Ini Perbedaan Antara Ragu dan Waswas Serta Cara Menyikapinya

0
26

BincangSyariah.Com – Di antara gangguan yang seringkali menimpa Muslim dalam beribadah adalah waswas. Sepintas, susah dibedakan antara waswas (al-waswasah) dengan ragu (al-syak). Namun begitu, Ibn Hajar al-Haitami, guru Syekh Zainuddin al-Malibari, sebagaimana dikutip Syekh Abu Bakar Syatha al-Dimyathi dalam I’anatut Thalibin, menyebutkan perbedaan antara ragu dan waswas.

Ketika ditanya tentang perbedaan antara ragu dan waswas, penulis kitab Tuhfah al-Muhtaj itu menjawab dengan gamblang bahwa keraguan muncul sebab adanya pertanda (‘alamah), sementara waswas tidak. Dengan kata lain, syak adalah keraguan yang berdasar. Sedangkan waswasah atau waswas dalam bahasa kita–adalah keraguan yang tidak berdasar.

Dalam Bughyah al-Mustarsyidin, Sayyid Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur mengutip pendapat Sayyid Abdullah bin al-Husain Bafaqih yang mengemukan bahwa syak adalah keraguan antara telah terjadi (melakukan) sesuatu atau tidak dengan persentase seimbang, fifty-fifty. Sementara waswas adalah bisikan hati dan [atau] setan (hadits al-nafs wa al-syaithan) yang tidak memiliki acuan (la tanbani ‘ala al-alshl). Beda halnya dengan keraguan yang memiliki dasar (yanbani ‘ala al-ashl).

Dengan demikian, apabila kita melihat noda di pakaian kita, lalu timbul pertanyaan tentang kesuciannya, maka jelas ini adalah keraguan (syak). Sebab, adanya noda tadi menjadi dasar bagi keraguan kita. Sedang apabila tanpa dasar apapun lantas ujug-ujug kita meragukan kesucian pakaian yang baru diangkat dari jemuran, misalnya, jelas-jelas ini adalah waswas belaka. Sebatas keraguan yang tidak berdasar. Waswas inilah yang tergolong ke dalam bid’ah dalam beragama.

Pada ilustrasi pertama, kita diharuskan berhati-hati (ihtiyath) dengan lebih memilih mengatakan pakaian tadi terkena najis. Sedangkan untuk ilustrasi kedua, yakni ketika waswas, kita juga diharuskan berhati-hati, namun dengan cara meninggalkan kehati-hatian (al-ihtiyath tark al-ihtiyath). Artinya, apabila keraguan akan kesucian pakaian muncul tanpa alasan yang jelas, bentuk kehati-hatiannya bukan lagi menganggapnya najis. Melainkan justru meninggalkan keraguannya, menggantinya dengan keyakinan mantab bahwa pakaian yang suci.

Tentang kehati-hatian dan waswas, Ayah Imam Haramain menulis sebuah kitab khusus yang membahas persoalan ini. Judulnya adalah al-Tabshirah fi Tartib Abwab li al-Tamyiz baina al-Ihtiyath wa al-Waswasah. Dalam kitabnya ini, sang penulis membantah keras orang-orang enggan mengenakan langsung pakaian yang baru dibeli sebelum dicuci lantaran waswas pakaian tersebut terkena najis. Dengan tegas Ayah dari guru Imam al-Ghazali itu mengatakan bahwa yang demikian adalah mazhabnya sekte Haruriyah-Khawarij yang berlebihan bukan pada tempatnya, namun juga enteng di tempat yang seharusnya hati-hati.

Menurutnya, sesiapa yang menempuh cara-cara tersebut, seolah-olah ia sedang menentang perubatan Rasulullah Saw., para Sahabat, Tabi’in, dan kalangan Muslimin.

Sebab, sesungguhnya para teladan kita justru langsung saja memakai pakaian baru tanpa mencucinya terlebih dahulu. “Sementara kondisi pakaian mereka terdahulu sama persis dengan pakaian kita kini.”, terang Abu Muhammad al-Juwaini. Menurutnya pula, “Waswas bersumber dari ketidaktahuan terhadap metode-metode syariat atau kurangnya kecakapan berpikir.”

Badruddin al-Zarkasyi dalam Khadim al-Rafi’i wa al-Raudlah, menukil pendapat ulama yang berhati-hati bahwa bagi orang yang waswas diprioritaskan untuk memilih mazhab yang lebih mudah. Hal ini lebih diutamakan agar waswasnya tidak bertambah, sehingga menyebabkannya keluar dari batas yang telah ditentukan syariat.

Orang yang waswas dalam hal niat ketika berwudhu misalnya, diperkenankan untuk menginggalkan niat sama sekali dengan berpindah haluan ke Mazhab Abu Hanifah. Sebab, menurut Mazhab Hanafi niat bukanlah sesuatu yang wajib, melainkan sekadar sunah saja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here