Hukum Sholat Sambil Melihat dan Membaca Mushaf Al-Quran Menurut 4 Mazhab

3
64

BincangSyariah.Com – Di era globalisasi yang serba instan ini, pendidikan merupakan kebutuhan pokok untuk menciptakan generasi yang ilmiah amaliah dan amaliah ilmiah, sehingga bisa melakukan ibadah dengan sempurna. Ulama 4 mazhab berbeda pendapat mengenai sholat sambil melihat dan membaca mushaf Al-Qur’an. Dengan cara sudah hafal tanpa melihat mushaf itu tentu lebih baik. Berikut beberapa pendapat Ulama terkait hukum sholat sambil melihat dan membaca mushaf Al-Qur’an: (Baca: Manfaat Membaca Al-Quran dengan Melihat Mushaf)

Sholat Sambil Melihat dan Membaca Mushaf Al-Quran Menurut Ulama 4 Mazhab

Hukum membaca bacaan sholat dengan cara melihat Mushaf, Ulama berbeda pendapat dari berbagai Mazhab empat, bahkan mayoritas memperbolehkannya, hanya saja ada sebagian pendapat dari kalangan Mdzhab Malikiyah yang mengatakan makruh sholat dengan cara tersebut, bahkan pendapat Imam Abu Hanifah mengatakan sholatnya batal.

Pertama, Ulama Kalangan Mazhab Syafi’iyah

Imam Nawawi menjelaskan, orang sholat itu boleh melihat Mushaf, baik hafal atau tidak. Imam Nawawi mengatakan:

لو قرأ القرآن من المصحف لم تبطل صلاته سواء كان يحفظه أم لا بل يجب عليه ذلك إذا لم يحفظ الفاتحة كما سبق ولو قلب أوراقه أحيانا في صلاته لم تبطل ولو نظر في مكتوب غير القرآن وردد ما فيه في نفسه لم تبطل صلاته وإن طال لكن يكره نص عليه الشافعي في الاملاء

“Jika membaca Al-Qur’an dengan melihat Mushaf, maka sholatnya tidak batal, baik hafal atau tidak. Bahkan menjadi wajib melihat Mushaf apabila tidak hafal surah Al-Fatihah sebagaimana penjelasan sebelumnya. Begitupun tidak batal apabila sampai membolak-balik Al-Qur’an di waktu-waktu tertentu. Juga tidak batal bagi orang sholat yang melihat catatan-catatan lain selain Al-Qur’an dan diulang-ulang isinya dalam hati meski lama, akan tetapi hukumnya makruh. Demikian penjelasan Imam as-Syafi’I dalam kitab al-Imla’.” (Lihat, Imam Nawawi, Majmu Syarh al-Muhaddzab, juz 4, hlm 95)

Kedua, Ulama kalangan Mazhab Hanabilah

Syaikh Muhammad Sulaiman dalam kitab at-Ta’liq ala al-Iddah Syarh al-Umdah mengatakan, bagi orang yang sedang sholat, baik sendiri maupun berjama’ah, itu boleh membaca surah Al-Qur’an dengan cara melihat Mushaf. Beliau mengatakan:

يجوز للمنفرد والمنفردة أن يقرأ من المصحف ويجوز للامام أن يقرأ من المصحف

“Boleh bagi orang sholat munfarid (sendiri), baik laki-laki maupun perempuan membaca Al-Qur’an dengan cara melihat mushaf. Juga boleh bagi imam membaca Al-Qur’an dengan melihat Mushaf”. (Lihat, at-Ta’liq ala al-Iddah Syarh al-Umdah, juz 14, hlm, 12)

Ketiga, Ulama kalangan Mazhab Malikiyah

Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Alais dalam kitab Manhul Jalil Syarah Mukhtasor al-Kholil menjelaskan bahwa Makruh hukumnya melihat bacaan Mushaf ketika sholat, baik sholat Fardlu maupun sholat Sunnah. Syaikh Alais mengatakan:

وكره (نظر بمصحف) أي قراءة فيه (في) صلاة (فرض) سواء كانت في أوله أو في أثنائه أو في أثناء نفل لكثرة اشتغاله به

“Makruh melihat bacaan dari Mushaf dalam sholat Fardhu, baik melihat di awal sholat maupun pertengahan sholat, atau juga di pertengahan sunnah, karena banyaknya pekerjaan dengan cara melihat Mushaf”. (Lihat, Manhul Jalil, juz 1, hlm 345)

Keempat, Ulama kalangan Mazhab Hanafiyah

Syaikh Utsman bin Ali dari kalangan Ulama Mazhab Hanafi mengutip beberapa pendapat dari kalngan Hanafi, bahwa melafalkan bacaan sholat dengan cara melihat Mushaf terjadi perbedaan pendapat, ada yang mengatakan batal, dan itu pendapat murni Imam Abu Hanifah, ada juga yang mengatakan makruh tidak sampai membatalkan sholat dan ini pendapat dari Syaikh Abu Yusuf dari kalngan Mazhab Hanafi. Syaikh Utsman menjelaskan:

(وَقِرَاءَتُهُ من مُصْحَفٍ) يَعْنِي تَفْسُدُ الصَّلَاةُ وَهَذَا عِنْدَ أبي حَنِيفَةَ وقال أبو يُوسُفَ وَمُحَمَّدٌ تُكْرَهُ وَلَا تَفْسُدُ صَلَاتُهُ لِمَا رُوِيَ عن ذَكْوَانَ مولى عَائِشَةَ رضي اللَّهُ عنهما أَنَّهُ كان يَؤُمُّهَا في شَهْرِ رَمَضَانَ وكان يَقْرَأُ من الْمُصْحَفِ

“(Membaca bacaan sholat dengan melihat Mushaf) maksudnya, diantara batalnya sholat adalah membaca bacaan sholat dengan cara melihat mushaf, dan ini pendapat Imam Abu Hanifah. Syaikh Abu Yusuf dan Syaikh Muhammad berkata: dimakruhkan dan tidak sampai membatalkan sholat, karena ada sebuah riwayat dari Dzakwan budah sahaya siti Aisyah radiyallahu ‘anhuma bahwa siti Aisyah sholat berjama’ah dengannya sebagai makmum di bulan Romadhon, dan Dzakwan membaca bacaan sholat dengan cara melihat Mushaf”. (Lihat, Tabyin al-Haqa’iq, juz 1, hlm 158)

100%

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here