Ini Dalil Kesunahan Puasa Nisfu Sya’ban

1
3209

BincangSyariah.Com – Pada Bulan Sya’ban, Rasulullah memperbanyak ibadah. Di antara ibadah yang dilakukan Rasulullah saw pada bulan mulia ini adalah berpuasa. Sayyidah Aisyah mengatakan:

وما رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم استكمل صيام شهر قط إلا رمضان، وما رأيته أكثر صياما منه في شعبان

“Aku tidak melihat Rasulullah SAW puasa sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan dan aku tidak melihat melihat beliau banyak puasa kecuali pada bulan Sya’ban.” (HR: Bukhari) (Baca: Amalan Sunah Nabi Muhammad dan Ulama Salaf Saat Nisfu Sya’ban)

Mengapa Rasulullah senang memperbanyak ibadah puasa di Bulan Sya’ban? Di antara sekian riwayat, Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan riwayat berikut:

وَالْأَوْلَى فِي ذَلِكَ مَا جَاءَ فِي حَدِيثٍ أَصَحَّ مِمَّا مَضَى أَخْرَجَهُ النَّسَائِيُّ وَأَبُو دَاوُد وَصَححهُ بن خُزَيْمَةَ عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ مِنْ شَهْرٍ مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Artinya:

Yang paling utama dalam hal ini adalah hadis yang lebih sahih dari riwayat an-Nasa’i dan Abu Daud. Imam Ibnu Khuzaimah menyahihkan hadis ini yang diriwayatkan dari Usamah bin Zaid yang bertanya pada Rasulullah, “Wahai Rasul, aku tidak melihat engkau berpuasa dari bulan-bulan yang ada seperti halnya engkau puasa pada bulan Sya’ban?” “Sya’ban itu bulan di mana manusia melalaikannya, karena berposisi antara Rajab dan Ramadhan. Sya’ban juga merupakan bulan di mana amal manusia diangkat ke hadapan Tuhan semesta alam. Karena itu, aku ingin amalku diangkat dalam keadaan aku berpuasa,” jawab Nabi.

Baca Juga :  Adakah Wirid yang Harus Diistiqamahkan agar Jadi Ahli Ibadah?

Berdasarkan hadis ini, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak ibadah puasa di bulan Sya’ban, terutama ketika pertengahan bulan Sya’ban atau yang sering disebut dengan puasa nisfu Sya’ban. Banyak yang bertanya, apakah ada dalil kesuhanan puasa nisfu Sya’ban secara spesifik?

Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas al-Maliki dalam Madza fi Sya’ban mengutip sebuah riwayat dari Sayyidina Ali terkait keutaman malam nisfu Sya’ban dan anjuran puasa di siang harinya, Rasulullah SAW bersabda:

إذا كانت ليلة النصف من شعبان فقوموا ليلها وصوموا يومها

Artinya:

“Apabila datang malam Nisfu Syaban, beribadahlah di malam harinya dan puasalah di siang harinya” (HR: Ibnu Majah)

Hadis ini menurut Sayyid Muhammad memiliki hadis lain yang menjadi pendukung (syawahid) dan bisa dijadikan landasan untuk diamalkan, apalagi tujuan dari pengamalannya untuk fadhail amal. Para ulama yang pakar dalam masalah dalil pun juga mengutip hadis ini dalam karya-karya mereka, seperti al-Mundziri dalam al-Targhib wa al-Tarhib, Ibnu Rajab dalam Lathaif al-Ma’arif, dan lain-lain.

Merujuk pada pandangan Sayyid Muhammad ini, kita dianjurkan untuk memperbanyak ibadah di malam nisfu Sya’ban, bentuk ibadahnya bisa memperbanyak doa, dzikir, dan lain-lain, serta puasa di siang harinya.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here