Ini Dalil Dibolehkannya Anak Kecil Menjadi Imam

0
2850

BincangSyariah.com – Pernahkan kita melihat atau mengalami diimami shalat oleh anak-anak ? Dalam bahasan fikih, memang ada keutamaan agar yang menjadi imam adalah yang paling memahami agama. Namun, di zaman Rasulullah Saw. sendiri, pernah terjadi ketika sejumlah sahabat Nabi Saw. diimami oleh seorang anak yang dinilai memiliki bacaan yang baik dan hafalan Alquran yang cukup.

Tentang perbedaan para ulama soal boleh tidaknya seorang anak kecil menjadi Imam bagi orang dewasa, ada beberapa pendapat soal itu. Pendapatnya sebenarnya bermuara pada pertanyaan bolehkah seorang anak yang sudah memiliki bacaan Alquran yang bagus dijadikan imam dalam shalat ?

Dalam mazhab Syafi’i, seorang anak yang sudah mumayyiz (mampu membedakan yang baik dan tidak/sudah mengerti) meskipun belum berusia dewasa diperbolehkan untuk menjadi Imam jika ia adalah orang yang memiliki bacaan Alquran yang paling baik. Dasarnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh ‘Amr bin Salamah,

عن عمرو بن سلمة-رضي الله عنه-أن النَّبيَّ-صلى الله عليه وسلم-,قال لأبيه: (و ليؤمكم أكثركم قرآناً) فنظروا فلم يكن أحد أكثر قرآناً مني؛ لما كنت أتلقى من الركبان، فقدموني بين أيديهم، وأنا ابن ست سنين أو سبع سنين

Dari ‘Amr bin Salamah – Allah senantiasa meridainya – bahwasanya Nabi Saw berkata kepada ayah ‘Amar: “dan hendaknya yang mengimami kalian adalah yang paling banyak (bacaan) Alqurannya !” Kemudian para sahabat saling berpandangan dan mereka tidak melihat seorangpun yang paling banyak bacaan Alquran-nya kecuali saya. Ketika saya turun dari tunggangan, mereka pun mendorong saya menjadi Imam mereka dan usia saya waktu itu enam atau tujuh tahun.

Hadis diatas terdapat diantaranya dalam Shahih al-Bukhari, Sunan Abi Dawud, dan Sunan al-Nasa’i. Dari hadis diatas, kita dapat memahami bahwa ‘Amr bin Salamah dipilih menjadi imam meski para makmumnya adalah orang-orang dewasa. Itu dikarenakan ia adalah sahabat yang memiliki bacaan Alquran yang paling baik.

Baca Juga :  Anjuran Membasuh Dagu dan Jenggot Saat Wudhu

Dalam hadis lain riwayat Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri. Rasulullah Saw bersabda:

إذا كانوا ثلاثة فليؤمهم أحدهم، وأحقُّهم بالإمامةِ أقرؤهم

“jika mereka berjumlah tiga orang, maka pimpinlah seorang dari mereka menjadi imam. Dan yang paling menjadi imam adalah yang paling baik baik bacaan Alquran-nya.” 

Bagi para ulama yang menolak diperbolehkannya anak kecil menjadi imam, alasannya adalah imam dipilih untuk ditaati. Sementara, anak kecil tentu masih diperbedatkan kelayakannya untuk menjadi Imam.

Perlu juga dipahami bahwa ada yang tidak membolekan anak kecil menjadi Imam. Dalam mazhab Hanafi, pendapat yang kuat adalah diperbolehkannya perempuan menjadi imam. Dalam mazhab Maliki, anak kecil diperbolehkan menjadi imam jika bukan dalam shalat fardhu.

Sementara, mazhab lain yang mendukung pendapat ini adalah mazhab Hanbali . Meskipun, ada dua riwayat dari Imam Ahmad dimana yang satu membolehkan dan yang lain tidak. Namun pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang membolehkan seorang anak untuk menjadi Imam jika ia memang memiliki bacaan Alquran lebih baik.

Memang, ada mazhab seperti Hadawiyyah (kelompok Syi’ah Zaydiyyah di Yaman) yang tidak membolehkan anak-anak menjadi Imam. Mengutip bahasan al-Shan’ani dalam kitabnya Subul al-Salam fi Syarh Bulugh al-Maram, riwayat ‘Amr bin Salamah itu tidak bisa dijadikan dalil karena Nabi Saw. tidak memerintahkan apalagi menetapkan kalau itu boleh. Pendapat ini kemudian ditolak oleh al-Shan’ani bahwa dengan terjadinya hal tersebut tanpa ada penolakan dari Nabi Saw., itu menunjukkan kebolehannya (anak-anak yang memiliki bacaan Alquran yang baik menjadi Imam). Kalau itu tidak boleh, dipastikan Allah Swt. akan menurunkan wahyu soal itu apalagi ini berkaitan dengan persoalan ibadah shalat. Ibadah yang menjadi ciri khas umas Islam.

Baca Juga :  Tata Cara Shalat Sunnah Mutlak pada Malam Selasa

Namun, kita perlu juga menyadari jika anak tersebut sudah pintar namun kelihatannya belum siap. Kita tidak boleh memaksanya. Saya kutipkan nasihat yang bagus dari laman al-Islam su’aal wa jawaab,

ألا تتعجلوا في أمر صبيكم هذا ، وتسارعوا بظهوره في الفضائيات ، أو تصديره للإمامة والخطبة ، وهو في هذه السن الصغيرة ، بل ينبغي أن يخفى أمره ، قدر ما استطعتم ، ويشغل بتعليمه ما هو أهم من ذلك من العلم النافع ، وتأديبه على العمل الصالح ، وأن تعهدوا به إلى أحد العقلاء الفاهمين من أهل العلم أو طلابه ، فيعتني بتحفيظه السنة ، شيئا فشيئا ، ويربيه على المنهج العلمي الملائم لنبوغه .

Hendaknya kalian jangan tergesa-gesa memerintahkan anakmu agar masuk layar kaca, atau menjadikan imam atau khatib sementara ia masih kecil. Justru sebaiknya, ia tidak boleh sering keluar dulu, semampu anda. Sibukkanlah anak anda dengan belajar hal terpenting seperti ilmu yang bermanfaat. Latih dia untuk beramal shalih. Titipkanlah ia kepada salah seorang orang ulama atau murid-muridnya yang memahami (pentingnya ilmu yang bermanfaat). Kemudian, guru itu memperhatikan agar murid itu menghafalkan sunah-sunah Nabi. Sedikit demi sedikit. Dia didiklah ia dengan metode keilmuan yang cocok dengan masa pertumbuhannya.

 

Wallahu A’lam

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here