BincangSyariah.Com- Tak sengaja ketika melewati jalan menuju tempat kerja, kami membaca salah satu bener yang dipasang oleh lembaga pengumpul zakat, di sana tertuliskan “ZAKAT AKHIR TAHUN”. Kami bertanya-tanya apa yang dimaksud dengan akhir tahun di sini. Kalau melihat dari waktu pemasangannya kemungkinan besar dimaksudnya adalah akhir tahun 2016 atau tahun masehi. Lantas masalahnya apa? Mungkin sebagian kita bertanya seperti itu. 

Setidaknya ada dua masalah yang akan muncul dari kalimat tersebut. Pertama, zakat setiap orang akan berbeda-beda, tergantung sejak kapan harta yang akan dizakati tersebut dimiliki. Karenanya sangat mungkin satu orang dengan orang lain akan berbeda dalam hal ‘akhir tahun’ atau mengeluarkan zakatnya. 

Kedua, tahun yang digunakan bukan lah tahun masehi, akantetapi tahun hijriyah. Ibadah yang sudah ditentukan waktunya dalam Islam harus menggunakan bulan-bulan hijriah. Misalnya puasa dilaksanakan pada bulan Ramadhan, haji pada bulan Dzulhijjah, penghitungan masa Iddah, dan beberapa contoh lainnya.

Untuk itu dalam penentuan haul zakat emas atau zakat penghasilan misalnya harus dihitung berdasarkan bulan hijriah. Misalkan mulainya pada bulan Syawwal maka akhir tahunnya adalah bulan Ramadhan. Karenanya alangkah baiknya bagi setiap kita (orang pribadi atau badan hukum) musti memiliki buku catatan keuangan yang menggunakan bulan hijriah. Agar mudah menghitung apakah harta yang kita miliki telah mencapai haul atau tidak. 

Namun bukan berarti kita tidak boleh menggunakan masehi. Dalam hal muamalat seperti menggaji karyawan, waktu sekolah, surat menyurat dan persoalan mu’amalat lainnya kita dapat menggunakan masehi. Bahkan penggunaan Masehi bisa menjadi sangat dianjurkan, karena lebih sering dan banyak digunakan sehingga tidak menimbulkan kesalah pahaman. 

Pertanyaannya adalah apa perbedaan antara tahun hijriah dengan tahun masehi? Setidaknya ada dua perbedaan yang paling mencolok. Pertama, jumlah harinya. Satu bulan hijriah jumlah harinya adalah antara 29-30. Sedangkan bulan masehi 30-31 atau 28-29 pada bulan Februari. Kedua, Patokan pada saat penentuan awal bulan. Penentuan awal bulan pada tahun masehi mengikuti matahari, sedangkan hijriah mengikuti peredaran bulan. 

Sebagai informasi tambahan yang musti kita hafal bulan-bulan hijriah adalah Muharram (1), Shafar (2), Rabi’ul Awal (3) Rabi’ul Akhir (4), Jumadil Ula (5), Jumadil Akhir (6), Rajab (7), Sya’ban (8), Ramadhan (9), Syawwal (10), Zul Qa’dah (11), Zulhijjah (12). 

Wallahu A’lam.

Baca Juga :  Shalat Rajab Menurut Imam Ghazali

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here