Cara Niat Wudhu Orang Beser Ketika Hendak Shalat

0
2807

BincangSyariah.Com – Para ulama sepakat bahwa di antara syarat-syarat sahnya seorang muslim melaksanakan ibadah adalah terbebas dari najis. Menurut Wahbah al-Zuhayli dalam al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, air seni manusia adalah satu dari zat yang disepakati oleh para ulama sebagai benda najis.

Dalam tuntunan fikih, jika ada pakaian atau bagian tubuh yang terkena air seni maka harus disucikan dengan cara mengalirkan air yang suci mensucikan kebagian tersebut, sampai semua najis itu hilang. Perlu diketahui, ciri-ciri hilangnya najis itu di antaranya harus hilang bau, warna, dan rasanya. Demikian disebutkan dalam kitab-kitab fikih.

Bisa dipastikan, tidak ada orang yang menyengaja membiarkan bagian tubuh atau pakaiannya terkena najis jika ingin melaksanakan shalat. Namun, fikih juga mencatat kondisi tidak normal manusia ketika ia kencing terus menerus. Bahkan, ada yang tidak lagi bisa menahan kencing berkali-kali sehingga seringkali air seninya terus mengenai pakaian atau tubuhnya.

Mereka inilah yang dalam fikih disebut terkena penyakit salisu al-bawl. Dalam al-Qanun fi al-Thibb, sebuah karya populer di dunia Islam di bidang kedokteran karya Ibn Sina, penyakit ini didefinisikan sebagai keluarnya sesuatu (dari kelamin) tanpa diinginkan, bisa disebabkan oleh udara yang terlalu dingin, melemahnya otot kandung kemih (istirkhaau al-‘adhalah), atau penyakit lain yang menjangkiti otot dan kandung kemih.

Masih ada beberapa sebab lain yang dikutip Ibn Sina, tapi paling tidak definisinya masih relevan dengan penyakit yang disebut inkonsistensia urin ini. Dikutip dari laman Doktersehat.com, penyakit ini disebabkan karena otot-otot uretra yang stres sehingga tidak mampu lagi mengontrol laju keluarnya air seni dari dalam tubuh.

Sementara itu, sebagai muslim, jika tertimpa penyakit ini tentu menyulitkan untuk beribadah, selain kesulitan lain seperti psikologis bahkan sosial. Dalam fikih, penyakit ini dikategorikan sebagai hal-hal yang dapat menjadi dispensasi (rukhshah) untuk tetap melaksanakan shalat, meski tidak sempurna suci.

Baca Juga :  Amalan yang Buat Manusia Mulia di Hadapan Allah

Dalam kitab Fathul Mu’in, dijelaskan bahwa orang yang beser itu wajib untuk berwudhu setiap kali ingin melaksanakan ibadah yang mengharsukan untuk suci, seperti shalat, memegang Alquran, dan lain sebagainya. Sementara itu, Imam al-Nawawi dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab menyamakan kondisi penderita penyakit ini dengan perempuan yang terus mengeluarkan darah istihadhah (darah penyakit) dari saluran kelaminnya.

Imam Taqiyuddin al-Hishni dalam karyanya Kifayatul Akhyar  menyebutkan bahwa orang beser yang ingin melaksanakan shalat itu harus berniat diperbolehkan melaksanakan ibadah (istibaahatu al-shalat), seperti nawaitul wudhu’a lis tibahatis shalati lillahi ta’ala.

Jadi, orang beser itu tidak sah bila niat wudhu dengan raf’ul hadats (mengangkat najis), karena najisnya masih tidak bisa ditahan atau dihilangkan. Karena itu, orang beser tidak sah bila niat wudhunya demikian: nawaitul wudhu’a li raf’il hadatsi lillahi ta’ala.

Penyakit beser seperti ini memang merepotkan dan menyulitkan. Karena itu, penderita penyakit beser perlu berobat ke dokter atau melakukan terapi lainnya. Seperti dikutip Doktersehat.com, cara mengobati beser itu di antaranya dengan terapi otot uretra untuk dilatih kembali dapat menahan air kencing, melakukan senam kegel (menahan otot kandung kemih selama beberapa detik), yoga, tidak banyak minum, atau menurunkan berat badan.  Wallahu A’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here