Hukum Shalat Sambil Menahan Kentut

0
708

BincangSyariah.Com – Ketika kita sedang melaksanakan shalat, terkadang secara tiba-tiba kita kepengin mengeluarkan kentut. Karena di tengah-tengah shalat, maka kita pun biasanya berusaha sekuat mungkin untuk menahan kentut tersebut agar jangan sampai keluar. Bagaimana hukum melaksanakan shalat sambil menahan kentut?

Menurut Imam Al-Shan’ani, jika kita menahan kentut sambil kebelet hingga menghilangkan rasa khusyuk dan fokus dalam shalat, maka hukumnya makruh. Namun jika hanya menahan biasa tanpa disertai kebelet, maka menahan seperti ini tidak makruh. (Baca: Mengapa Kentut Menjadikan Wudhu Batal?)

Oleh karena itu, jika kita sedang melaksanakan shalat, dan tiba-tiba kebelet ingin mengeluarkan kentut, maka kita sebaiknya mengeluarkan kentut, dan kemudian kita wudhu dan mengulangi shalat. Namun jika tidak kebelet, maka kita boleh menahannya dan terus melanjutkan shalat.

Dalam kitab Subulus Salam, Imam Al-Shan’ani berkata sebagai berikut;

وَيَلْحَقُ بِهِمَا مُدَافَعَةُ الرِّيحِ فَهَذَا مَعَ الْمُدَافَعَةِ، وَأَمَّا إذَا كَانَ يَجِدُ فِي نَفْسِهِ ثِقَلَ ذَلِكَ وَلَيْسَ هُنَاكَ مُدَافَعَةٌ فَلَا نَهْيَ عَنْ الصَّلَاةِ مَعَهُ، وَمَعَ الْمُدَافَعَةِ فَهِيَ مَكْرُوهَةٌ، قِيلَ تَنْزِيهًا لِنُقْصَانِ الْخُشُوعِ

Disamakan dengan hukum menahan kencing dan air besar adalah menahan kentut. Ini jika disertai kebelet. Adapun jika dirinya mampu menahan dan tidak ada rasa kebelet, maka tidak terlarang untuk shalat sambil menahannnya. Dan jika disertai kebelet, maka hukumnya makruh karena bisa mengurangi rasa khusyuk.

Adapun dalil yang dijadikan dasar kemakruhan menahan kentut adalah hadis riwayat Imam Muslim, dari Sayidah Aisyah, dia pernah mendengar Nabi Saw bersabda;

لَا صَلَاةَ بِحَضْرَةِ طَعَامٍ وَلَا وَهُوَ يُدَافِعُهُ الْاَخْبَثَانِ

Tidak ada shalat di hadapan makanan, begitu juga tidak ada shalat sedang ia menahan air kencing dan air besar.

Baca Juga :  Tadarus Al-Qur'an dengan Bacaan Cepat, Bolehkah?

Berdasarkan hadis ini, menurut Imam Nawawi, menahan apapun yang dapat mengurangi kekhusyukan dalam shalat, seperti menahan kentut, menahan ngantuk, menahan kencing dan lainnya, maka hukumnya makruh. Beliau berkata, sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Minhaj Syarh Muslim berikut;

كَرَاهَةُ الصَّلَاةِ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ الَّذِي يُرِيدُ أَكْلُهُ لِمَا فِيهِ مِنَ اشْتِغَالِ الْقَلْبِ بِهِ وِذِهَابِ كَمَالِ الْخُشُوعِ وَكَرَاهَتِهَا مَعَ مُدَافَعَةِ الْأَخْبَثَيْنِ وَهُمَا الْبَوْلِ وَالْغَائِطِ وَيُلْحَقُ بِهَذَا مَا كَانَ فِي مَعْنَاهُ مِمَّا يُشْغِلُ الْقَلْبَ وَيُذْهِبُ كَمَالَ الْخُشُوعِ

Kemakruhan shalat ketika makanan dihidangkan dimana orang yang sedang shalat itu ingin memakannya. Hal ini dikarenakan akan membuat hatinya kacau dan hilangnya kesempurnaan khusyuk. Kemakruhan ini juga ketika menahan kencing dan buang air besar. Dan disamakan dengan hal tersebut adalah hal sama yang mengganggu hati dan menghilangkan kesempurnaan khusyuk.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here