Hukum Tahallul dalam Umrah

0
13

BincangSyariah.Com – Menurut ulama Syafiiyah, rukun umrah ada empat. Pertama, ihram dengan niat melakukan umrah. Kedua, melakukan thawaf. Ketiga, melakukan sa’i antara bukit Shafa dan bukit Marwah. Keempat, tahallul dengan mencukur atau memotong rambut minimal tiga helai rambut. (Baca: Bolehkah Tahallul dengan Cara Memotong Rambut Sendiri?)

Dengan demikian, menurut ulama Syafiiyah, tahallul dengan mencukur atau memotong rambut termasuk bagian dari rukun umrah. Jika seseorang melaksanakan umrah namun tidak melakukan tahallul dengan mencukur atau memotong rambutnya minimal tiga helai rambut, maka umrahnya dinilai tidak sah.

Sementara menurut ulama Hanafiyah, Malikiyah, dan Hanabilah, tahallul dengan mencukur atau memotong rambut bukan termasuk bagian dari rukun umrah, melainkan termasuk bagian dari wajib umrah. Oleh karena itu, jika seseorang melaksanakan umrah namun tidak melakukan tahallul dengan mencukur atau memotong rambutnya, maka umrahnya tetap dinilai sah, hanya saja dia wajib membayar dam sebagai gantinya.

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah berikut;

يَجِبُ فِي الْعُمْرَةِ أَمْرَانِ:الأْوَّل: السَّعْيُ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ، وَقَال غَيْرُهُمْ: هُوَ رُكْنٌ.الثَّانِي: الْحَلْقُ أَوِ التَّقْصِيرُ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ وَالْمَالِكِيَّةِ، وَالْحَنَابِلَةِ، وَقَال الشَّافِعِيَّةُ فِي الرَّاجِحِ عِنْدَهُمْ: إِنَّهُ رُكْنٌ

Dua hal yang wajib dalam umrah. Pertama, melakukan sa’i antara Shafa dan Marwah menurut ulama Hanafiyah dan Hanabilah. Sementara menurut ulama lainnya, sa’i antara Shafa dan Marwah adalah rukun umrah. Kedua, mencukur atau memotong rambut menurut ulama Hanafiyah, Malikiyah, dan Hanabilah. Sementara menurut pendapat yang unggul di kalangan ulama Syafiiyah, mencukur atau memotong rambut adalah rukun umrah.

Meski ulama berbeda pendapat mengenai status tahallul dalam umrah, namun mereka sepakat bahwa jika seseorang telah melakukan tahallul umrah dengan mencukur atau memotong rambutnya, maka dia boleh melakukan apa saja yang sebelumnya diharamkan untuk dilakukan selama ihram umrah. Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah berikut;

التَّحَلُّل مِنْ إِحْرَامِ الْعُمْرَةِ: اتَّفَقَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ عَلَى أَنَّ لِلْعُمْرَةِ بَعْدَ أَدَائِهَا تَحَلُّلاً وَاحِدًا تُبَاحُ بِهِ لِلْمُحْرِمِ جَمِيعُ مَحْظُورَاتِ الإْحْرَامِ، وَيَحْصُل هَذَا التَّحَلُّل بِالْحَلْقِ أوِ التَّقْصِيرِ بِاتِّفَاقِ الْمَذَاهِبِ

Tahallul dari ihram umrah: Kebanyakan ulama fiqih telah sepakat bahwa umrah setelah selesai dilaksanakan hanya memiliki satu tahallul, yang dengan tahallul tersebut semua larangan-larangan ihram dibolehkan untuk dilakukan. Tahallul ini bisa terwujud dengan mencukur atau memotong rambut dengan kesepakatan para ulama madzhab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here