Ini Ketentuan Bagi yang Lupa Berniat Puasa di Malam Hari

0
1378

BincangSyariah.Com – Puasa di bulan Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam yang wajib ditunaikan oleh segenap umat Islam yang memenuhi syarat dan ketentuannya yang berlaku di dalamnya. Terkait ibadah puasa ,para ulama telah merumuskan rukun-rukun yang menjadi bekal bagi kita dalam menunaikan ibadah puasa ini. diantara rukun yang menjadi kunci kesuksesan ibadah puasa adalah niat. Niat berpuasa memiliki karakteristik tersendiri yang membedakannya dengan ibadah pada umumnya.

Biasanya dalam mazhab Syafi’i, kita diajarkan niat shalat agar adanya iqtiran (berbarengan) dengan awal rukun qauli (takbiratul ihram). Lain halnya dengan ibadah puasa. Dalam puasa, waktu berniat justru diperintahkan pada malam hari, yaitu antara tenggelamnya matahari dan  sebelum terbitnya fajar yang menjadi tanda waktu kita mulai menahan (imsak). Hal ini dijelaskan Syekh Zainuddin al-Malibari di dalam kitabnya Fath al-Mu’in,

وشرط لفرضه – أي الصوم ولو نذرا أو كفارة أو صوم استسقاء أمر به الإمام ( تبييت ) أي إيقاع النية ليلا أي فيما غروب الشمس وطلوع الفجر ولو في صوم المميز

“Disyaratkan tabyiit pada puasa fardhu, walaupun itu puasa nazar, puasa kafarat ataupun puasa istisqa’ yang diperintahkan oleh Imam. Tabyit adalah berniat pada malam hari, yaitu antara tenggelamnya matahari dan terbit fajar, walaupun itu puasa si mumayyiz.”

Lalu bagaimana halnya ketika seseorang lupa berniat di malam hari ? Seperti halnya orang yang biasa melakukan niat pada waktu sahur, namun suatu ketika dia ketiduran dan baru bangun pada waktu subuh telah masuk atau malah kesiangan, sehingga dia tidak melakukan niat sebelum subuh. Apakah dia boleh berniat di siang hari dan melanjutkan puasanya? Dan apakah dia tidak dikenakan kewajiban melakukan qadha jika dia tetap melanjutkan puasanya?

Baca Juga :  Hukum Melaksanakan Shalat Sambil Duduk dengan Kaki Berselonjor

Kasus seperti ini wajar saja terjadi di kalangan kita, karena lupa sudah menjadi tabiat bagi kita umat manusia, dan juga karena ibadah ini terkesan berbeda dengan aturan ibadah lain yang mensyaratkan niat dilakukan terlebih dahulu dan tidak adanya iqtiran antara niat dengan awal kita mulai menahan, sehingga hal ini mungkin saja pernah atau akan kita alami nantinya.

Problematika semacam ini justru telah dijawab oleh para Ulama. Diantarnya Imam Nawawi di dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab. Beliau menjelaskan bahwa orang yang lupa berniat puasa di malam hari, maka niat yang dilakukan di siang hari tidaklah sah, dan hari itu tidak dia terhitung menunaikan ibadah puasa, dalam artian dia wajib mengqada puasa itu setelah ramadhan berakhir. Namun dia tetap wajib menahan sampai tenggelamnya matahari di hari itu, untuk menghormati waktu. Tidak hanya itu, orang yang lupa tersebut juga dianjurkan untuk tetap berniat puasa di siang itu, karena hal ini dinilai sah puasanya menurut Imam Abu Hanifah.

إذَا نَسِيَ نِيَّةَ الصَّوْمِ فِي رَمَضَانَ حتى طلع الْفَجْرِ لَمْ يَصِحَّ صَوْمُهُ بِلَا خِلَافٍ عِنْدَنَا لِأَنَّ شَرْطَ النِّيَّةِ اللَّيْلُ وَيَلْزَمُهُ إمْسَاكُ النَّهَارِ وَيَجِبُ قَضَاؤُهُ لِأَنَّهُ لَمْ يَصُمْهُ وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَنْوِيَ فِي أَوَّلِ نَهَارِهِ الصَّوْمَ عَنْ رَمَضَانَ لِأَنَّ ذَلِكَ يُجْزِئُ عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ فَيَحْتَاطُ بِالنِّيَّةِ

“bila seseorang lupa berniat puasa Ramadhan sampai terbit fajar, maka puasanya tidak sah tanpa ada perbedaan pendapat di kalangan mazhab kita (syafiiyyah), karena sesungguhnya syarat niat adalah di malam hari, namun dia tetap wajib menahan di siang hari itu, walapun tetap mengadanya di luar Ramadhan nanti, karena dia belum dinilai berpuasa. Dan orang yang lupa ini dianjurkan untuk tetap berniat puasa Ramadhan di awal siangnya. Karena sesungguhnya hal ini sah menurut Imam Abu Hanifah, maka disini orang tersebut berihtiyat (berhati-hati) dengan niat.”

Hal yang serupa juga dijelaskan oleh Syekh Nawawi al-Bantani di dalam Nihayatu az-Zayn:

ولو نسي النية ليلا وطلع الفجر وهو ناس لم يحسب له ذلك اليوم لكن يجب عليه الإمساك رعاية لحرمة الوقت

Baca Juga :  Ini Cara Niat Puasa Ayyamul Bidh

“seandainya seseorang lupa berniat di malam hari, dan fajar pun telah tebit, maka hari itu tidak dihitung baginya telah berpuasa, namun dia tetap diwajibkan untuk menahan karena menjaga untuk menghormati waktu.”

Jadi dari uraian ini, dapat kita pahami bahwa kelupaan kita dalam melakukan niat puasa di malam hari bulan ramadhan menyebabkan puasa kita tidak sah, dan kita berkewajiban mengqadanya. Namun kita tetap diwajibkan untuk menahan di siang hari untuk menghormati waktu itu, dan juga dianjurkan untuk berniat puasa di awal siangnya untuk berihtiyat, karena menurut Imam Abu Hanifah orang yang lupa dalam kasus ini, puasanya tetap dihitung sah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here