Hukum Suami Memandikan Jenazah Istri atau Sebaliknya

0
13324

BincangSyariah.Com – Di suatu daerah, pernah dijumpai seorang suami memandikan jenazah istrinya. Dalam Islam, bolehkah suami memandikan jenazah istri atau sebaliknya istri memandikan suami?

Pada dasarnya, jenazah laki-laki dimandikan oleh kaum laki-laki dan jenazah perempuan dimandikan oleh kaum perempuan. Bahkan dilarang memandikan jenazah orang lain yang berbeda jenis kecuali ada sebab-sebab tertentu. Hal ini dimaksudkan agar aurat jenazah tersebut terpelihara dari pandangan dan sentuhan orang yang berbeda jenis dengannya.

Mengenai masalah ini telah dikatakan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Raudhatut Thalibin sebagai berikut;

الأصل أن يغسل الرجال الرجال والنساء النساء …….والنساء أولى بغسل المرأة بكل حال

“Pada dasarnya, kaum laki-laki memandikan jenazah laki-laki dan perempuan memandikan jenazah perempuan. Perempuan lebih utama memandikan perempuan dalam semua kondisi.”

Selanjutnya, dalam kitab Raudhatut Thalibin disebutkan bahwa bagi kaum laki-laki dibolehkan memandikan jenazah yang berbeda jenis jika ada sebab-sebab yang dibolehkan. Di antara sebab-sebab yang dibolehkan tersebut adalah adanya hubungan pernikahan atau sebagai suami-istri. Karena itu, suami boleh memandikan jenazah istri atau sebaliknya, istri boleh memandikan jenazah suami.

وليس للرجل غسل المرأة إلا لأحد أسباب ثلاثة أحدها الزوجية فله غسل زوجته المسلمة والذمية ولها غسله

“Tidak boleh bagi laki-laki memandikan jenazah perempuan kecuali karena tiga sebab berikut. Pertama, karena adanya hubungan suami-istri. Maka suami boleh memandikan jenazah istrinya baik muslimah atau non-muslim. Juga istri boleh memandikan jenazah suami.”

Dalam kitab Aliqna’ juga disebutkan kebolehan suami memandikan jenazah istri atau sebaliknya. Imam Assyarbini mengatakan;

والرجل أولى بالرجل والمرأة أولى بالمرأة وله غسل حليلته من زوجة غير رجعية

“Laki-laki lebih utama memandikan jenazah laki-laki dan perempuan lebih utama memandikan jenazah perempuan. Bagi laki-laki boleh memandikan jenazah yang halal baginya, yaitu istri tidak ditalak raj’i.”

Kebolehan tersebut berdasarkan hadis riwayat Imam Ahmad dari Sayidah Aisyah, dia berkata;

رَجَعَ إِلَيَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ مِنْ جَنَازَةٍ بِالْبَقِيعِ، وَأَنَا أَجِدُ صُدَاعًا فِي رَأْسِي، وَأَنَا أَقُولُ: وَارَأْسَاهْ قَالَ: بَلْ أَنَا وَارَأْسَاهْ ثم قَالَ:  مَا ضَرَّكِ لَوْ مِتِّ قَبْلِي، فَغَسَّلْتُكِ وَكَفَّنْتُكِ، ثُمَّ صَلَّيْتُ عَلَيْكِ، وَدَفَنْتُكِ

“Suatu hari Nabi Saw. pulang ke rumahku setelah mengantar ke kuburan Baqi’, saat itu aku merasa kepalaku sakit sekali sehingga aku berkata; ‘Oh, betapa sakitnya kepalaku ini.’ Nabi Saw. juga berkata; ‘Saya juga sakit kepala.’ Kemudian beliau bersabda; ‘Jangan khawatir, karena seandainya engkau meninggal lebih dulu dariku, maka aku sendiri yang akan memandikanmu, mengafanimu, menyalatimu, dan menguburkanmu.”

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here