Illat Sakit Uzur Meninggalkan Shalat Jumat dalam Fikih Syafii

0
1346

BincangSyariah.Com – Shalat Jum’at menjadi salah satu rangkaian ibadah individu yang hukumnya wajib secara berjamaah, khususnya bagi pihak yang disebut sebagai ahlu al-Jumat. Ahli Jumat ini terdiri dari beberapa orang yang memiliki 7 ciri sebagai berikut: beragama Islam, berakal, baligh, laki-laki, merdeka, sehat dan tinggal di perkampungan (mustauthin). Dengan demikian, pihak yang disebut sebagai uzur Jumat adalah kebalikan dari 7 hal di atas, dan salah satunya adalah sakit (maridl). Kajian kita kali ini berkonsentrasi pada illat “sakit” ini. (Baca: Argumen Shalat Jumat hanya 3 Orang dalam Kondisi Lockdown)

Jika kita merujuk ke dalam Kitab Kifayatul Akhyar, Syekh Taqiyuddin al-Hushni, menjelaskan mengenai rincian illat sakit ini sebagai berikut:

وَاحْترز الشَّيْخ بِالصِّحَّةِ عَن الْمَرَض فَلَا تجب الْجُمُعَة على مَرِيض وَمن فِي مَعْنَاهُ كالجوع والعطش والعري وَالْخَوْف من الظلمَة وأتباعهم قَاتلهم الله مَا أفسدهم للشريعة وَحجَّة عدم الْوُجُوب على الْمَرِيض الحَدِيث السَّابِق وَالْبَاقِي بِالْقِيَاسِ عَلَيْهِ وَفِي معنى الْمَرِيض من بِهِ إسهال وَلَا يقدر على ضبط نَفسه ويخشى تلويث الْمَسْجِد ودخوله الْمَسْجِد وَالْحَالة هَذِه حرَام صرح بِهِ الرَّافِعِيّ فِي كتاب الشَّهَادَة وَقد صرح الْمُتَوَلِي بِسُقُوط الْجُمُعَة عَنهُ وَلَو خشِي على الْمَيِّت الانفجار أَو تغيره كَانَ عذرا فِي ترك الْجُمُعَة فليبادر إِلَى تَجْهِيزه وَدَفنه وَقد صرح بذلك الشَّيْخ عز الدّين بن عبد السَّلَام وَهِي مَسْأَلَة حَسَنَة

Artinya:

“Syekh Abi Syuja’ mengeluarkan sakit dari pengertian sehat, karena bagi orang yang sakit, maka tidak wajib melaksanakan Jumat. Termasuk bagian dari illat sakit adalah pihak yang ada dalam kondisi semakna dengan sakit, seperti akibat lapar, haus, tidak punya baju, takut dari perbuatan orang yang aniaya dan pengikutnya, semoga Allah memerangi orang yang berkehendak merusak syariat. Hujah ketiadaan wajib bagi orang yang sakit adalah hadits yang telah lalu.

Sisanya merupakan qiyas terhadapnya. Termasuk hal yang memiliki satu pengertian dengan maridl adalah orang yang memiliki penyakit ishal (beser) sehingga ia tidak mampu menguasai batas normal dirinya, dan takut mengotori masjid atau masuk ke dalam masjid. Orang yang mengalami kondisi semacam ini adalah haram menghadiri Jumat, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Rafii dalam Kitab Al-Syahadah.

Baca Juga :  Hukum Shalat Jumat bagi Wanita

Syekh al-Mutawalli juga telah menjelaskan mengenai gugurnya Jumat bagi pihak di atas. Bahkan beliau menambahkan bahwa andaikata ada mayit yang dikhawatirkan membusuk jasadnya atau berubah sebab ditinggalkan jum’atan, maka segera mengurus mayit tersebut, dan memendamnya adalah bagian dari uzur di dalam meninggalkan shalat Jumat. Semua keterangan ini pernah disampaikan juga oleh Syekh Izzu al-Din ibn Abdi al-Salam, dan merupakan masalah hasanah.” (Kifayatul Akhyar fi Hilli Alfadh al-Ghayat al-Ikhtishar, Juz 1, halaman 142).

Jika mengikut penjelasan ini, maka yang termasuk bagian dari illat sakit dalam fiqih Syafiiyah, pada dasarnya bisa dikelompokkan sebagai dua, yaitu: 1) sakit yang sifatnya muhaqqaq, dan 2) sakit yang diakui oleh syariat.

Sakit yang Muhaqqaq (Sakit Legal)

Sakitnya pelaku jum’atan yang diakibatkan kondisinya yang tengah mengalami sakit ini merupakan sakit yang sifatnya muhaqqaq, artinya dinyatakan sebagai sakit oleh dokter atau oleh syariat. Sakit yang dinyatakan oleh dokter mencakup semua penyakit, seperti sakit panas, ishal (beser) sehingga menyebabkan kekhawatiran pada diri penderita (khauf fi nafsihi) dan orang lain yang berada disekitarnya atau mengotori masjid, menderita penyakit lepra (judzam), kusta (barash) atau terinfeksi virus corona, ebola dan bahaya penyakit bahaya menular lainnya sehingga khawatir orang lain terinveksi karena kehadirannya.

Dalam situasi wabah corona seperti ini, maka kelompok masyarakat yang sudah dinyatakan sebagai ODP (Orang dalam Pengawasan), PDP (Pasien dalam Pantauan) dan penderita positif corona, merupakan kelompok orang yang bisa dikategorikan sebagai maridl muhaqqaq, disebabkan pernyataan oleh dokter.

