Hukum Salat Sunah Qabliyah dan Bakdiyah Jum’at

0
491

BincangSyariah.Com – Salah satu persoalan yang sering dipersoalkan dalam pelaksanaan salat Jum’at adalah pertanyaan apakah hukum melaksanakan salat sunah qabliyah dan bakdiyah Jum’at, apakah amalan itu pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat atau tidak?

Dalam sebuah khutbahnya Syekh Ali Jum’ah –Mufti Mesir- mengatakan bahwa seseorang akan menjadi musuh dari hal yang tidak ia ketahui, walaupun persoalan tersebut benar adanya. Ungkapan ini sengaja penulis kutip sebagai nasehat bagi kita bersama agar tidak terburu-buru menyalahkan ataupun menganggap sesat golongan lain sebelum mempelajari alasan dan dalil-dalil yang mereka gunakan secara teliti dan seksama. Hal ini sangat penting agar terciptanya kehidupan yang harmonis dan saling menghargai antar masyarakat muslim dunia.

Salah satu persoalan yang seharusnya diteliti secara seksama oleh sebagian oknum yang gemar membid’ahkan amalan orang lain itu adalah persoalan di atas, yaitu bagaimana hukum pelaksanaan salat sunah qabliyah dan bakdiyah Jum’at. Hal ini terkadang menjadi persoalan besar di kalangan awam yang tidak terlalu mendalami ilmu agama. Mereka seringkali menjadi korban dari tuduhan bid’ah yang dilontarkan secara serampangan oleh sebagian oknum tersebut, yang menyebabkan ketidaknyamanan mereka dalam melaksanakan ibadah pada tiap minggunya.

Tulisan sederhana ini akan mencoba memaparkan secara ringkas pengertian dari amalan salat sunah qabliyah dan ba’diyah Jum’at beserta dalil-dalil yang melegitimasi kebolehannya, baik dari hadis-hadis Rasulullah SAW ataupun penjelasan-penjelasan dari para ulama terkemuka dan terpercaya keilmuannya. Untuk memudahkan pembaca, maka penulis akan mengklasifikasikan pembahasan ini sebagai berikut :

Apa itu salat sunah qabliyah dan ba’diyah Jum’at?

Salat sunah qabliyah –sebagaimana terambil dari kata qabl yang bermakna sebelum- mempunyai pengertian salat sunah yang dilaksanakan sebelum salat-salat fardhu. Sementara itu yang dimaksud dengan salat sunah ba’diyah –terambil dari kata ba’d yang bermakna setelah- adalah salat sunah yang dilakukan setelah salat fardhu. Salat-salat fardhu di sini mencakup salat fardhu yang lima, mulai dari salat Zuhur, Ashar, Magrib, ‘Isya, Subuh dan juga salat Jum’at, karena salat yang disebut terakhir ini termasuk salat yang di-fardhu-kan buat umat Islam, khususnya laki-laki.

Baca Juga :  Manfaat Membaca Surah Al-Baqarah

Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan :

عن عبد الله بن مغفل المزنى قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم “بين كل أذانين صلاة”  قالها ثلاثا قال فى الثالثة “من شاء”

Dari Abdullah bin Mughaffal al-Muzani, ia berkata “Rasulullah SAW bersabda di antara azan itu terdapat salat”, Rasulullah menyebutnya sebanyak tiga kali dan berkata pada yang ketiga “bagi siapa saja yang menginginkannya”.

Tidak ada perselisihan ulama mengenai kualitas hadis tersebut. Di samping diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, hadis tersebut juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Ya’la dalam kitab Musnadnya. Sementara itu para ulama memahami bahwa yang dimaksud dengan “di antara dua azan” pada hadis di atas adalah antara azan dan iqamah. Sehingga dapat dipahami bahwa Nabi Muhammad SAW menganjurkan -bagi siapapun yang menginginkannya- supaya di antara azan dan iqamah itu dikerjakan salat sunah terlebih dahulu, tak terkecuali salat Jum’at, karena shalat ini juga didahului oleh azan dan iqamah sebagaimana salat-salat fardhu yang lain.

Kemudian salat-salat qabliyah dan ba’diyah –yang disebut juga dengan salat sunah rawatib- ini dibagi lagi oleh para ulama kepada salat sunah rawatib yang muakkad dan yang ghairu muakkad. Salat sunah rawatib yang muakkad berjumlah 10 rakaat dan yang ghairu muakkad berjumlah 17 rakaat. Keterangan mengenai hal ini dapat ditemukan dalam kitab-kitab fikih yang beraliran Syafi’i dan dilengkapi dengan dalilnya masing-masing. Namun penulis tidak akan menuliskan rincian hal ini dalam tulisan yang terbatas ini, bagi pembaca yang berkeinginan untuk menelaahnya lebih lanjut, silahkan dilihat dalam referensi yang telah penulis cantumkan di atas.

Dalil Kesunahan Salat Sunah Qabliyah dan Ba’diyah Jum’at.

