Mengacungkan Jari Telunjuk ke Atas; Antara Ibadah dan Caci Maki

2
16659

BincangSyariah.Com – Semasa saya kecil, sekitar dekade 90-an, saya jarang melihat simbol-simbol keagamaan. Khususnya Islam agama yang saya anut, tampak di permukaan masyarakat. Namun, semenjak Soeharto lengser pada 98, simbol keagamaan bebas diekspresikan di mana-mana, seperti jubah, cadar, celana cingkrang, dan lain sebagainya. Belakangan ini, bahkan bertambah simbol mengangkat jari telunjuk ke atas, semarak dilakukan kelompok muslim tertentu.

Saya tidak tahu persis kapan tradisi mengacungkan jari telunjuk ke atas itu populer di kalangan masyarakat Muslim, bahkan menjadi simbol yang kerap dilakukan kelompok Muslim garis keras di Timur Tengah. Kita hampir tidak pernah melihat kiai-kiai pesantren salaf melakukan hal itu.

Saat selfie dan mengucapkan takbir secara berjamaah, mereka seringkali mengacungkan jari telunjuk ke atas. Pertanyaannya, adakah tradisi seperti itu di dalam tradisi Islam? Bagaimanakah masyarakat Islam awal mengekspresikan mengacungkan telunjuk mereka ke atas langit jika hal tersebut memang sudah ada sejak dulu?

Sebelum menjawab dua pertanyaan di atas, kita perlu mengetahui terlebih dulu istilah ‘telunjuk’ yang digunakan dalam bahasa Arab. Dalam bahasa Arab, istilah ‘telunjuk’ itu ada yang berkonotasi positif dan negatif. Istilah jari telunjuk yang berkonotasi positif adalah sabbahah atau musabbihah, karena memiliki makna dasar ‘alat beribadah’.

Terkait fungsi jari telunjuk sebagai alat ibadah, banyak sekali hadis-hadis yang menjelaskan tentang praktik ini. Seperti saat shalat ataupun ketika berdoa. Diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqqash yang menceritakan, “Saat Nabi melewatiku, aku sedang berdoa mengangkat jari-jariku, lalu Nabi biang begini, “Ahad (satu), ahad (satu), sambil mengangkat jari telunjuknya” (HR an-Nasai).

Rasulullah Saw. sendiri pernah mengangkat jari telunjuknya ke atas langit, dan kemudian menjatuhkan arah jari telunjuknya ke arah para sahabatnya. Saat itu, Rasulullah berdiri di atas mimbar di Mina saat Haji Wada’. Rasulullah Saw. melakukan hal demikian mendoakan mereka kepada Allah. Karena para sahabat yang berkumpul di Mina saat itu berasal dari berbagai macam latar belakang. Tidak sedikit juga di antara mereka adalah orang-orang yang keras kepala.

Baca Juga :  Ini Keutamaan Memperbanyak Baca Shalawat pada Hari Jumat

Selain itu, mengangkat jari telunjuk juga dianjurkan saat shalat ketika sampai tasyahud awal ataupun akhir. Kita dianjurkan untuk mengangkat jari telunjuk pada saat mengucapkan asyhadu an la ilaha illallah. Menurut penulis kitab ‘Aunul Ma’bud, Syekh Muhammad Syamsul Haq Abadi, tujuan mengacungkan jari telunjuk saat tasyahud awal adalah untuk mentauhidkan Allah dalam perbuatan, ucapan, dan hati. Tentu ketika shalat, jari telunjuk hanya diangkat sekedar ke arah kiblat saja, tidak sampai diangkat hingga menunjuk ke arah langit.

Sementara itu, ada istilah jari telunjuk lainnya yang justru berkonotasi negatif, yaitu sabbabah. Secara bahasa, makna sabbabah itu ‘alat untuk memaki’. Baik di Arab atau di Indonesia, jari telunjuk seringkali dijadikan alat untuk menunjuk-nunjuk orang lain saat sedang marah. Dengan kata lain, jari telunjuk dijadikan alat untuk memaki-maki orang lain.

Nah, jika ada seorang Muslim mengangkat jari telunjuknya diarahkan ke orang lain untuk memaki-maki atau mengangkat jari telunjuknya ke atas langit untuk melakukan provokasi, ujaran kebencian, dan tindakan tidak terpuji lainnya, berarti ia sedang memfungsikan jari telunjuknya sebagai sabbabah, alat untuk memaki. Padahal Rasulullah Saw. dalam beberapa hadisnya melarang umat Muslim melakukan ujaran kebencian.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ  قَالَ : قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ اُدْعُ عَلىَ الْمُشْرِكِيْنَ قَالَ إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا، وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً  (رواه مسلم)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, “Ada yang meminta agar Rasulullah mendoakan keburukan kepada orang-orang musyrik.” Rasulullah Saw. menolak, “Aku ini diutus bukan untuk menjadi pencaci maki. Melainkan untuk mengasihi” (HR Muslim).

Imam an-Nawawi kitab syarahnya atas Shahih Muslim menjelaskan bahwa melaknati orang lain dalam berdoa sama saja menjauhkannya dari rahmat Allah. Tentu ini bukanlah akhlaknya orang yang beriman. Bagaimana orang lain akan simpati dengan umat Muslim, jika perkataannya saja sudah kotor dan penuh dengan kebenciaan? Dalam hadis di atas sangat jelas sekali bahwa Rasulullah tidak mau mendoakan buruk kepada orang lain, kepada muslim maupun non-Muslim.

Baca Juga :  Tujuh Surah Ini Diakhiri dengan Ayat Tauhid

Bahkan dalam hadis lain yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah Saw. pernah berpesan, “Bukan orang mukmin yang sempurna imannya kalau ia masih mencela, melaknat, berkata kotor dan keji” (HR al-Hakim).

Oleh karena itu, jika masih ada umat Islam yang mengacungkan jari telunjuknya ke atas langit yang menandakan bahwa ia mentauhidkan Allah sambil memaki-maki dan mengeluarkan ujaran kebencian itu sebaiknya tradisi memakinya saja yang wajib dihilangkan. Rasulullah Saw. hanya mengajarkan mengacungkan jari telunjuk ke atas langit untuk berdoa, bukan untuk memaki-maki orang lain. Wallah ‘alam

 

2 KOMENTAR

  1. Main lo kurang jauh, gue sih gk tw apa mksdnya selfi dengan jari telunjuk/ngacung,
    Tp yg jelas itu dilakukan oleh para habaib habaib, spt Habib umar bin hafiz yaman, alm. Habib saggaf bin mahdi parung bogor dan masih bnyk, y ane cma nympulin mgkn sunah, krn semua/apapun yg dilakukan habib itu sunah nabi, dan jika kau ingin melihat spt apa sunah Nabi Muhammad SAW, lihatlah Habib Umar bin Hafiz kata Habib Ali bin Jufri, dan Habib Umar bin Hafiz jg berkata sebaliknya lihatlah Habib Ali bin jufri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here