Hukum Thawaf Wada’ bagi Jamaah Umrah

1
2682

BincangSyariah.Com – Bagi yang pernah berkunjung ke Makkah al-Mukarromah, baik berhaji maupun umrah pastinya tidak asing lagi ketika mendengar istilah thawaf wada’. Biasanya thawaf al-wada’ ini dilakukan ketika jamaah haji atau umrah akan melangkahkan kaki keluar dari Makkah al-Mukarromah sebagai simbol perpisahan. Oleh sebab itu, thawaf ini disebut dengan wada’ dalam bahasa Indonesia berarti berpisah. Lalu bagaimana sebenarnya hukum mengerjakan thawaf wada bagi jamaah umrah?

Bila kita lihat dalam beberapa kitab, terdapat keterangan bahwa perintah adanya thawaf wada’  berdasarkan hadits yang disampaikan oleh Ibnu Abbas :

أُمِرَ النَّاسُ أَنْ يَكُونَ آخِرُ عَهْدِهِمْ بِالْبَيْتِ ، إِلاَّ أَنَّهُ خُفِّفَ عَنِ الْحَائِضِ

“Manusia diperintahkan menjadikan akhir amalannya di baitullah (thawaf wada’), hanya saja ada keringanan bagi wanita yang sedang mengalami haid.” [HR. Bukhari]

Perintah dalam hadis tersebut disampaikan secara umum, tidak ada takhsis (kekhususan) apakah  hanya bagi orang yang haji, umrah, dan sebagainya, tidak ada ketentuan. Oleh sebab itu para ulama berbeda pendapat. Terlepas dari perbedaan tersebut, Imam an-Nawawi mentarjih pendapat dalam kitab al-Majmu’ beliau menyampaikan bahwa pendapat yang sahih dan terkenal mengenai hukum thawaf wada’ adalah sunnah bagi siapa pun yang hendak keluar Makkah, tidak hanya untuk yang umrah dan haji. [al-Majmu’ Syarhu al-Muhadzab]

Berdasarkan pendapat Imam an-Nawawi tersebut, maka melaksanakan thawaf wada’ bagi jamaah umrah hukumnya adalah sunnah. Sehingga boleh untuk ditinggalkan, namun yang lebih utama adalah tetap dilakukan. Karena termasuk bagian dari kesunahan, agar umrah yang dilakukan mendapat keutamaan. Demikian, Wallahu A’lam Bis Shawab.

Baca Juga :  Membangun Nalar Teks Syariah

1 KOMENTAR

  1. […] Selain itu, Rasulullah saw. juga mengapresiasi umat Muslim yang mau menyebarkan kedamaian kepada siapapun, baik yang ia kenal maupun tidak. Di dalam teks hadis tersebut beliau menggambarkan Muslim terbaik adalah yang tidak enggan mengucapkan salam kepada koleganya maupun bukan. Imam At-Thibi mengatakan bahwa menyebarkan salam merupakan faktor pendorong timbulnya rasa cinta. Dan rasa cinta itu simbol dari sempurnanya iman seseorang. Dan menyebarkan salam yang dapat menimbulkan rasa cinta itu dapat mendorong timbulnya rasa cinta antarsesama muslim. Dan hal tersebut dapat mengokohkan persatuan agama Islam.Baca Juga :  Hukum Thawaf Wada’ bagi Jamaah Umrah […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here