Ini 6 Hal yang Mubah Dilakukan Saat Tawaf

0
10

BincangSyariah.Com – Ketika seseorang melakukan tawaf, ada beberapa hal yang haram dan makruh dilakukan, dan juga ada beberapa hal yang mubah atau boleh dilakukan. Dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah terdapat keterangan bahwa ada 6 hal yang mubah dilakukan saat tawaf.

Pertama, berbicara jika hal itu dibutuhkan dan untuk kebaikan. Jika ada kebutuhan atau untuk kebaikan, maka berbicara saat melakukan tawaf hukumnya boleh dan tidak makruh. Sebaliknya, jika tidak ada kebutuhan atau bukan untuk kebaikan, maka sebaiknya hal itu ditinggalkan.

Ini berdasarkan hadis riwayat Imam Al-Tirmidzi dari Ibnu Abbas, dia berkata bahwa Nabi Saw bersabda;

الطَّوَافُ حَوْلَ الْبَيْتِ مِثْلُ الصَّلاةِ؛ إِلا أَنَّكُمْ تَتَكَلَّمُونَ فِيهِ، فَمَنْ تَكَلَّمَ فِيهِ فَلا يَتَكَلَّمَنَّ إِلا بِخَيْرٍ

Tawaf sekitar Baitullah (Ka’bah) adalah seperti shalat, kecuali sungguh kalian boleh berbicara di dalamnya. Oleh karena itu, siapa yang berbicara ketika tawaf, maka hendaknya dia tidak berbicara kecuali tentang kebaikan.

Kedua, mengucapkan salam pada orang yang sedang tidak sibuk membaca dzikir atau membaca Al-Quran.

Ketiga, berfatwa atau minta fatwa kepada orang lain. Begitu juga mubah saat melakukan tawaf mengajari orang lain, menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Keempat, keluar atau membatalkan tawaf karena ada kebutuhan yang sangat mendesak atau darurat.

Kelima, minum. Menurut Imam Syafii, minum saat tawaf hukumnya mubah, tidak makruh. Di antara sahabat yang pernah minum saat tawaf adalah Abdullah Ibnu Abbas. Ini sebagaimana riwayat yang disebutkan oleh Imam Syafii dalam kitab Al-Imla’ berikut;

رُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا  أَنَّهُ شَرِبَ وَهُوَ يَطُوفُ

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa beliau pernah minum pada saat beliau sedang tawaf.

Keenam, memakai sandal atau sepatu yang suci. Menurut ulama Syafiiyah, sandal yang boleh dipakai saat tawaf adalah sandal yang tidak menutupi tumit atau jari-jari kaki, seperti sandal jepit dan lainnya. Jika menutupi tumit dan jari-jari kaki, seperti sepatu, maka tidak boleh dipakai kecuali tidak menemukan yang lain.

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Irsyadul Muhtadin fi Idhahi Ba’dhil Masail min Furu’iddin disebutkan sebagai berikut;

ويلبس المحرم نعلين يظهر منها رؤوس الاصابع والعقب والحاصل ما ظهر منه العقب ورؤوس الأصابع يحل مطلقا. وما ستر الأصابع فقط، أو العقب فقط: لا يحل إلا مع فقد النعلين لا يحل ما يغطي الاصابع ولو بعضها

Orang yang sedang ihram boleh memakai sandal yang masih menampakkan jari-jari kaki dan tumit. Kesimpulannya, sandal yang tumit dan jari-jari kaki masih tetap tampak, hukumnya boleh dipakai secara mutlak. Adapun sandal yang menutupi jari-jari kaki saja, atau menutupi tumit saja, maka hukumnya tidak boleh dipakai kecuali karena tidak ada sandal lain. Tidak boleh memakai sandal yang menutupi jari-jari kaki, meskipun hanya sebagian jari-jari kaki saja.

Itulah 6 hal yang mubah dilakukan saat sedang tawaf.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here