Hukum Shalat di Shaf Belakang Sendirian

0
2109

BincangSyariah.Com – Biasanya di antara umat Islam ada yang ikut shalat jamaah dari awal dan ada pula yang terlambat satu atau dua rakaat. Sehingga ketika ia terlambat jamaah, akibatnya ia tidak mendapatkan shaf atau barisan shalat dengan jamaah lainnya. Oleh sebab itu, ia pun akan berada di shaf belakang sendirian. Lalu bagaimana hukum shalatnya seseorang yang berada di shaf belakang sendirian?

Menurut Syekh Ali Jumah sebagaimana dilansir di dalam Darul Ifta’ Al-Misriyah menyebutkan

وصلاة المنفرد خلف الصف إذا كانت لعذر -كأن لم يجد من يصف معه- صحيحة، فإذا انتفى العذر، فإنها تكون صحيحة مع الكراهة.

Shalatnya orang yang sendiri di belakang shaf jika karena uzur. Yakni tidak menemukan orang yang satu shaf dengannya, maka shalatnya sah. Jika tidak ada uzur, maka shalatnya sah disertai makruh.

Adapun dasarnya adalah hadis di dalam Shahih Al-Bukhari, riwayat Abu Bakrah r.a. Bahwa ia suatu saat terlambat shalat berjamaah bersama Nabi saw. Waktu itu, Nabi saw. sudah posisi ruku. Maka, Abu Bakrah r.a. langsung melakukan ruku sebelum ia sampai di shaf (ia membuat shaf sendirian di belakang). Lalu peristiwa itu disampaikan kepada Nabi saw. dan beliau pun bersabda

زَادَكَ اللهُ حِرْصًا، وَلا تَعُدْ

“Allah telah memberikan kamu kesempatan. Kamu tidak perlu mengulangi shalatmu.” Berdasarkan hadis tersebut, Rasulullah saw. mentolelir sahabatnya yang berada di shaf belakang sendirian tanpa disuruh mengulangi shalatnya. Artinya shalatnya tetap sah.

Namun, ada hadis lain riwayat imam Al-Thabrani yang menyebutkan berbeda. Yakni informasi dari Wabishah bin Ma’bad r.a.

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وآله وسلم رَأَى رَجُلًا يُصَلِّي خَلْفَ الصَّفِّ وَحْدَهُ فَأَمَرَهُ أَنْ يُعِيدَ الصَّلاةَ”

Baca Juga :  Lima Hal Perbedaan Laki-Laki dan Perempuan dalam Shalat

Bahwasannya Rasulullah saw. pernah melihat seorang laki-laki yang sedang shalat di belakang shaf sendirian. Lalu beliau memerintahkannya untuk mengulangi shalatnya.

Menurut Syekh Ali Jumah, hadis yang kedua tersebut perintah Nabi saw. bukan wajib, tetapi sunah. Yakni beliau mencoba mengkrompomikan dua hadis yang seakan bertentangan tersebut. Sehingga, orang yang berada di shaf belakang sendirian saat jamaah itu tetap sah shalatnya. Baik disengaja atau tidak. Hanya saja, disunahkan mengulang shalatnya sebagaimana teks hadis yang kedua tersebut.

Sementara menurut ulama madzhab Hanbali, batal shalatnya orang yang shalat di belakang shaf jamaah sendirian dengan tanpa adanya uzur alias disengaja. Dasar mereka adalah hadis riwayat Wabishah di atas.

Sedangkan jika kasusnya seseorang itu berada di shaf belakang karena tidak ada tempat lagi. Maka, ulama fiqih berbeda pendapat dalam hal ini.

Menurut ulama Malikiyyah dan salah satu dari pendapat ulama syafiiyah mengatakan bahwa seseorang yang berada di shaf sendirian tersebut hendaknya tetap berdiri di belakang shaf. Dia tidak boleh menarik salah satu makmum di depannya untuk menemani dirinya berdiri di shaf belakang. Hal ini disebabkan karena otomatis orang yang berada di depan tersebut meninggalkan keutamaan shaf bagian depan.

Bahkan ulama Malikiyyah menambahkan pendapat bahwa jika seseorang yang berada di belakang shaf tersebut menarik makmum yang berada di depannya, maka makmum tersebut boleh untuk menolaknya/tidak mentaati orang yang berada di saf belakang. Pendapat ini juga dipagang oleh salah satu ulama Hanafiyah yakni Al-Kamal bin Al-Hamam.

Adapun menurut ulama Hanafiyyah dan pendapat shahih dari ulama Syafiiyyah, disunahkan baginya untuk menarik seseorang yang berada di shaf depannya untuk menemaninya di shaf belakang.

Baca Juga :  Ini Makna di Balik Gerakan-gerakan Shalat

Tetapi dengan syarat orang yang ditarik itu dapat dipastikan (paham dengan isyarat kita dan) bersedia berpindah shaf ke belakang (dengan cara berjalan mundur satu langkah, satu langkah, tidak boleh langsung melakukan tiga langkah sekaligus, karena hal itu dapat membatalkannya. Disebabkan ia melakukan tiga gerakan berturut-turut). Jika ia tidak dapat dipastikan mau atau paham, maka tidak perlu menarik orang yang ada di depan shaf, khawatir justru malah menimbulkan fitnah.

Sedangkan menurut ulama Hanabilah, orang yang berada di shaf paling belakang tersebut hendaknya berdiri di samping imam jika memungkinkan. Jika tidak, maka ia memberi peringatan kepada seseorang untuk mau berdiri disampingnya. Jika tidak menemukan seseorang, maka ia shalat di belakang sendiri. Dan dimakruhkan untuk menarik seseorang yang ada di depan shafnya. Bahkan imam Ahmad dan Ishaq mengangap buruk hal itu.

Dengan demikian, maka orang yang berada di shaf paling belakang sendirian ketika berjamaah, shalatnya tetap sah menurut kesepakatan ulama fiqih. Dengan syarat ia tidak ada pilihan lain selain hal itu. Dan madzhab Hanafi dan Syafii memperbolehkan ia menarik seseorang yang berada di shaf depannya dengan syarat orang tersebut sudah setuju untuk mau ditarik ke belakang (misalnya memang temannya, dan dia paham jika hal itu diperbolehkan. Dan bukan orang yang tidak ia kenal).

Namun, jika ia tidak dapat memastikan orang yang berada di shaf depan dapat ditarik atau tidak, maka ia tidak perlu menarik teman dari shaf depan. Hal ini sebagai bentuk adab terhadap madzhab yang berpendapat tidak memperbolehkan menarik dari shaf depan serta menolak terjadinya fitnah. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here