Hukum Shalat Sunah Sambil Duduk

0
650

BincangSyariah.Com – Sarana untuk mendapatkan pahala di dalam Islam sangatlah banyak. Allah SWT tidak hanya memerintahkan ibadah wajib, tetapi juga menganjurkan untuk memperbanyak ibadah sunah. Hampir setiap ibadah terdapat kewajiban dan kesunahan. Dalam shalat misalnya, ada shalat wajib dan ada pula shalat sunah. Demikian pula puasa, ada yang wajib dan ada yang sunah. Bahkan, pada shalat dan puasa wajib pun nanti juga ada kesunahan di dalamnya.

Aturan pelaksanaan ibadah sunah biasanya tidak seberat ibadah wajib. Dalam kaidah fikih disebutkan, al-nafl awsa’ min al-fardh (sunah lebih luas cakupannya dibandingkan fardhu). Maksudnya, ibadah sunah lebih fleksibel dibanding ibadah wajib. Terdapat beberapa hal yang mesti ada dan tidak boleh tinggalkan saat ibadah wajib, namun boleh diabaikan ketika mengerjakan ibadah sunah.

Misalnya, keharusan berdiri saat shalat. Berdiri bagi orang mampu termasuk bagian dari rukun shalat dan tidak sah shalat bila tidak berdiri bagi yang mampu. Akan tetapi, dalam shalat sunah tidak diharuskan berdiri. Meskipun mampu berdiri, mengerjakannya sambil duduk tetap diperbolehkan.

Zaynuddin al-Malibari dalam Fathul Mu’in mengatakan:

فيجوز له أن يصلي النفل قاعدا ومضطجا مع القدرة على القيام أو القعود، ويلزم المضطجع القعود للركوع والسجود، أما مستلقيا فلا يصح مع إمكان الاضطجاع.

Shalat sunah sambil duduk dan berbaring dibolehkan walaupun mampu berdiri dan duduk. Akan tetapi, bagi orang yang berbaring diharuskan duduk ketika ruku’ dan sujud. Adapun shalat sunah dalam kondisi tidur terlentang dihukumi tidak sah bila masih sanggup berbaring

Berdasarkan penjelasan penulis Fathul Mu’in di atas, shalat sunah dibolehkan sambil duduk dan berbaring, meskipun mampu berdiri dan duduk. Dengan demikian, kewajiban berdiri tidak berlaku pada shalat sunah dan hanya berlaku untuk shalat wajib. Akan tetapi, shalat sunah tidak boleh dilakukan sambil tidur telentang bila masih sanggup berdiri dan duduk.

Baca Juga :  Alasan Puasa Sunah Diharamkan pada Hari Tasyriq

Namun perlu diingat, terkadang nilai dari sebuah amalan diukur berdasarkan tingkat kesulitan yang dihadapi saat mengerjakan amalan tersebut. Semakin sulit dan susah, semakin besar ganjaran yang dihadapi. Shalat dalam keadaan berdiri tentu lebih berat dan sulit dibanding shalat sambil duduk. Wallah a’lam.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here