dengan tangan kanan.” (HR. Bukhari)

Ibnu Hajar mengatakan dalam kitab Fathul Bari bahwa Imam Bukhari memberikan judul bab ini dengan larangan sebagai isyarat bahwa perkara tersebut belum jelas bagi beliau apakah bersifat haram, makruh, atau sebab termasuk bagian dari adab.

Sebagian besar ulama mengatakan bahwa larangan di atas sekedar untuk kesucian, sementara golongan Zahiriyah mengatakan indikasi pelarangan tersebut hukumnya haram. Sekilas jika kita perhatikan dalam perkataan sejumlah ulama mazhab Syafiiyah dapat ditangkap pengertian yang mengarah pada pendapat golongan Zahiriyah.

Akan tetapi menurut Imam Nawawi perkataan mereka yang tidak membolehkan istinja dengan tangan kanan maksudnya hal tersebut bukanlah hal yang mubah atau diperbolehkan, akan tetapi makruh dan sangat tepat bila ditinggalkan.

Sehingga, lanjut Imam Nawawi, jika seseorang beristinja dengan tangan kanan berarti ia telah melakukan perbuatan yang tidak terpuji. Namun istinja yang dilakukan telah dianggap mencukupi.

Baca Juga :  Bolehkah Akikah dengan Sapi?

Menurut Ibnu Hajar perdebatan tersebut timbul dari kekhawatiran apabila tangan menyentuh tempat yang akan dibersihkan disertai alat bersuci lain seperti air. Adapun jika tangan langsung menyentuh tempat yang akan dibersihkan tanpa disertai alat bersuci lain maka ulama sepakat bahwa hukumnya haram dan istinja tidak dianggap mencukupi.

Wallahu’alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here