Hukum Takbiran Sampai Pagi

0
1531

BincangSyariah.Com – Hari raya Idulfitri selalu identik dengan takbiran. Takbiran tersebut dilakukan dalam rangka menyambut hari kemenangan setelah sebulan berpuasa dengan mengagungkan Allah. Takbiran juga sebagai bentuk rasa syukur atas segala kesehatan dan kenikmatan yang diberikan Allah hingga berjumpa kembali dengan hari raya Idulfitri. Allah berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 185:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”

Dalam tafsir Al-Jami` Li Ahkamil Quran karya Al-Qurthubi disebutkan bahwa ayat ini telah menjadi dasar masyruiyah atas ibadah takbir di malam hari raya Idulfitri. Sebab ayat ini memerintahkan begitu hitungan Ramadan telah lengkap, maka bertakbirlah. Artinya, takbir tidak dimulai sejak pagi hari keesokan harinya, melainkan sejak terbenam matahari. Sebab pada saat itulah diketahui telah sempurnanya bulan Ramadan.

Takbir, kalimat ’Allahu akbar’ termasuk zikir umum yang disyariatkan untuk sering diucapkan dan sering dibaca. Sebagaimana zikir lainnya, seperti tasbih, tahmid, atau tahlil. Dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﺃَﺣَﺐُّ ﺍﻟْﻜَﻠَﺎﻡِ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠﻪِ ﺃَﺭْﺑَﻊٌ: ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠﻪِ،‏‎ ‎ﻭَﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَّﻪِ، ﻭَﻟَﺎ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟﻠﻪُ، ﻭَﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ. ﻟَﺎ‎ ‎ﻳَﻀُﺮُّﻙَ ﺑِﺄَﻳِّﻬِﻦَّ ﺑَﺪَﺃْﺕَ

Kalimat yang paling Allah cintai ada empat: Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaaha illallah, dan Allahu akbar. Kamu mulai dengan kalimat manapun, tidak jadi masalah.” (HR. Muslim 2137)

Baca Juga :  Apakah Puasa Arafah Harus Sesuai dengan Hari Wukuf di Arafah?

Sama halnya dengan membaca tasbih, membaca takbir pun bisa dilakukan kapan dan di mana saja. Seperti yang banyak kita lihat di beberapa tempat, ketika malam hari raya mereka bertakbir mulai dari setelah Isya hingga esok pagi menjelang salat Idulfitri. Tidak ada larangan khusus perihal fenomena tersebut, melainkan itu anjuran Rasulullah dalam menyambut hari raya. Nabi bersabda:

زينوا اعيادكم بالتكبير

“Hiasilah hari raya kalian dengan memperbanyak membaca takbir”.

Rasulullah secara langsung menyuruh umatnya untuk memperindah hari raya dengan memperbanyak membaca takbir. Dengan begitu sudah jelas hukumnya bahwa takbiran yang dilakukan hingga pagi hari tidak dilarang oleh Nabi. Bahkan banyak manfaat dan faedah yang didapat oleh sang pembaca takbir tersebut.

Dalam suatu riwayat disebutkan:

كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ فَيُكَبِّر حَتَّى يَأْتِيَ المُصَلَّى وَحَتَّى يَقْضِيَ الصَّلاَةَ فَإِذَا قَضَى الصَّلاَةَ ؛ قَطَعَ التَّكْبِيْر

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar hendak salat pada hari raya Idulfitri, lantas beliau bertakbir sampai di lapangan dan sampai salat hendak dilaksanakan. Ketika salat hendak dilaksanakan, beliau berhenti dari bertakbir.”

Hadis tersebut memberikan pelajaran kepada kita, bahwa Nabi pun membaca takbir sampai waktu salat Idulfitri telah dekat. Kita sebagai umatnya yang mencintai beliau sudah sepantasnya meniru amalan salehnya yang dapat mendekatkan kita pada Allah, salah satunya dengan memperbanyak takbir menjelang hari raya Idulfitri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here