Kapan Waktu Pelaksanaan Puasa Asyura?

0
502

BincangSyariah.Com – Sepuluh Muharam termasuk hari paling bersejarah bagi penganut agama samawi, khususnya Islam. Pada hari itu, Nabi Adam diterima pertaubatannya oleh Allah SWT; kapal Nabi Nuh terdampar di daratan; Nabi Yusuf dikeluarkan dari sumur; Nabi Yunus keluar dari perut ikan; Nabi ‘Isa lahir pada sepuluh Muharam; dan Nabi Musa diselamatkan dari kejaran pasukan Fir’aun juga pada tanggal sepuluh Muharam. Seluruh kejadian fenomenal ini disebutkan oleh Ibn Bathal di dalam kitab Syarah Shahih al-Bukhari.

Maka dari itu, ketika Rasulullah SAW berada di Madinah, beliau mendapati seorang Yahudi sedang berpuasa. Nabi bertanya, “Puasa apa yang kamu lakukan ini?

Mereka menjawab, “Pada hari ini Allah SWT menyelamatkan Musa dan menenggelamkan Fir’aun. Akhirnya Nabi Musa puasa pada hari itu sebagai bentuk rasa syukur.”

Mendengar jawaban ini, Nabi berkata, “Kami lebih berhak atas puasa daripada kalian. Nabi kemudian berpuasa dan memerintahkan umat Islam untuk puasa” (HR: Ibnu Majah)

Badruddin al-‘Ayni dalam Umdatul Qari mengatakan, menurut madzhab hanafi, puasa Muharam termasuk puasa wajib pada awalnya. Kemudian hukum wajib tersebut dihapus setelah adanya perintah wajib puasa Ramadhan. Pada waktu umat Islam diwajibkan mengerjakan puasa Ramadhan, maka status hukum puasa ‘Asyura berubah menjadi sunnah.

Kendati ulama menyepakati kesunahan puasa ‘Asyura, mereka berbeda pendapat terkait waktu pelaksanaan puasa ‘Asyura itu sendiri, ada yang mengatakan sembilan dan ada pula yang mengatakan sepuluh muharam. Perbedaan ini didasarkan pada variasi riwayat terkait puasa ‘Asyura.

Untuk menengahi perbedaan tersebut, maka puasa ‘Asyura dapat dibagi menjadi tiga tingkatan: Pertama, mengerjakan puasa dari tanggal sembilan sampai sebelas Muharam; kedua, puasa pada tanggal sembilan dan sepuluh Muharam; ketiga, puasa tanggal sepuluh Muharam saja. Pembagian ini sebagaimana dijelaskan al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi.

Pendapat ulama yang menganjurkan puasa sebelum dan sesudah sepuluh Muharam berdasarkan hadis dari Ibnu Abbas bahwa Nabi SAW berkata:

Baca Juga :  Tiga Amal yang Pahalanya Tetap Mengalir Setelah Meninggal

صوموا يوم عاشوراء وخالفوا فيه اليهود وصوموا قبله يوما أو بعده يوما

“Puasalah kalian pada hari Asyhur dan berbedalah dengan orang Yahudi. Kerjakan puasa dari satu hari sebelumnya sampai satu hari sesudahnya” (HR: Ahmad)

Hadis ini menunjukan bahwa yang dimaksud ‘Asyura itu adalah sepuluh Muharam, bukan sembilan Muharam. Akan tetapi, Nabi meminta pelaksanaan puasanya menjadi tiga hari, yaitu dari tanggal sembilan sampai sebelas. Dalam riwayat lain disebutkan, Nabi berencana puasa tanggal 9 sembilan Muharam, namun beliau sudah wafat sebelum menunaikan niat itu.

Berdasarkan penjelasan ini dapat dipahami bahwa ulama menyepakati kesunnahan puasa ‘Asyura. Bahkan dianggap sebagai puasa yang paling utama setelah Ramadhan. Akan tetapi, lebih disunnahkan lagi mengerjakannya mulai dari tanggal sembilan hingga sebelas. Kalaupun tidak mampu melaksanakan tiga hari, diperbolehkan pula puasa khusus pada tanggal sepuluh Muharam tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here