Bagaimana dengan orang yang baru datang dari daerah dengan zona yang dinyatakan sebagai mengalami wabah corona / tha’un? Dalam hal ini maka ahli yang menjadi rujukan adalah ahli hubrah / dokter setempat. Jika dokter menyatakan harus karantina terlebih dulu selama 7 hari, maka meskipun orang tersebut kelihatan secara hissi sebagai Orang Tanpa Gejala (OTG) terinveksi penyakit, maka ia termasuk orang yang ma’dzur Jumat disebabkan karena illat sakit dan takut menulari orang lain (khauf fi nafsihi wa ghairihi).

Baca Juga :  Apakah Narapidana Wajib Melaksanakan Shalat Jumat?

Sakit yang diakui oleh Syariat sebagai Sakit (Sakit Formal)

Sakit yang diakui oleh syariat ini tidak musti menunjukkan gejala fisik pelakunya sebagai orang yang sakit. Namun, kondisinya diakui oleh syariat sebagai pihak yang disamakan dengan orang yang sakit sehingga uzurnya termasuk uzur karena illat sakit. Batasan yang diberikan oleh syariat terhadap kondisi sakit yang demikian adalah: lahirnya madhinnah (indikator) dapat mengganggu ke-khusyu’an.

(و) ذلك نحو (المرض الذي يشق) معه الحضور (كمشقته) مع المطر وإن لم يبلغ حداً يسقط القيام في الفرض، وهي التي تذهب الخشوع، كما في “الإيعاب” وغيره، لكن التي تذهب الخشوع تسقط القيام في الصلاة

“Contoh dari sakit dengan alasan khusus tersebut adalah sakit yang menyulitkan seseorang dari menghadiri Jumat, seperti sulit karena hujan, kendati alasan hujan ini tidak sampai sempurna pada batas yang bisa diterima sebagai bisa dijadikan alasan penggugur perkara wajib, sehingga menghilangkan kekhusyu’an, sebagaimana keterangan dalam kitab I’ab dan selainnya, akan tetapi adanya indikasi hilangnya kekhusyu’an sebab hujan itu sudah cukup sebagai penggugur wajibnya pelaksanaan shalat jum’at.”(Busyra al-Karim bi Syarhi Masail al-Ta’lim, halaman 331).

Lapar, Haus, Hujan, cuaca yang sangat panas, merupakan illat yang diakui secara jelas berdasar nash sebagai yang dapat mengganggu kekhusyu’an sehingga menghendaki rukhshah (dispensasi syariah).

Adapun, adanya pihak yang akan merusak kehormatannya (sebab akan membuatnya malu) di masjid, atau kondisi jalan yang tidak aman karena maraknya aksi kejahatan di jalan yang akan dilaluinya, merupakan illat yang bisa disamakan dengan kondisi sakit. Adanya orang yang sakit yang harus ditunggui sementara yakin ia tidak ada orang lain lagi yang bisa menggantikannya, adanya mayit yang harus segera ditajhizkan karena khawatir busuk atau berubah bila tidak segera dikebumikan, adalah bagian dari uzur Jumat yang masuk dalam kategori illat sakit.

Alhasil, dengan perincian ini, maka takut wabah adalah bukan merupakan bagian dari illat uzur Jumat disebabkan “orang yang sakit karena wabah” sudah dimasukkan ke dalam kategori sakit muhaqqaq oleh dokter sehingga baginya berlaku larangan menghadiri Jumat, bahkan haram. Orang Tanpa Gejala (OTG) sakit, dan sebelumnya tidak berasal dari daerah yang masuk zona wabah, juga tidak masuk dalam kategori uzur Jumat sebab baginya tidak berlaku illat maridl muhaqqaq (sakit yang legal).

Orang Tanpa Gejala (OTG) yang bisa masuk dalam kategori uzur menghadiri Jumat, adalah mereka yang sudah dinyatakan oleh dokter harus melakukan isolasi terlebih dulu sebelum bercampur dengan masyarakat lainnya. Mematuhi anjuran dokter untuk melakukan “isolasi mandiri”, hukumnya adalah wajib baginya, karena alasan kekhawatiran membahayakan orang lain (khauf al-idlrar). Dengan kata lain, orang yang tidak beresiko menularkan penyakit, biarkan mereka shalat jum’at atau hadir jamaah. Sementara dirimu yang tengah beresiko, jangan menambah risiko terhadap pihak yang tidak berisiko. Karenanya, isolasilah dirimu dulu, secara mandiri, sesuai perintah dokter!

وألحق به كل ذي ريح كريه من بدنه أو مماسة وهو متجه ، وإن نوزع فيه ومن ثم منع نحو أبرص وأجذم من مخالطة الناس

Baca Juga :  Hukum Perempuan Melakukan Jual Beli pada Waktu Shalat Jumat

“Adalah disamakan dengan memakan sesuatu yang mentah, yaitu seseorang yang memakan makanan yang memiliki efek bahu tidak enak pada badannya, atau akibat mengoleskan sesuatu yang baunya dibenci orang disekitarnya, dan kesinilah arah dari pendapat ini. Berangkat dari alasan timbulnya bau yang dibenci ini, maka kondisi orang dengan penyakit kusta (abrash) atau lepra (judzam) boleh dicegah dari bercampur dengan manusia (dalam jamaah).” (Tuhfatu al-Muhtaj fi Syarhi al-Minhaj, Juz 7, halaman 484).

Jika karena bau saja diperintah untuk menahan diri dari bercampur secara langsung dengan masyarakat di majelis jamaah / Jumat sebab merugikan orang lain, maka bagaimana dengan orang yang beresiko menularkan penyakit!? Sudah barang tentu lebih kuat kedudukannya secara syariat, dibanding sekedar bahu. Semua ini, adalah berangkat dari cabang illat sakit. Wallahu a’lam bi al-shawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here