Ini Tiga Cara Meminta Turun Hujan

0
618

BincangSyariah.Com – Meminta turun hujan kepada Allah di dalam Islam disebut dengan istisqa. Umumnya, istisqa atau meminta hujan dilakukan oleh kaum muslimin karena terjadi kemarau panjang sehingga terjadi kekeringan. Sebagian kaum muslimin ada yang meminta hujan karena terjadi kebakaran hebat sehingga dibutuhkan hujan untuk memadamkannya.

Dalam kitab Al-Musu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyah disebutkan bahwa menurut para ulama, ada tiga cara meminta turun hujan kepada Allah. Tiga cara ini telah disepakati oleh para ulama mengenai kebolehannya.

Pertama, meminta turun hujan hanya dengan doa, tanpa disertai shalat dan tidak pula dilakukan setelah shalat tertentu. Cara ini boleh dilakukan siapa saja, baik sendirian maupun secara berjemaah, di masjid atau di tempat lain.

Menuru ulama Malikiyah, meminta hujan hanya dengan doa ini adalah sunnah. Misalnya, dengan membaca doa berikut;

اللهم اسقنا غيثًا مُغيثًا، مريئًا مَريعًا، نافعًا غير ضار، عاجلًا غير آجل

Allohummasqina ghitsan mughitsan mari-an mari’an nafi’an ghoiro dhorrin ‘ajilan ghoiro ajilin.

Ya Allah, berilah kami hujan yang merata, menyegarkan tubuh dan menyuburkan tanaman, bermanfaat, tidak membahayakan. Kami mohon hujan secepatnya, tidak ditunda-tunda.

Kedua, meminta turun hujan melalui doa setelah shalat Jumat, setelah shalat-shalat wajib, atau pada saat khutbah Jumat. Dalam kitab Al-Umm, Imam Syafii membolehkan cara kedua ini. Beliau berkata;

وقد رأيت من يقيم مؤذنا فيأمره بعد صلاة الصبح والمغرب أن يستسقي ويحض الناس على الدعاء فما كرهت ما صنع ذلك

Sungguh aku telah melihat seseorang yang berdiri sebagai muazzin dan kemudian setelah melaksanakan shalat Shubuh dan Maghrib ia menyuruh untuk meminta turun hujan, ia juga mengajak masyarakat untuk sungguh-sungguh berdoa meminta hujan, dan saya tidak benci terhadap apa yang ia lakukan.

Ketiga, meminta hujan dengan melakukan shalat Istisqa dua rakaat dan dua khutbah. Ini adalah cara paling utama dibanding dua cara sebelumnya. Shalat Istisqa boleh dilakukan siapa saja, mulai dari masyarakat kota dan desa, anak-anak, pemuda, orang tua, musafir dan lainnya.

Baca Juga :  Pengertian, Tugas, dan Hak Nazhir dalam Perwakafan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here