Ini Tata Cara Salat Istisqa

1
627

BincangSyariah.com – Memohon hujan, atau yang disebut istiska disyariatkan dalam Islam. Istiska biasa dilakukan ketika kondisi cuaca yang sangat panas dan hujan belum turun dalam waktu yang cukup lama. Di antara dalil yang mensyariatkannya adalah surah al-Nuh: 10–11,

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا *** يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَارًا

“Maka aku (Nuh) berkata, mohon ampunlah kepada Tuhan kalian sesungguhnya Ia Maha Pengampun (10) Dia yang menurunkan air (langit) kepada kalian dengan sangat banyak.”

Di antara cara memohon hujan yang paling baik adalah dengan melakukan rangkaian ibadah sunnah yang disebut salat istiska. Meskipun, mengutip kitab al-Fiqh al-Manhaji fi al-Mazhab al-Syafi’I, boleh juga berdoa di dalam rukuk dalam rakaat terakhir salat atau setelah salat sendiri. Hukum salat istiska adalah sunah muakad. Artinya adalah, sangat dianjurkan untuk dikerjakan jika ada sebab-sebabnya.

Adapun tata cara salat istiska adalah sebagai berikut,

Pertama, sebelum memulai salat beberapa hari sebelumnya imam atau yang memimpin suatu kaum untuk bertobat yang sungguh-sungguh, bersedekah kepada mereka yang fakir, tidak lagi berbuat zalim, hingga puasa empat hari berturut-turut sebelum melaksanakan salat. Pada dasarnya amal saleh tersebut sebagai sebuah harapan semoga Allah Swt. mengabulkan doa hamba yang sedang diuji dengan kekeringan.

Kedua, pada hari terakhir puasa (hari keempat) imam bersama seluruh masyarakat yang tertimpa kekeringan melaksanakan salat istiska. Sunah juga untuk bersikap khusyuk, merunduk, dan menggunakan pakaian yang biasa dipakai (badzlah). Dasarnya adalah hadis Nabi Saw. yang diriwayatkan oleh Ibn ‘Abbas dan terdapat diantaranya dalam Sunan Ibn Majah dan Sunan Abi Dawud,

خرج رسول الله – صلى الله عليه وسلم – متبذلا متواضعا متضرعا

Baca Juga :  Hukum Shalat di Hadapan Perempuan

Rasulullah saw. keluar dengan kondisi (berpakaian) yang sederhana, penuh kerendahan hati dan ketundukan.

Tata cara salat istiska juga sama dengan salat Id. Rakaat pertama membaca tujuh takbir dan rakaat kedua lima takbir (keduanya dibaca setelah membaca takbiratul ihram). 

Ketiga, setelah salat, khatib kemudian melaksanakan khutbah. Bedanya khutbah istiska dengan Id adalah dibuka dengan membaca kalimat memohon ampun (istighfar) sebanyak sembilan kali di rakaat pertama dan tujuh kali di rakaat kedua.

Ketika imam mulai masuk khutbah kedua, ketika sudah selesai sepertiga khutbah, imam menghadap ke kiblat dan membelakangi mereka yang salat. Selanjutnya mereka mengubah selendang/kain yang dipakai atau dikenakan kemudian mengubah arahnya. Bisa dari atas ke bawah, atau kanan ke kiri, atau apa saja yang menjadi harapan agar segera ada perubahan cuaca.

Keempat, sunah agar orang yang ikut salat tidak hanya mereka yang berusia dewasa, tapi juga anak-anak, orang tua, bahkan hewan-hewan ternak yang mereka miliki juga menghadirinya. Nonmuslim yang menjadi bagian dari warga setempat juga tidak boleh untuk dihalangi jika ingin untuk hadir.

Wallahu A’lam

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here