Ini Dalil Kesunahan Diam Bagi Imam Setelah Membaca al-Fatihah

0
3338

BincangSyariah.Com – Tak jarang kita jumpai ketika salat berjamaah yang sifatnya jahriyyah imam yang langsung membaca al-Fatihah. Tak jarang pula kita jumpai imam yang setelah membaca surah al-Fatihah langsung membaca surah tertentu. Dari sini kita tidak bisa mendapat pahala kesunnahan membaca doa iftitah dan membaca al-Fatihah, kendati membaca al-Fatihah bagi seorang makmum sudah terkaver oleh bacaan imam.

Imam an-Nawawi dalam karyanya, al-Adzkar an-Nawawiyah menyebutkan salah satu kesunahan bagi seorang imam dalam salat adalah diam. Maksud dari diam di sini adalah diam sejenak yang hanya ada di salat yang sifatnya jahriyyah atau keras bacaannya; Salat Maghrib, Isya, dan Subuh. Masing-masing diam ini memiliki faedah tersendiri. Imam an-Nawawi menyebutkan ada 4 kesunahan bagi seorang imam untuk diam, yaitu:

Pertama, setelah takbiratul ihram. Imam memulai salat dengan takbiratul ihram lalu diam sejenak; tidak langsung membaca al-Fatihah. Fungsinya agar imam dan makmum bisa membaca doa iftitah terlebih dahulu.

Kedua, setelah membaca al-Fatihah. Imam selesai membaca al-Fatihah lalu diam sejenak sebelum membaca “Amin” bersama makmum. Imam an-Nawawi mendeskripsikan diam di sini dengan diam yang sangat sejenak. Kenapa? Karena antara selesai membaca al-Fatihah dan penyebutan “Amin” itu tidak bisa ada jeda yang cukup panjang, sehingga Imam an-Nawawi mendeskripsikan diam di sini sangat sejenak. Tujuannya, agar kata ”Amin” itu tidak termasuk bagian surah al-Fatihah.

Ketiga, setelah membaca “Amin”. Imam an-Nawawi mendeskripsikan diam di sini dengan diam yang cukup lama; kadar seseorang membaca surah al-Fatihah. Tujuannya agar makmum memiliki kesempatan untuk membaca al-Fatihah.

Keempat, setelah selesai membaca surah pendek atau ayat tertentu. Diam di sini tidak memerlukan waktu yang lama. Berbeda dengan diam yang sebelumnya, yang memelukan kadar selesai membaca al-Fatihah. Tujuannya agar ada pemisah antara pembacaan surah dan takbir menuju ruku’.

Berikut adalah redaksinya,

قال أصحابنا : يستحب للإمام في الصلاة الجهرية أن يسكت أربع سكتات إحداهن : عقيب تكبيرة الإحرام ليأتي بدعاء الاستفتاح ، والثانية : بعد فراغه من الفاتحة سكتة لطيفة جدا بين آخر الفاتحة وبين آمين ، ليعلم أن آمين ليست من الفاتحة ، والثالثة بعد آمين سكتة طويلة بحيث يقرأ المأموم الفاتحة ، والرابعة بعد الفراغ من السورة يفصل بها بين القراءة وتكبيرة الهوي إلى الركوع.

“Ulama Syafi’iyyah berpendapat, bahwa bagi seorang imam salat jahriyyah, disunnahkan untuk diam di 4 waktu, yaitu: Pertama, setelah takbiratul ihram agar (imam dan makmum) membaca doa iftitah. Kedua, usai membaca al-Fatihah untuk diam yang sangat sejenak antara selesainya membaca al-Fatihah dengan sebelum megucapkan Amin. Tujuannya agar dapat diketahui bahwa Amin itu bukan termasuk bagian dari surah al-Fatihah. Ketiga, setelah membaca Amin ada diam yan cukup lama dengan kadar makmum sempurna membaca al-Fatihah. Keempat, setelah selesai membaca surah tertentu, agar ada pemisah antara bacaan surah dengan takbir menuju ruku’.”

Itulah salah satu tuntunan menjadi imam yang baik dan bijak menurut Imam an-Nawawi. Semoga dengan ini kita semua bisa menjadi muslim yang semakin hari semakin baik serta bermanfaat bagi orang lain. Wa ilallahi-l-Mashir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here