Baca Juga :  Benarkah Bingkisan Berkat Tahlilan Haram Dimakan?

Sebagaimana yang telah penulis singgung di atas bahwa hukum pelaksanaan salat sunat qabliyah dan ba’diyah Jum’at adalah sunnah. Orang yang mengerjakannya akan mendapatkan pahala dan tidak berdosa apabila meninggalkannya. Hukum sunah ini berdasarkan beberapa dalil, di antaranya :

  1. Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Kitab Shahihnya yang berasal dari Jabir bin Abdillah :

جاء رجل والنبي صلى الله عليه و سلم يخطب الناس يوم الجمعة، فقال أصليت يا فلان؟ قال “لا” قال “قم فاركع ركعتين”.

Seorang laki-laki datang sementara Nabi SAW tengah berkhutbah pada hari Jum’at, kemudian beliau berkata “sudahkah kamu melaksanakan salat wahai laki-laki?, lalu dia menjawab “belum”, Rasul pun berkata “berdirilah dan salatlah dua rakaat!

Dalam riwayat Ibn Majah yang bersumber dari Abi Hurairah disebutkan bahwa nama laki-laki tersebut adalah Sulaik al-Ghathafani dan dalam riwayat tersebut terdapat juga penambahan redaksi pada pertanyaan Nabi “apakah kamu sudah salat dua rakaat sebelum datang ke sini?”. Sehingga dari redaksi tersebut Syekh Syihab al-Din al-Qalyubi dan ‘Umairah menyimpulkan bahwa salat yang dimaksudkan oleh Nabi adalah salat sunah qabliyah Jum’at, bukan salat Tahiyyatul Masjid, karena tidak mungkin salat tahiyyatul masjid dikerjakan di rumah atau di luar masjid.

Sementara itu al-Mubarakfuri dalam kitabnya Tuhfah al-Ahwadzi memandang bahwa hadis yang paling tepat sebagai landasan kebolehan salat qabliyah Jum’at adalah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah ini. Beliau mengatakan bahwa al-Hafidz Ibn Hajar juga mengatakan hal yang serupa. Bahkan Syaikhul Islam Ibn Taimiyah dalam kitab al-Muntaqa menyebutkan bahwa ungkapan nabi “Apakah kamu sudah salat dua rakaat sebelum datang ke sini?” di atas adalah dalil yang menunjukkan bahwa salat yang diperintahkan Nabi tersebut adalah salat Jum’at, bukan Tahiyatul Masjid sebagaimana yang telah penulis jelaskan di atas.

  1. Hadis riwayat Muslim yang bersumber dari Abi Hurairah :
Baca Juga :  Salawat Nariyah Di Dalamnya Terdapat Doa

عن النبى صلى الله عليه وسلم قال “من اغتسل ثم أتى الجمعة فصلى ما قدر له ثم أنصت حتى يفرغ من خطبته ثم يصلى معه غفر له ما بينه وبين الجمعة الأخرى وفضل ثلاثة أيام”.

Dari Nabi SAW, berkata “Barangsiapa yang mandi kemudian mendatangi Jum’at, lalu ia salat semampuannya dan diam (mendengarkan khutbah) hingga selesai, kemudian ia lanjutkan dengan salat bersama Imam, maka ia akan diampuni (dosa-dosa yang dilakukannya) antara hari itu dan hari jum’at yang lain. Dan bahkan hingga lebih tiga hari.”

  1. Hadis riwayat Abu Daud yang berasal dari Nafi’ :

عن نافع قال كان ابن عمر يطيل الصلاة قبل الجمعة ويصلى بعدها ركعتين فى بيته ويحدث أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يفعل ذلك.

Dari Nafi’, berkata “Ibnu Umar biasa memanjangkan salatnya sebelum (salat) Jum’at, dan salat (sunah) setelahnya dua raka’at di rumahnya, dia mengatakan bahwa Rasulullah SAW juga melakukan yang demikian itu.”

Imam Syaukani menegaskan bahwa kedua hadis tersebut menjadi dasar kebolehan salat sunah qabliyah Jum’at.

  1. Hadis riwayat Muslim yang juga berasal dari Abi Hurairah :

عن أبى هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم “إذا صلى أحدكم الجمعة فليصل بعدها أربعا”.

Dari Abi Hurairah ia berkata “Rasulullah SAW bersabda “Jika salah seorang dari kalian telah menunaikan salat Jum’at, maka hendaklah ia salat empat raka’at setelahnya”.

  1. Hadis riwayat Tirmidzi yang berasal dari ibn Mas’ud :

عن عبد الله بن مسعود أنه كان يصلي قبل الجمعة أربعا وبعدها أربعا.

Dari Abdullah bin Mas’ud (disebutkan) bahwasanya dia selalu salat 4 rakaat sebelum dan sesudah salat Jum’at.

Dengan demikian, anggapan bid’ah untuk mereka yang melakukannya setiap hari Jum’at tidaklah berdasar sama sekali. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here