Hukum Salat Malam Hanya Pada Malam Jumat

0
308

BincangSyariah.Com – Hari Jumat adalah hari yang jatuh setelah hari kamis dan sebelemu hari sabtu. Dalam Islam, hari jumat memiliki nilai khusus yang istimewa. Dimana Allah memberikan beberapa keistimewaan yang tidak diberikan kepada umat-umat sebelumnya. Begitupun depan malam jumat, banyak amalan dan kebaikan yang sengaja dijadwalkan ketika malam jumat tiba.

Hari jumat disebut sebagai hari yang paling mulia diantara enam hari lainnya. Dalam sebuah hadis disebutkan:

سَيِّدُ الْأَيَّامِ عِنْدَ اللهِ يَوْمُ الْجُمُعَةِ وَهُوَ أَعْظَمُ مِنْ يَوْمِ النَّحَرِ وَيَوْمُ الْفِطْرِ

Rajanya hari di sisi Allah adalah hari Jumat. Ia lebih agung dari pada hari raya kurban dan hari raya Fitri

Dengan disebutnya sebagai rajanya hari, banyak orang yang sengaja melakukan amal soleh ketika hari jumat saja. Padahal hukum asalnya adalah sunnah untuk dilakukan kapan dan dimana saja. Misalnya salat malam. Salat malam (qiyamul lail) hadir sebagai amalan umat Islam tidak hanya dikhususkan pada malam jumat saja. Melainkan juga pada malam-malam lainnya. Lantas bagaimanakah hukum seseorang yang melakukan salat malam hanya malam jumat saja?

Merujuk pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, makruh hukumnya mengerjakan salat malam yang dikhusuan pada malam jumat saja. Tidak dianjurkan untuk mengkhusukan amalan saleh tanpa dengan adanya sebab yang pasti. Misalnya salat tarawih pada bulan Ramadan atau puasa senin  kamis saat hari senin dan kamis tiba. Dengan begitu alangkah baiknya jika salat malam kita istiqamahkan setiap malam pada waktunya, sebab mengkhususkan salat malam pada malam jum’at saja merupakan larangan dari Rasulullah.

Keterangan di atas berdasarkan hadis di bawah ini,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا تَخُصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنَ اللَّيَالِي، وَلَا تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنَ الْأَيَامِ، إِلَّا أَنْ يَكُونَ فِي صَومِ يَصُوْمُهُ أَحَدُكُمْ. – رواه مسلم

Baca Juga :  Lupa Mengucap Tatswib dalam Azan Subuh, Sahkah Azannya?

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw, beliau  bersabda: “Jangan kalian khususkan malam Jumat dari malam-malam lainnya dengan qiyamul lail (sholat malam) dan jangan kalian khususkan hari Jumat dengan puasa dari hari-hari lain kecuali bertepatan dengan puasa (lain semisal puasa nazar atau puasa yang sudah menjadi kebiasaan) yang dilakukan salah seorang dari kalian.” (HR. Muslim)

Untuk menghindari kemakruhan salat malam di malam jumat, maka kita bisa menambahkan salat malam pada malam sebelumnya atau sesudahnya. Sebagaimana penjelasan Ibn Hajar al-Haitami dalam Tuhfah al-Muhtaj,

يُكْرَهُ (تَخْصِيصُ لَيْلَةِ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ) أَيْ صَلَاةٍ لِلنَّهْيِ عَنْهُ فِي خَبَرِ مُسْلِمٍ. وَأُخِذَ مِنْهُ كَالْمَتْنِ زَوَالُ الْكَرَاهَةِ بِضَمِّ لَيْلَةٍ قَبْلَهَا أَوْ بَعْدَهَا

Dan makruh mengkhususkan malam Jumat dengan qiyam, maksudnya dengan salat, karena larangan yang dalam hadits Muslim. Dari situ sebagaimana kitab matan (Minhaj al-Abidin) dirumuskan hilangnya kemakruhan dengan menambahkan satu malam sebelumnya atau sesudahnya



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here