Cara Ikhlas dalam Pelaksanaan Shalat

1
6129

BincangSyariah.Com – Dalam Islam, jenis ibadah dibagi dua; mahdhah dan ghairu mahdhah. Ibadah mahdhah adalah ibadah yang murni dilaksanakan hanya untuk menghambakan diri kepada Allah dan membangun hubungan langsung dengan-Nya. Sedangkan ibadah ghairu mahdhah adalah ibadah yang dilaksanakan untuk membangun hubungan  hamba dengan Allah juga untuk membangun hubungan atau interaksi antara hamba dengan makhluk lainnya.

Termasuk ibadah mahdhah adalah shalat. Nilai utama dari ibadah shalat adalah untuk shilatun baina al-abdi wa rabbihi, membangun hubungan langsung dengan Allah. Sehingga ibadah shalat ini harus murni dilaksanakan hanya dengan niat ikhlas karena Allah, tidak boleh dicampur dengan niat lain.

Ada banyak ayat al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi Saw yang menegaskan keharusan ikhlas  dalam pelaksanaan shalat. Di antaranya adalah surah al-Bayyinah ayat 5, Allah berfirman;

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَة   البينة: 5

Artinya; “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”

Dalam sebuah hadis kudsi riwayat al-Bazzar dan al-Baihaqi dari al-Dhahhak bin Qais, dia berkata bahwa Nabi Saw bersabda;

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ : أَنَا خَيْرُ شَرِيكٍ فَمَنْ أَشْرَكَ مَعِي شَرِيكًا فَهُوَ لِشَرِيكِي ، يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَخْلِصُوا أَعْمَالَكُمْ لِلَّهِ ، فَإِنَّ اللَّهَ لا يَقْبَلُ إِلا مَا أُخْلِصَ لَهُ ، وَلا تَقُولُوا : هَذَا لِلَّهِ وَلِلرَّحِمِ ، فَإِنَّهَا لِلرَّحِمِ وَلَيْسَ لِلَّهِ مِنْهَا شَيْءٌ “

Allah Swt berfirman; Aku adalah sebaik-baik sekutu. Barangsiapa mempersekutukan Aku dengan yang lain, berarti dia telah menyerahkan kepada sekutu itu. Wahai manusi! Beramallah kaliang dengan ikhlas karena Allah Swt, sesungguhnya Allah tidak menerima amal seseorang, kecuali didasari keikhlasan kepada-Nya. Janganlah kalian mengucapkan, ‘Ini demi Allah dan demi keluarga. Perbutan itu hanya karena keluarga, tidak sedikitpun karena Allah.”

Dalam hadis lain riwayat Ibnu Majah dan al-Baihaqi dari kakek Rubaih bin Abdirrahman bin Abi Sa’id al-Khudri, dia berkata;

 خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُوْلُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ اْلمَسِيْحَ الدَّجَّالَ ، فَقَالَ : ” أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُم عِنْدِيْ مِنَ اْلمَسِيْحِ الدَّجَّالِ ؟ ” فَقُلْنَا : بَلىَ يَا رَسُولَ اللهِ ! قَالَ : ” الشِّرْكُ اْلخَفِيُّ ، أَنْ يَقُوْمَ الرَّجُلُ فَيُصَلِّيْ ، فَيَزِيْدُ صَلاَتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظْرِرَجُلٍ.

“Nabi Saw menghampiri kami pada saat kami ngobrol tentang al-Masih al-Dajjal. Kemudian Nabi Saw berkata; ‘Maukah aku beritahukan pada kalian tentang sesuatu yang paling aku takutkan daripada fitnah Dajjal? Para sahabat menjawab, Baik wahai Rasulullah. Nabi Saw bersabda: ‘syirik yang tersembunyi, seseorang bangkit untuk melaksanakan shalat, kemudian dia menambah shalatnya karena ia tahu ada seseorang yang memperhatikannya.”

Dengan ayat dan dua hadis di atas, dalam melakasanakan ibadah mahdhah khususnya shalat, kita harus memurnikan niat hanya kepada Allah supaya ibadah tersebut diterima oleh-Nya. Apabila disisipi dengan tujuan lain, maka disebut al-Syirk al-Khafi, syirik yang halus dan ibadah tersebut tidak akan diterima Allah.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here