Hukum Zakat yang Salah Sasaran

0
936

BincangSyariah.Com – Bagaimana hukumnya zakat yang salah sasaran? Misalnya, kita berikan zakat pada orang yang kita kira fakir/miskin. Lalu kemudian baru diketahui bahwa orang tersebut adalah orang kaya.

Ulama menyebutkan, apabila ada seseorang yang salah menyalurkan zakatnya kepada orang yang sebenarnya tidak berhak menerimanya, maka kewajiban zakatnya belum gugur, meskipun saat memberikan ia memiliki dugaan kuat kalau ia tidak salah sasaran. Kaidah fikih mengatakan:

لا عبرة بالظن البين خطؤه

“Tidak ada pertimbangan hukum dengan dugaan yang nyata-nyata keliru.”

Artinya, ia harus mengeluarkan harta lagi untuk menunaikan kewajiban zakatnya. Selain itu, ia tidak boleh meminta kembali harta yang sudah terlanjur diserahkannya, kecuali apabila saat menyerahkan ia sudah menjelaskan pada si penerima bahwa itu adalah zakat.

Beda lagi masalahnya kalau yang menyalurkan zakat adalah imam (pemerintah/BAZNAS). Kalaupun pemerintah salah sasaran dalam penyalurannya, itu sudah bukan lagi tanggung jawab si pemilik harta. Sebab, dengan memasrahkan penyaluran zakat kepada pemerintah, pemilik harta sudah lepas tanggungan dari kewajiban zakatnya. Pemerintah nantinya tinggal meminta kembali harta zakat yang salah sasaran tersebut dan kemudian diserahkan kepada pihak yang berhak menerima zakat sebagaimana harusnya.

Rumusan-rumusan hukum di atas sesuai dengan penjelasan ulama-ulama mazhab Syafi’i dalam kitab-kitab mereka, seperti Syekh Zainuddin al-Malibari dalam Fath al-Mu’in,

ولا تتأدى بذلك إن كان الدافع المالك وإن ظن استحقاقهم. ثم إن كان الدافع يظن الاستحقاق الامام: برئ المالك، ولا يضمن الامام، بل يسترد المدفوع، وما استرده صرفه للمستحقين.

“Jika penyaluran zakat yang salah sasaran tersebut dilakukan langsung oleh pemilik harta, maka zakatnya tidak terpenuhi, meski ia menduga bahwa si penerima berhak menerima zakat.”

“Tapi jika yang salah menyalurkan adalah imam, maka si pemilik harta sudah bebas dari tanggungan zakat. Sementara itu, imam harus menarik kembali harta zakat dari si penerima dan kemudian menyalurkannya kepada orang yang berhak menerima zakat.”

Dan Syekh Zakaria al-Anshari dalam Asna al-Mathalib,

بِخِلَافِ الْمَالِكِ) لَا يَسْتَرِدُّ إلَّا إنْ بَيَّنَ أَنَّهَا زَكَاةٌ لِأَنَّهُ قَدْ يَتَطَوَّعُ)

“Pemilik harta tidak boleh meminta kembali harta zakat yang terlanjur diserahkannya, kecuali jika ia sudah menjelaskan (pada si penerima) bahwa harta yang diberikannya adalah zakat. Sebab, bisa saja ia melakukan sedekah sunah.”

Selanjutnya, apabila ternyata harta zakat yang salah sasaran tersebut ternyata sudah terlanjur rusak/habis di tangan si penerima, maka sebagai gantinya yang diminta adalah harta yang bernilai sepadan. Masih dalam kitab yang sama Zakaria al-Anshari berkata,

فَإِنْ تَلِفَ الْمَدْفُوعُ رَجَعَ الدَّافِعُ بِبَدَلِهِ وَدَفَعَهُ لِلْمُسْتَحِقِّينَ

“Apabila harta yang diserahkan terlanjur rusak/habis, maka yang diminta adalah gantinya (barang yang sama) lalu kemudian diserahkan kepada yang berhak menerima zakat.”

Wallahu a’lam.

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here