Infak dengan Harta Terbaik

0
4287

BincangSyariah.Com – Sedekah adalah salah satu bentuk ibadah dalam Islam. Ibadah ini dilakukan dengan cara menyumbangkan harta benda kepada pihak-pihak yang membutuhkan. Hari ini, dunia mengenalnya dengan istilah filantropi. Filantropi berasal dari kata philan, bahasa Yunani yang berarti cinta, dan anthropos yang berarti manusia.

Filantropi adalah tindakan seseorang yang mencintai sesama manusia serta nilai kemanusiaan, sehingga menyumbangkan waktu, uang dan tenaganya untuk menolong orang lain. Jadi, menyumbangkan harta hanya sebagian dari cara mencintai sesama manusia.

Praktik filantropis sudah berkembang sejak lama dan dalam banyak kebudayaan besar, Yunani, Mesir, dan India. Dalam sejarah Islam, kepedulian terhadap sesama juga mendapatkan tempat yang penting. Dalam ajaran Islam, kepedulian terhadap sesama ini ditunjukkan dalam beragam bentuk.

Pembelaan terhadap kaum lemah seperti budak dan orang miskin menjadi tradisi yang Nabi Islam, Muhammad Saw. Dalam Alquran, sumber utama ajaran Islam, ditemukan banyak sekali anjuran untuk memperhatikan nasib sesama. Ekspresi-ekspresinya bisa beragam, namun hampir seluruhnya dibingkai dalam konteks ibadah.

Filantropi Islam adalah kombinasi antara kepedulian terhadap sesama dan pengabdian kepada Tuhan. Pengabdian kepada Tuhan dilaksanakan dengan cara mempedulikan sesama. Kepedulian menjadi satu bentuk pengabdian, bukan kepada sesama manusia tetapi kepada Tuhan. Kombinasi ini menempatkan filantropi Islam, sebagai kegiatan yang tak terpisahkan dari praktik beragama.

Islam memperkenalkan dua macam filantropi berbasis bantuan kemanusiaan. Pertama, filantropi yang bersifat wajib. Hal ini seperti tercermin dalam ibadah zakat dengan berbagai variannya dan nafkah. Kedua, filantropi yang bersifat anjuran. Seperti sedekah, infak, wakaf dan hibah.

Dalam dua jenis filantropi di atas, Islam sangat menekankan agar pelaksanaannya didasarkan kepada ketulusan. Ketulusan ditunjukkan, di antaranya, dengan memberikan pemberian yang terbaik. Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh QS. Albaqarah: 267. 

Baca Juga :  Hukum Sedekah kepada Non-Muslim

Ketulusan dalam Pemberian Terbaik

Allah Swt. berfirman, Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya. Padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (QS. Albaqarah: 267)

Al-Hakim, Al-Tirmidhi, Ibnu Majah dan lainnya meriwayatkan dari Al- Bara’ bin ‘Azib, ia berkata, “Ayat ini turun berkaitan dengan kami, kaum Anshar. Kami adalah kaum yang memiliki pohon kurma. Salah satu dari kami menginfakkan buah kurmanya sesuai dengan sedikit banyaknya buah kurma yang dihasilkannya. Ada sebagian orang yang tidak memiliki kesadaran untuk memberi kebaikan sehingga ada sebagian yang membawa setandan buah kurma yang jelek untuk digantungkan di masjid Rasulullah Saw. disediakan untuk orang-orang miskin dari kaum Muhajirin. Banyak di antara buahnya yang bijinya tidak keras dan ada yang kering sebelum masak, sehingga dagingnya tipis. Ada juga yang membawa setandan buah kurma yang telah rusak. Lalu turunlah QS. Albaqarah: 267.

Abu Dawud, Al-Nasa’i dan Al-Hakim meriwayatkan dari Sahl bin Hunaif, ia berkata, “Ada orang-orang yang memilih buah miliknya yang jelek untuk dikeluarkan sebagai sedekah. Lalu turunlah QS. Albaqarah: 267.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang berkata, “Ada sebagian sahabat membeli makanan yang murah lalu mereka sedekahkan, lalu turunlah QS. Albaqarah: 267.

”Sebab penurunan QS. Albaqarah: 267 di atas menunjukkan bahwa Allah sangat menekankan ketulusan. Ketulusan ini, di antaranya dibuktikan dengan pemberian bantuan materi terbaik yang dimiliki. Allah SWT menyebut beberapa kualitas pemberian seperti “yang baik-baik”, “yang buruk-buruk” dan “kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya”. Allah memerintahkan memberikan “yang baik-baik”, dan melarang memberi “yang buruk-buruk” dan yang “kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya”.

Syekh Wahbah Al-Zuhaili menyatakan bahwa tema ayat ini adalah kewajiban memilih harta yang baik ketika hendak berinfak di jalan Allah SWT, baik infak tersebut berupa zakat wajib maupun sedekah sunnah. Karena tujuannya adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menabung pahala dengan beramal baik. Tujuan ini tidak bisa diraih kecuali jika harta yang diinfakkan adalah harta yang baik pula.” (Tafsir Al-Munir, jilid 2, hlm. 87).

Baca Juga :  Bolehkah Mengganti Kurban dengan Uang?

Batasan Baik dalam Sedekah

Lalu, bagaimana standar baik dalam bersedekah? Syekh Wahbah menjelaskan lebih lanjut, bahwa dalam sedekah wajib seperti zakat standar baik dikembalikan kepada syarat-syarat harta yang dikeluarkan dalam zakat. Baik dari segi ukuran, jenis, maupun kualitasnya.

Dalam zakat fitri misalnya, harta terbaik yang dikeluarkan adalah makanan pokok dengan ukuran yang telah ditentukan dalam syariat seperti 2,5 Kg. Zakat kekayaan emas adalah ketika emas yang dimiliki seseorang mencapai batas nisab (wajib zakat), maka ukuran terbaik yang dikeluarkan adalah 2,5 % total kekayaan dalam bentuk emas yang dimiliki. Rincian batasan baik dalam sedekah wajib dapat dilihat dalam penjelasan tentang zakat.

Sedangkan dalam sedekah sunnah, tidak ada kriteria baik dalam segi ukuran, jenis maupun kualitasnya. Yang penting sesuatu yang disedekahkan adalah barang yang masih layak. Dalam hal ini, yang dimaksud bukan lah harta terbaik atau istimewa, akan tetapi batas minimal yang dituntut adalah yang sedang. Namun, jika ingin mengeluarkan yang istimewa tentu lebih utama.

Demikian adalah tuntunan filantropi Islam yang menekankan pentingnya ketulusan, kualitas, dan kepatuhan kepada ketentuan Islam. Hal ini sebagai pengejawantahan nilai cinta kasih kepada sesama yang dilandasi keimanan yang mendalam kepada Tuhan. Filantropi Islam adalah ibadah sosial yang menekankan kepada peningkatan kualitas hidup yang berorientasi ketuhanan-kemanusiaan sekaligus.

Wallahualam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here