Jika Sudah Cukup Uang, Wajibkah Langsung Melaksanakan Haji?

0
159

BincangSyariah.Com – Ibadah haji merupakan rukun kelima. Salah satu syarat wajib haji itu mampu secara materi dan fisik. Selain itu, dalam konteks Indonesia, antrean tunggu haji bisa mencapai jangka waktu tahunan. Oleh karena itu, secara umum tidak mungkin seseorang yang mempunyai uang pada tahun tersebut kemudian langsung bisa berangkat haji. Jemaah haji harus mendaftar dan menunggu antrean pemberangkatan. Karena itu, ulama mazhab Syafii dan Imam Muhammad bin Yusuf dari mazhab Hanafi tidak mewajibkan melaksanakan ibadah haji sesegara mungkin. Hal itu sebagaimana dijelaskan Syekh Wahbah al-Zuhaili dalam al-Fiqhul Islami wa Adillatuh:

وقال الشافعية ومحمد من الحنفية: وجوب الحج على التراخي، وليس معناه تعين التأخير، بل بمعنى عدم لزوم الفور، ويسن لمن وجب عليه الحج أوالعمرة بنفسه أو بغيره ألا يؤخر ذلك عن سنة الإمكان، مبادرة إلى براءة ذمته، ومسارعة إلى الطاعات

Ulama mazhab Syafii dan Imam Muhammad bin Yusuf dari mazhab Hanafi berpendapat, kewajiban haji itu waktunya longgar. Namun, bukan berarti makna longgar itu ditentukan diakhirkan pada tahun tertentu. Akan tetapi, makna longgar di sini adalah tidak harus melaksanakan ibadah haji secepat mungkin. Disunahkan bagi orang yang telah terkenai kewajiban haji atau murah, baik berangkat sendiri atau diwakilkan orang lain, untuk tidak mengakhirkan pelaksanaan haji pada tahun di mana ia telah mampu. Hal itu demi terbebasnya kewajiban dan bersegera melakukan perintah sebagai bentuk ketaatan.  

Selain itu, menurut pendapat yang masyhur, kewajiban haji itu telah ditetapkan pada tahun 6 hijriah. Namun, Nabi saw. baru melaksanakan haji pada tahun 10 Hijriah. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Syekh Wahbah al-Zuhaili berikut ini:

ويجوز أن يؤخره من سنة إلى سنة؛ لأن فريضة الحج نزلت على المشهور عندهم سنة ست، فأخر النبي صلّى الله عليه وسلم إلى سنة عشر من غير عذر، فلو لم يجز التأخير لما أخره.

Baca Juga :  Hukum Melakukan Takbir Intiqal

Mengakhirkan pelaksanaan ibadah haji dari tahun ke tahun itu boleh. Hal ini karena kewajiban haji, menurut pendapat yang masyhur, itu baru berlaku pada tahun 6 Hijriah. Sementara itu, Nabi saw. mengakhirkan pelaksanaan haji sampai tahun ke-10 Hijriah tanpa ada halangan apa pun. Jika pelaksanaan haji tidak boleh ditunda, maka tentu Nabi saw. tidak akan menundanya.

Oleh karena itu, menunda untuk melaksanakan haji padahal sudah punya uang itu diperbolehkan. Misalnya, uang yang ada itu untuk keperluan sekolah anak terlebih dahulu, namun ia memilih mencicil atau menabung di bank untuk biaya haji.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here