Ini Dua Penyebab Puasa Jadi Sia-sia

0
1036

BincangSyariah.Com – Kebenaran puasa tidah melulu hanya meninggalkan makan dan minum.  Tetapi Allah telah mensyari’atkan ibadah puasa ini untuk menghasilkan ketakwaan. Oleh karenanya puasa yang benar adalah puasa dari kemaksiatan dengan meninggalkannya, menjauhinya, menahan diri tidak melakukannya. Salah satunya anjuran Nabi adalah puasa hati dari beberapa maksiat yang dilarang oleh Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan (HR. Bukhori)

Apalah arti kita yang seharian menahan lapar dan haus, jika akhirnya tidak berarti  di sisi Allah. hadis tersebut menggambarkan bahwa puasa hati yang bisa kita lakukan agar puasa tidak sia-sia adalah meninggalkan dusta dan perbuatan dusta. Sebab itulah dalam bulan Ramadan ini kita harus lebih berhati-hati dalam berucap dan bertindak.

Ibnu Rajab Al Hambali menegaskan dalam Jami’ul Ulum wal Hikam, bahwa terdapat  pembelajaran untuk bersabar terhadap takdir yang berupa kesulitan yang dialami orang yang berpuasa. Selain bersabar dengan rasa lapar dan haus, tentunya bersabar dari maksiat. Beliau menyebutkan bahwa kesabaran yang paling utama adalah puasa. Kenapa demikian? Sebab puasa menggabungkan tiga bentuk kesabaran tersebut.

Para sahabat dan genarasi terdahulu dari umat ini mereka telah bersemangat untuk menjadikan puasa mereka menjadi pensuci diri dan fisik mereka, dan menjadi pembersih dari maksiat dan dosa. Hal ini senada dengan pesan hadis Nabi di atas, yaitu meninggalkan dusta dan perbuatan dusta. Secara tidak  langsung nabi menyuruh kita untuk selalu berkata benar dan berada di jalan kebenaran.

Baca Juga :  Bolehkah Membaca Alquran Ketika Rukuk dan Sujud?

Berkata dusta dan perbuatan dusta tidak membatalkan puasa. Hanya saja  mengakibatkan ibadah puasa jadi sia-sia. Puasa Sebab secara zahir puasa adalah puasa dari semua yang membatalkan. Menahan diri dalam rangka beribadah kepada Allah dari mulai terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Berdasarkan firman-Nya dalam QS Al Baqarah ayat 187:

فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى

Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here